Tetap Kreatif, Mahasiswa Undip Melawan dengan Karya

Potret pementasan teatrikal oleh Teater Emka dan seni mural oleh Rhaka tepat dibelakangnya, Kamis (16/7). (Foto: Manunggal)

Warta Utama— Polemik Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang ramai akhir-akhir ini membuat mahasiswa Undip kembali bersuara. Kamis (16/7) tepatnya di Depan Bundaran Undip, aksi yang mulanya akan digelar di Taman Inspirasi, dengan berat hati harus dialihkan setelah ditolak masuk oleh pihak kampus. Gelombang protes atas UKT yang diinisiasi oleh Aliansi Suara Undip (ASU) ini dilakukan dengan damai dan tetap memperhatikan protokol kesehatan, serta bertemakan festival.

Selama aksi tersebut, massa melakukan beberapa pertunjukan seperti bernyanyi bersama, musikalisasi puisi, dan juga turut menghadirkan pembuatan seni mural oleh Rakha Surya Reformas, salah satu mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

“Aku  terpanggil buat aksi bukan karena ikut-ikutan ya, tapi karena aku ngerasa ini itu isu sama-sama. Jadi, aku pikir dengan aku mencurahkan sesuatu yang aku bisalah akhirnya aku gabung dan mural,” ujar Rakha yang masi menggunakan bantuan tongkat untuk berdiri pasca kecelakaan ketika ditemui tim LPM Manunggal.

Rakha menjelaskan bahwa karya yang dibuatnya merepresentasikan sila ketiga persatuan Indonesia yang dilambangkan dengan pohon beringin. Rencananya ia juga akan menggambar penggundulan hutan, namun karena keterbatasan waktu akhirnya hanya sampai gambar pohon beringinnya saja.

“Kita cuma bisa bersatu dengan kesempatan ini. Ini mahasiswa ngangkat nih nyelametin satu pohon beringin ini. Jadi, selain ngangkat isu sosial penggundulan hutan aku juga ngangkat soal inilah aksi ini kita jangan sampe ngga bisa bersatu gituloh” tambah Rakha.

Selain mural, aksi ini ditutup dengan teatrikal yang dibawa oleh Teater Emka. Dalam pementasan tersebut mereka membawakan naskah yang  berjudul “Dengarkan”, dengan mengambil sudut pandang sebagai mahasiswa.

“Dari pertunjukan itu kami pingin bilang kalau nggak semua mahasiswa orang tuanya mampu, jadi ya memang kebijakan penurunan UKT benar-benar kita butuhkan apalagi dampak Covid sekarang kan banyak ya. Banyak orang tua yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan bermasalah dengan pekerjaannya” jelas Ainaya Safira selaku sutradara treatikal “Dengarkan”. Ia dan timnya juga menyayangkan sikap yang ditunjukkan oleh pihak kampus dan polisi yang berjaga saat aksi.

“Yang bener-bener aku sayangkan juga ini kan banyak polisi ya. Bahkan polisi ngga tau kenapa sih pada demo. Emang yang kalian resahkan itu apa malah nanya gitu,” ungkap Indah, salah satu tim dari Teater Emka.

Baik pertunjukan mural ataupun teatrikal yang ditampilkan, mereka sepakat menaruh harapan agar suaranya didengar oleh pihak kampus dan segera memberikan jawaban.

“Aku harap suara dari kita sebagai mahasiswa bisa tersampaikan dengan baik ke petinggi universitas. Jangan sampe masuk kuping kiri, keluar kuping kanan gitu ya. Dan kalau pembagian pembantuannya itu berdasarkan golongan UKT jangan sampai salah bidik gitulo. Jadi, aku harap akan ada transparansi dari universitas,” tutup Rakha di akhir wawancara.

Reporter: Sofatun, Dyah Satiti

Penulis: Dyah Satiti

Editor: Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *