Tim KKN Undip Kenalkan Gaya Belajar Berbasis Lingkungan

Anak-anak Desa Sidorekso berlomba-lomba menjawab pertanyaan dari Tim KKN Undip saat materi Public Speaking pada Senin (3/8) di Balai Desa Sidorekso. (Klaudia/Manunggal)

Anak-anak Desa Sidorekso berlomba-lomba menjawab pertanyaan dari Tim KKN Undip saat materi Public Speaking pada Senin (3/8) di Balai Desa Sidorekso. (Dok. Pribadi)

ManunggalCybernews—Memasuki semester enam, mahasiswa Undip yang sudah memenuhi syarat Sistem Kredit Semester (SKS) diperkenankan untuk mengambil Kuliah Kerja Nyata (KKN). Berbagai macam program kerja yang meliputi program kerja monodisiplin dan multidisiplin pun dirancang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat di daerah di mana mahasiswa KKN ditempatkan.

Salah satu program multidisiplin yang diselenggarakan oleh Tim II KKN Undip 2015 di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus adalah program kerja Ecodupark. Program ini merupakan program Taman Baca Berbasis Lingkungan yang ditujukan kepada anak-anak di Desa Sidorekso. Adapun tim tersebut meliputi mahasiswa yang berasal dari jurusan yang berbeda-beda, yakni Irfan Ramdhany & Lea Prastika (Administrasi Publik), Kunti Nuron Nabila (Administrasi Bisnis), Klaudia Molasiarani (Ilmu Komunikasi), Mizanul Haq (Teknik Elektro), Ratna Suminar & Ilmi Titis (Perikanan), dan Nurul Maulida & Heri Kiswanto (Ilmu Kelautan).

Dengan adanya jurusan/program studi yang berbeda-beda tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menyatukan pemikiran berdasarkan bidang keilmuannya untuk membentuk program kerja multidisiplin. Hingga akhirnya, terbentuklah salah satu program multidisiplin Tim II KKN Undip 2015 di Desa Sidorekso, yakni program kerja Ecodupark.

Koordinator Desa Sidorekso, Irfan Ramdhany mengatakan, anak-anak membutuhkan suasana belajar baru di luar kelas, sehingga konsep Ecodupark pun dibuat di lingkungan desa yang bertempat di Balai Desa Sidorekso. “Karena selama ini anak-anak hanya belajar di dalam kelas, sehingga mereka membutuhkan suasana baru di luar kelas. Harapannya, anak-anak di Desa Sidorekso dapat menambah wawasan pengetahuan umum, peduli lingkugan sekitar, dan menambah soft skill mereka tentang tujuh pilar materi yang diberikan oleh Tim KKN Undip kepada anak-anak Desa Sidorekso tersebut,” ujarnya

Selama satu minggu, Ecodupark diselenggarakan, mulai dari pengumpulan buku bacaan oleh masyarakat Kudus dalam acara Car Free Day, Minggu (2/8) di Alun-alun Kudus sampai berlangsungnya rangkaian kegiatan pada Senin-Sabtu (3-8/8) setiap sore di Balai Desa Sidorekso. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi tujuh pilar, yakni pelatihan Public Speaking, Game Edukatif, Anti Merokok, Hasta Karya, Gizi Seimbang, Pendidikan Lingkungan, dan Perilaku Hidup Bersih & Sehat. Semua pilar tersebut dikemas dalam rangkaian acara dengan konsep yang berbeda-beda, seperti permainan, menonton video, mewarnai gambar, berbicara di depan teman-teman, bernyanyi, hingga praktik.

Berbagai respons dari anak-anak Desa Sidorekso bermunculan ketika mengikuti acara Ecodupark pada hari pertama, yakni pelatihan public speaking. Beberapa anak ada yang mengikutinya dengan serius dan aktif menjawab, tetapi ada juga sekelompok anak yang suka ramai sendiri mencari perhatian ketika kakak-kakak Tim KKN memberikan pemaparan materi public speaking tentang cita-cita di depan mereka.

Sebagai salah satu bagian dari serangkaian acara Ecodupark, materi public speaking diberikan untuk mengasah keberanian anak-anak agar berani berbicara di depan umum. Tema lingkungan sendiri diberikan agar anak-anak pun memahami bahwa belajar tidak hanya dilakukan di dalam kelas, melainkan di lingkungan tempat mereka bermain dan berinteraksi dengan sesama.

Salah satu peserta Ecodupark, Fadia Putri Rachmawati mengungkapkan rasa senangnya setelah mengikuti rangkaian acara Ecodupark. “Aku suka banget (acaranya) karena seru. Hal senada juga disampaikan oleh Zshazsha Mallina yang mengatakan bahwa kegiatan Ecodupark sangat seru, akan tetapi dia sangat menyayangkan kurangnya persiapan Tim KKN saat akan menyampaikan materi dengan menampilkan tayangan video. “Saat nonton video enggak kelihatan, soalnya langsung nonton di laptop,” ujarnya. Meski demikian, mereka berharap agar kegiatan Ecodupark tidak sekadar bermain sambil belajar, melainkan juga memberikan tambahan pelajaran dengan membimbing mereka dalam mengerjakan tugas sekolah. (Klaudia/Manunggal)