Tim PKM Undip Teliti Selulosa Sabut Kelapa untuk Kurangi Pencemaran Air

(Dok. Istimewa)

(Dok. Istimewa)

ManunggalCybernews–Pohon kelapa dikatakan sebagai pohon kehidupan, karena setiap bagiannya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Salah satu bagiannya adalah sabut kelapa yang biasa digunakan sebagai pengganti kayu bakar oleh masyakakat pada umumnya. Pemanfaatan sabut kelapa yang tidak maksimal mengakibatkan penumpukan limbah sabut kelapa di kota Semarang dengan produksi pohon kelapa yang tinggi.

Melihat kondisi lingkungan daerah kota Semarang yang sudah banyak tercemar, terlebih pada pencemaran air sungai menjadi latar belakang pembuatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang bernama IMAKULATA (Inovasi Membran Nano Alpha Dasar Sabut Kelapa sebagai Membran Selektif pada Proses Pemurnian Air). Tim dari jurusan Teknik Kimia yang beranggotakan Radinal Yogie Nurcahyo, Afiten Rahmin Sanjaya, Diki Prabowo Atan, Galih Aditya Mahendra Putra, dan Wini Fitriana ini membuat penelitian tentang pemanfaatan limbah sabut kelapa.

Salah satu anggota tim, Afiten menjelaskan bahwa sabut kelapa memiliki manfaat yang lebih. “Ide awal membuat PKM, di dekat rumah salah satu anggota di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang banyak sampah sabut kelapa, kemudian mencari kegunaan sabut kelapa itu yang ternyata ada kandungan selulosanya,” jelas Afiten.

Lebih lanjut, Afiten menuturkan selulosa yang diperoleh dari sabut kelapa dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengurangi pencemaran air. “Solusi pemurnian air ini kita ciptakan dengan air membran yang terbuat dari selulosa asetat, diawali dengan hidrolisis, bleaching, sehingga didapat serbuk selulosa asetat berwarna putih kemudian direaksikan dengan PEG dan kitosan kemudian terciptalah membran selulosa asetat,” jelas Afiten.

Menurut Afiten, pencemaran air oleh limbah industri awalnya diatasi dengan penambahan tawas, namun hal tersebut semakin menambah jumlah logam alumunium di dalam air. “Air tersebut kemudian didistribusikan oleh PDAM yang terbukti mengandung logam timbal. Uji membran dalam penelitian PKM tersebut berhasil menurunkan 6,8mg/L timbal dan 42,78 mg/L Alumunium. Penurunan konsentrasi di uji dengan metode AAS sehingga dapat disimpulkan membran kami dapat menjernihkan air,” lanjut Afiten.

Mengenai kompetisi Pimnas 30 di Makassar yang mereka ikuti, Radinal dan tim mengharapkan agar di Pimnas tahun ini dapat membawa pulang medali emas. “Kalau harapan ke depan karena sudah masuk pimnas dan mendapat pelajaran maka kami ingin bisa mengulang lagi kejayaan medali emas di 2014 jangka panjang untuk kompetesi internasional,” ungkap Diki. (Lia, Nanik/Manunggal)