Tubuh yang Kuat (dan) Pikiran yang Sehat

(Dok. Istimewa)

Mens sana in corpore sano

“Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat,” begitu maknanya. Benarkah?

Sejak Presiden Sukarno bertekad menjadikan Indonesia sebagai the big ten negara terunggul dalam bidang olahraga, pepatah latin tersebut kian sering terdengar. Dikutip dari Tempo.co, mens sana in corpore sano mempunyai makna kurang lebih “pikiran yang sehat ada di dalam tubuh yang sehat”. Tak ayal memang, jika akhirnya diidentikkan sebagai semboyan olahraga.

Olahraga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan (KBBI daring) Kemendikbud bermakna gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh (seperti sepak bola, berenang, lempar lembing)─Tentu masih banyak definisi olahraga menurut para ahli dan sumber lain yang bila dibahas akan beda lagi ceritanya─Kalau boleh menggeneralisasi, intinya olahraga bertujuan membuat tubuh kita sehat, ya kan?

Seberapa pentingkah olahraga?

Jawabannya bergantung diri kita sendiri. Mau menganggapnya penting atau tidak.

Bila melihat sikap negara, olahraga mungkin dianggap salah satu hal penting. Negara menetapkan  Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September. Haornas dicetuskan sebagai peringatan diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional pertama kali tahun 1948. Saya rasa, kala itu negara sudah benar-benar mengidamkan masyarakat yang sehat secara raga maupun jiwa.

Menilik ke dalam kampus sendiri, rupa-rupanya juga ada sejumlah program yang memang berkaitan dengan peningkatan kesehatan. Menurut saya, di antaranya ada senam bersama setiap Jumat pagi, pengadaan sepeda, dan adanya materi Senam Kesehatan Jasmani (SKJ) di mata kuliah olahraga. Menengok ke belakang, SKJ awalnya menjadi bagian dari kampanye masa pemerintahan Orde Baru. Lagi-lagi negara kita ingin masyarakatnya sehat. Mungkin visi negara ini kemudian menginspirasi kampus agar sivitas-nya juga punya jiwa raga yang sehat. Ah, semoga.

Selain itu, kegiatan olahraga yang diselenggarakan mahasiswa pun beragam. Mulai dari kompetisi olahraga di tingkat jurusan, fakultas, sampai di tingkat universitas. Belum lagi dengan jumlah unit kegiatan mahasiswa di bidang olahraga yang juga tidak hanya satu-dua.

Semua bentuk kegiatan di atas seolah memunculkan harapan. Kita bisa berharap program-program olahraga yang diselenggarakan kampus bukan sekadar program, tapi sebagai realisasi harapan untuk membuat masyarakat kampus yang sehat secara raga maupun pikiran.

Kalau begitu, lantas kita tinggal berdoa, meng-amin-kan harapan sebagaimana yang tersirat dalam mens sana in corpore sano: agar pikiran-pikiran yang ada dalam kampus ini juga sehat, toh raga-raga dalam kampus ini juga sudah sering diajak berolahraga.

Pikiran yang sehat ada di dalam tubuh yang sehat. Lihat saja program olahraganya, UKM olahraganya, dan kompetisi-kompetisi olahraga yang sudah banyak digelar. Jadi tak terelak lagi kalau di dalam kampus ini terdapat pikiran-pikiran yang sehat, kan?

Semoga. Baik dalam membuat kebijakan atau pun menjalankan kewajiban masing-masing sebagai pelaksana pendidikan.

Selamat tanggal 9 September! Yang jelas, tak harus menunggu tanggal sembilan di bulan sembilan untuk berolahraga, kan?

Gina Mardani

Mahasiswa Departemen Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya