Turun ke Jalan, Mahasiswa Suarakan Dukungan untuk Masyarakat Rembang

IMG_20150408_111353

Massa yang berdemonstrasi di depan PTUN Semarang pada Kamis (2/4) melakukan aksi teatrikal sebagai wujud penolakan penambangan di daerah Rembang oleh PT Semen Indonesia. (Astrid/Manunggal)

ManunggalCybernews—Masyarakat Rembang dan Aliansi Mahasiswa Semarang dan Jogja, yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK), Kamis (2/4) berdemonstrasi di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Mereka meminta majelis hakim untuk bisa adil dalam memutuskan gugatan yang berpihak pada kelestarian lingkungan warga Rembang terhadap PT Semen Indonesia dan Gubernur Jawa Tengah.

Masyarakat asli Pegunungan Kendeng, Rembang, yang juga merupakan koordinator aksi, Marno mengatakan, aksi ini akan terus berjalan dan semakin besar sampai tuntutan dipenuhi.

“Bukan hanya undang-undang yang dilanggar, namun kelestarian alam dan nasib para buruh tani di sana pun tidak dipikirkan. Kondisi di Rembang saat ini semakin memprihatinkan, ibu-ibu yang mendirikan tenda sudah sekitar sepuluh bulan dipersulit untuk akses suplai makanannya, proyek-proyekpun dijaga Brimob,” ujar Marno.

Bersama masyarakat Rembang yang mayoritas buruh tani, mahasiswa Unnes, UIN Walisongo, Unwahas, Upgris, Undip, dan Aliansi Mahasiswa Jogja, memulai demonstrasi dengan longmarch dari museum Ronggowarsito menuju PTUN Semarang. Selain menuntut pemberhentian proses penambangan, mereka melakukan aksi teatrikal yang mengisahkan penindasan dari kaum kapitalis kepada pribumi.

“Pengeksploitasian lingkungan dan sumber daya alam sudah dilakukan membabi buta tanpa melihat dampak AMDAL. Saya kira kalau ibu-ibu sudah ratusan hari ada di tenda-tenda, memperjuangkan aspirasi warga Rembang, itu sudah dipikir matang-matang dan benar. Karena memang kalau kita lihat, banyak dampak atas dibangunnya pabrik semen ini. Juga ini karena ketika warga ingin rembug dengan orang-orang yang memiliki kepentingan di pabrik semen tidak pernah didengar. Ketika memang saran tidak didengar, kritik dibungkam, maka ada satu kata, lawan,” ujar salah satu mahasiswa Unnes.

Meskipun didominasi demonstran yang kontra terhadap PT Semen Indonesia, ada pula kubu yang pro terhadap perusahaan tersebut. Mereka mengaku bahwa mereka adalah warga asli Rembang. Menurut mereka, pabrik semen di sana dapat mengurangi angka pengangguran, dan mengganti lahan dengan pekerjaan lain yang lebih baik. (Irzal, Astrid/Manunggal)