Tim PKM-P Undip Ciptakan Pupuk Peningkat Produktivitas Cabai

(Dok. Istimewa)

ManunggalCybernews—Cabai merupakan salah satu komoditas pertanian yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Namun saat ini, salah satu bahan pokok di dalam masakan tersebut mengalami fluktuasi harga. Menurunnya produktivitas tanaman cabai karena lahan kurang produktif bisa menjadi pemicu naik-turunnya harga tersebut. Ini lah yang membuat Varida Risma Wati beserta keempat rekannya tertarik mengangkat tema tersebut dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P).

“Karena di Indonesia banyak lahan pertanian yang beralih menjadi industri, perumahan, mengakibatkan dampak pada lahan menjadi kurang produktif. Makanya kami memberikan upaya untuk meningkatkan produksi cabai dengan memanfaatkan lahan yang kurang produktif,” jelas Varida. Dalam program ini Varida dibantu oleh keempat mahasiswa jurusan Agroekoteknologi 2014 lainnya, yaitu Widi Dwi Noviandi, Afifah Kuscahyanti, Rizal Try Nofiyanto, dan Shafyra Rizky Setiawati.

Produk yang dihasilkan oleh Varida bersama timnya berupa pupuk berbentuk pelet yang mereka namakan Pellet MOS. “Dinamakan Pellet MOS karena bentuknya pelet. MOS itu singkatan dari Methylobacterium Soil Sustainable,” ujar Varida. Dalam keterangannya, Varida melanjutkan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk tersebut adalah bahan organik seperti kotoran sapi, batuan mineral zeolit, bakteri Methylobacterium, gulma air atau Lemna minor.

Seperti yang diketahui, kotoran sapi merupakan pupuk alami yang ramah lingkungan serta kandungan unsur hara yang tinggi. Sementara batuan mineral zeolit berfungsi menetralkan pH tanah yang kurang subur atau disebut tanah latosol. Kemudian gulma air berperan sebagai campuran pupuk yang mengandung unsur hara Nitrogen (N) yang tinggi.

Varida mengaku, terdapat serangkaian proses yang diperlukan untuk mendapatkan bakteri Methylobacterium. “Untuk bakteri ini sendiri didapatkan dari daun-daunan seperti daun selada, daun kemangi, daun rambutan dan daun nangka. Daun yang diseleksi pun harus yang masih muda. Tahap seleksinya seperti pertama mengisolasi bakteri Methylobacterium itu sejak peluruhan mikroba. Setelah itu bakteri yang didapat dilihat di cawan petri lalu diidentifikasi kemudian diperbanyak,” jelas Varida.

Setelah berhasil diuji coba, lanjut Varida, pupuk Pellet MOS mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. “Untuk daya perkecambahnya sendiri kami berhasil meningkatkan daya kecambah tanaman cabai sebesar 14%.  Biasanya cabai akan berkecambah minimal 15-30 hari namun dengan Pellet MOS dalam waktu 7 hari sudah bisa berkecambah,” terangnya. Sementara dari segi produksinya sendiri, Varida menuturkan adanya peningkatan sebesar 3-9% dan pertumbuhan tinggi tanaman cabai diperoleh 50-60%.

Selain itu, uji coba Pellet MOS yang dilakukan di Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Ungaran, Semarang oleh Varida beserta timnya juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. “Jadi dalam pengaplikasian pupuk Pellet MOS ini, kami melakukan analisis sebelum dan sesudah penelitian. Sebelum penelitian kami belum memberikan perlakuan pupuk. Setelah pemberian pupuk, tanah diuji kembali dan ternyata unsur hara yang terkandung pada tanah meningkat,” ungkap Varida. Tidak hanya berlaku pada tanaman cabai saja, Pellet MOS ini juga berfungsi pada semua tanaman hortikultura seperti sayur-sayuran.

Menurut Varida, salah satu indikator yang menjadi nilai lebih Pellet MOS adalah pupuk ini memiliki potensi yang besar di masa depan. “Kemungkinan besar pupuk ini berpotensi di masa depan. Mungkin dari segi kreatifitas itu yang membuat tim PKM ini lolos,” ungkapnya. (Amalia, Ulfa/Manunggal)