Tim PBL 13 FKM Siapkan Calon Ibu dan Suami Siap Siaga

Peserta berfoto di stand photobooth yang disediakan Tim PBL 13. Stand photobooth ini dibuat untuk menarik perhatian para remaja yang gemar menguggah segala sesuatu ke media sosial (Dok. Pribadi).

Peserta berfoto di stand photobooth yang disediakan Tim PBL 13. Stand photobooth ini dibuat untuk menarik perhatian para remaja yang gemar menguggah segala sesuatu ke media sosial (Dok. Pribadi).

ManunggalCybernews – Tim Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) 13 Jurusan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip menggagas sebuah inovasi yang mengedukasi remaja putri untuk lebih peduli terhadap masalah kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan kehamilan dan remaja putra untuk menjadi suami yang siap siaga saat menghadapi kehamilan dan persalinan pasangannya.

Adapun, kegiatan tersebut diadakan pada Minggu (22/11) di Posyandu RW 12 Keluarahan Padangsari. Inovasi yang mereka namai dengan MAKE UP ini berawal dari minimnya pemahaman remaja perempuan terhadap pentingnya menjaga kesehatan yang berdampak pada proses kehamilan di masa mendatang.

Charisa Mahda, salah satu anggota tim, mengatakan kegiatan ini dikemas dengan metode klasik dan modern. Secara klasik, metode ini disampaikan melalui penyuluhan yang membahas tentang Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan Calon Suami Siaga (CSS).

“Penyuluhan dikemas dengan pemaparan materi dan penampilan video, tetapi setelah itu para remaja diberikan kesempatan untuk mengeksplore materi yang mereka peroleh dengan membuat karya Wall Magazine dan drama berdasarkan kasus,” ujar Charisa dalam rilis yang dikutip Selasa (24/11).

Melalui karya tersebut, lanjut Charisa, para peserta akan mengingat kembali apa yang sudah mereka dapatkan dari materi yang disampaikan melalui penyuluhan.

Selain membuat Wall Magazine, para peserta juga ikut mempraktekan materi melalui drama. Adapun, Tim PBL 13 menyediakan tiga kasus yang akan dimainkan dalam drama oleh para peserta.

Charisa mengatakan melalui drama tersebut peserta laki-laki dapat memainkan peran ketika mencari calon istri dengan memperhatikan kriteria perempuan sehat seperti yang sudah disampaikan dalam materi penyuluhan. Sebaliknya, peserta perempuan juga dapat memainkan peran sebagai perempuan yang sedang mengandung dan ditinggal suaminya bekerja di tempat yang jauh.

“Untuk menjaga kesehatan dan keselamatannya, calon ibu tersebut memeriksakan ke puskesmas untuk mendapatkan info kesehatan dan info mengenai kelas ibu hamil dari kader, serta bagaimana berperan menjadi seorang suami yang siaga menjaga istri hingga kelahiran,” imbuhnya.

Sebagai juri dalam rangkaian kegiatan tersebut, Tim PBL 13 mengundang para tokoh masyarakat RW 12 dan Petugas Surveilans Kesehatan (Gasurkes) Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk menentukan tiga juara.

Meski tampak malu-malu, kata Charisa, peserta dapat bermain drama dengan baik. “Dari tiga kasus yang diberikan, mereka dapat melakukan drama dengan sangat baik walaupun sedikit malu-malu.” (Klaudia/Manunggal)