Ungkap Polemik Korupsi Di Ranah Kesehatan di Semnas AKK

ManunggalCybernews – Bertempat di Gedung Prof Soedarto Universitas Diponegoro (Undip), Forum Administrasi Kebijakan dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (AKK FKM) Undip mengadakan Seminar Nasional (Semnas) AKK 2014, Sabtu (7/6). (Rifqi/Manunggal)


Semnas yang dihadiri sekitar 500 peserta ini, menghadirkan lima pembicara. Kelima pembicara tersebut adalah HM Bambang Sulistomo Sip MSi (Staf Khusus Kemenkes RI Bidang Politik Kebijakan Kesehatan), Doni Mardiantono (Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Mayarakat Komisi Pemberantasan Korupsi), dr Marius Widjajarta SE (Ketua Umum Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia), Drs Edi Santosa SU (Pengamat Politik Undip), dan Dedi supratman SKM (Staf Ahli Komisi XI DPR RI) sebagai pembicara.

Pembicara pertama, Bambang Sulistomo, menggagas ketidakseimbangan layanan kesehatan kuratif dan preventif di Indonesia yang cenderung mengutamakan layanan kuratif.

“Hal tersebut berdampak besar dalam membangun masyarakat untuk berorientasi kuratif, sehingga mendorong tumbuhnya komersialisasi layanan kesehatan,” ujarnya menerangkan.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Doni Mardiantono. Dalam materinya, dia menyinggung fenomena regenerasi koruptor yang melibatkan suami-istri atau suami-istri dan anak.

“Hal itu menandaskan korupsi tidak dapat hanya diselesaikan dengan pendekatan hukum, tapi juga dengan pendekatan sosialbudaya, moral, dan politik,” katanya.

Usai Doni menyampaikan materinya, Marius Widjajarta, mengungkapkan sisi buruk pelayanan kesehatan. Salah satunya, Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Pemberlakuan BPJS belum dipikirkan secara matang. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui BPJS, belum ada buku pedoman BPJS, banyak kasus korban BPJS, dan munculnya calo BPJS. Padahal, BPJS berdalih sudah melakukan simulasi pelayanan,” katanya menerangkan.

Meski demikian, dia tidak memungkiri ada banyak manfaat positif dari BPJS.

Pembicara terakhir, Dedi supratman, menjelaskan mengenai upaya-upaya yang dilakukan DPR dalam penanggulangan korupsi di ranah kesehatan. “Mulailah dari sekarang, sebagai mahasiswa untuk tidak korupsi. Kalau bukan kita, siapa lagi?,” ujar Dedi dalam pemaparannya.

Peserta semnas, Anisa Maulidea Binita, mengatakan setelah mengikuti semnas ini, dia tahu, dana kesehatan yang dikorupsi sebenarnya banyak, tapi hanya sedikit yang terekspos.

“Seminar seperti ini seharusnya sering digalakan, agar bisa menjadi pembelajaran moral bagi peserta mengenai masalah korupsi di bidang kesehatan,” ujarnya. (Ririn/Manunggal)