Undip di Kala Wabah: Kebijakan Kulon hingga Polemik Subsidi Kuota

Suasana malam pada hari-hari biasa di sekitar Patung Diponegoro, Ngesrep (Foto: fiks.motret)

Joglo Pos, Edisi II Tahun 2020— Pandemi coronavirus desease (COVID-19) masih menjadi momok bagi warga di berbagai belahan dunia. Virus yang dapat dengan mudah menyebar ini cukup meresahkan masyarakat, tidak terkecuali mahasiswa yang merantau di kota-kota besar. Berbagai upaya telah pemerintah lakukan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, seperti mengeluarkan kebijakan kerja dari rumah, ibadah dari rumah dan belajar dari rumah.

Menindaklanjuti kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama mengeluarkan Surat Edaran No.20/UN.7.P/SE/2020, Sabtu (14/3) lalu. Surat tersebut berisi pemberitahuan bahwa kegiatan perkuliahan dan pembimbingan akan dilaksanakan dengan pola daring sampai akhir semester genap, atau dalam batas waktu tertentu dengan memperhatikan kondisi yang ada.

“Kuliah daring akan dilaksanakan hingga akhir semester 2019/2020, tetapi platform dan e-learning akan terus dipakai dalam modul pembelajaran di semester-semester selanjutnya,” jelas Prof. Budi Setiyono, Wakil Rektor I, Bidang Akademik dan Kemahasiswaan saat dihubungi awak LPM Manunggal via surel, Senin (6/4).

Dalam memudahkan pelaksanaan kuliah daring, pihak Undip membebaskan para dosen untuk menggunakan aplikasi apapun seperti Microsoft Teams, Zoom, maupun live streaming lewat aplikasi Instagram dan YouTube. “Pada perkuliahan semester ini masih kita bebaskan, aplikasi apa saja boleh digunakan. Pada semester depan, semua harus memakai aplikasi Kulon yang terintegrasi dengan SIAP,” tegas Prof. Budi.

Suka-duka Kuliah dalam Jaringan

Perkuliahan secara daring yang telah dilakukan hampir tiga minggu ini bukan tanpa kendala. Bahkan Prof. Budi mengaku jika dirinya menerima aduan mengenai masalah-masalah yang dihadapi ketika kuliah daring. “Cukup banyak, seperti biaya mahal, dosen yang belum familiar, bahan kuliah masih terbatas dan handphone mahasiswa tidak kompatibel,” jelasnya.

Selain itu Prof. Budi juga menambahkan berbagai kekurangan dalam perkuliahan ini, seperti kegiatan perkuliahan sangat bergantung pada jaringan, praktikum dan laboratorium yang tidak dapat dilakukan secara online, hingga penjelasan yang kurang komprehensif. “Kekurangannya, interaksi langsung tidak terjadi sehingga penjelasan mungkin kurang komprehensif, sangat bergantung pada jaringan dan media internet, learning outcomes lebih sulit tercapai, praktikum dan laboratorium tidak dapat digunakan secara online,” imbuhnya.

Ilustrasi kuliah online (sumber: shutterstock.com)

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Tim Data dan Informasi (DAI) LPM Manunggal mengenai “Efektifitas Kulon Undip”, terdapat 41% dari 235 responden merasa jika kuliah daring ini tidak efektif. Pada survei dengan margin of error 6% tersebut, responden memberikan alasan yang beragam. Ada yang merasa bahwa kuliah daring tidak kondusif, waktu jam kuliah berkurang banyak karena masalah teknis, hingga sebagian dosen tidak memberikan kuliah secara daring sama sekali dan hanya memberikan tugas dan presensi via WhatsApp.

Ahmad Jihan Fairuzzy, mahasiswa Fakultas Hukum pun merasa demikian. Ia merasa bahwa dalam kuliah daring ini lebih banyak tugas yang dibebankan daripada saat kuliah seperti biasa. Belum lagi tidak adanya fasilitas yang memadai terutama masalah jaringan internet. “Beban tugas semua menjadi online. Kalau didukung dengan fasilitas memadai untuk melaksanakan kuliah online sih masih oke. Tetapi tidak semua mahasiswa memiliki fasilitas yang mendukung pelaksanaan kuliah online, seperti laptop, sinyal dan lainnya,” tuturnya.

Di akhir wawancara yang kami lakukan via WhatsApp, Fairuz berharap agar perkuliahan dapat segera kembali seperti semula. “Saya harapkan kuliah dapat berjalan seperti biasa lagi yang saya rasa lebih optimal dan lebih efektif. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan wabah ini cepat tertangani,” imbuhnya.

Berbeda dengan Rukiyah, dosen Fakultas Ilmu Budaya. Beliau mengatakan bahwa tidak banyak kesulitan yang beliau alami selama hampir tiga minggu ini. Masalah utama hanya terletak pada jaringan internet dan kondisi mata yang cepat lelah. “Kadang-kadang sinyal internetnya yang kurang mendukung, dan dengan kuliah daring mata saya cepat capek karena harus di depan laptop terus. Kalau saya lebih senang kuliah offline (di kelas, red) karena tidak hanya duduk di depan laptop. Bisa jalan sana-sini, pindah dari ruang kelas yang satu ke ruang kelas yang lain, dari gedung yang satu ke gedung yang lain,” ungkapnya saat dihubungi awak LPM Manunggal, Rabu (7/4).

Di samping banyaknya kelemahan yang terdapat pada sistem ini, ditemukan pula 9% responden yang menyukai kuliah daring dengan alasan lebih praktis, waktu yang dikeluarkan lebih efisien, hemat uang transportasi, pelaksanaan kuliah lebih fleksibel, dan tidak melelahkan. Prof. Budi pun juga merasakan beberapa keuntungan dari kerja dan kuliah dari rumah. “Kelebihannya, (kegiatan perkuliahan, red) lebih efisien, tidak perlu ruang fisik, sebaran perkuliahan luas, dan transmisi penyakit tidak terjadi,” jelasnya.

Polemik Subsisdi Kuota Internet

Menindaklanjuti berbagai aduan mengenai mahalnya biaya kuota yang dikeluarkan untuk perkuliahan daring, Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama, kembali mengeluarkan Surat Edaran, Senin (23/3). Surat tersebut berisi Undip akan memberikan subsidi berupa pembelian kuota internet bagi mahasiswa Bidikmisi, UKT golongan I dan II sebesar Rp 50.000,00/bulan.

Prof. Budi Setiyono selaku Warek I membenarkan hal tersebut. “Kita memberikan subsidi pada kelompok yang paling membutuhkan, yakni mahasiswa yang memiliki UKT golongan 1, 2 dan bidik misi. Kelompok lain, kita asumsikan bisa mengalihkan biaya transport sehari-hari untuk membeli kuota internet. Mereka bisa mengalihkan biaya untuk bensin dan biaya ojek online yang biasanya mereka alokasikan untuk biaya kuota internet,” jelasnya.

Annisa Himmatul Aulia, mahasiswi penerima Bidikmisi dari Fakultas Kedokteran mengaku tidak menduga akan diberikan subsisdi oleh kampus. “Kalau misalnya lokasinya di tempat terpencil otomatis harus menggunakan kartu dengan jaringan yang bagus seperti Telkomsel dan lain sebagainya, dan untuk kartu tersebut itungan 50 ribu belum bisa menutup kebutuhan kuota. Tapi sejauh ini Alhamdulillah, bersyukur karena gak pernah nyangka kalau ada subsidi kuota,” ungkapnya.

Kendati demikian, subsidi kuota data tersebut juga menuai kontra. Sebanyak 51% responden tidak menyetujui kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut dirasa tidak adil karena dampak keadaan ini berakibat bagi seluruh mahasiswa, tidak hanya dari golongan tertentu saja. “Sebenarnya saya setuju. Hal itu sangat membantu bagi mahasiswa bidikmisi. Lalu bagaimana dengan yang non bidikmisi atau golongan UKT 3 keatas? Mahasiswa dengan golongan UKT 3 keatas belum tentu mampu dalam hal ini lho,” keluh salah satu responden.

Selain itu, pembayaran UKT penuh namun perkuliahan tidak dilakukan secara tatap muka membuat kebijakan tersebut makin dirasa tidak adil bagi sejumlah mahasiswa. “Hanya karena kami berada digolongan atas, dan membayar UKT lebih bukan berarti kami terfasilitasi internet dengan baik. Saya sudah habis 100 ribu dalam seminggu hanya untuk kuliah online, berapa banyak lagi yang harus saya keluarkan? Kami kuliah baru genap sebulan, kemana uang UKT kami mengalir? Gedung tidak kami pakai, wifi tidak kami pakai, listrik juga, kenapa tidak ada pengembalian UKT?” protes salah satu responden.

Kerjasama Undip dengan provider

Di sisi lain, pihak Undip juga bekerja sama dengan provider IM3 dan Telkomsel untuk memberikan keringanan dalam melaksanakan kuliah daring. Mita Purbaningrum sebagai salah satu pengguna IM3 merasa sedikit terbantu dengan adanya free access dari provider tersebut.

“Saya merasa sedikit terbantu dengan adanya kuota gratis 30 GB. Tetapi saya merasa terlalu banyak, karena ketika saya perhatikan, kuota itu akan berkurang hanya beberapa megabyte dalam sehari. Mubadzir, apalagi kita hanya memakai untuk Microsoft Teams. Saya juga mendengar keluhan dari beberapa teman-teman saya jika kuota yang berkurang justru malah kuota utama mereka,” tutur Mita.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Budi menjelaskan jika kerja sama dengan provider IM3 dan Telkomsel memang hanya dapat digunakan untuk mengakses Kulon. “Ya, kita (Undip, red) bekerja sama dengan provider tersebut (IM3 dan Telkomsel, red) untuk mengakses Kulon secara gratis. Aplikasi di luar Kulon tetap membayar kuota internet”.

Berkaca dari hal itu Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama kembali mengeluarkan Surat Edaran No.23/UN.7.P/SE/2020 tentang Proses Belajar Mengajar Saat Pandemi COVID-19, Senin (30/3). Surat tersebut berisi instruksi bagi dosen guna memfasilitasi mahasiswa untuk presensi perkuliahan dan penyediaan materi, pelaksanaan kuliah online dalam bentuk video streaming interaktif hanya boleh dilakukan selama 15 menit selama perkuliahan berlangsung (kecuali atas persetujuan seluruh peserta perkuliahan), dan dosen dalam memberikan tugas perkuliahan harus mempertimbangkan proporsionalitas serta learning outcome.

Prof. Budi juga berpesan kepada mahasiswa Undip agar mengambil pelajaran dari peristiwa pandemi COVID-19 ini. “Gunakan fenomena yang sedang kita alami untuk pembelajaran hidup, selalu ada hikmah di balik peristiwa, biasakan diri belajar dengan e-learning dan manfaatkan sumber-sumber pembelajaran online semaksimal mungkin, tetap semangat dan jaga kesehatan,” tutupnya.

Reporter: Aslamatur Rizqiyah
Penulis: Aslamatur Rizqiyah
Editor: Winda N, Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *