Temukan Metode Tepat Kurangi Jumlah Anak Jalanan di Semarang

Salah satu suasana mengajar dalam program dynamic learning, kepada anak-anak jalanan. (Dok. Pribadi)

Salah satu suasana mengajar dalam program dynamic learning, kepada anak-anak jalanan. (Dok. Pribadi)

ManunggalCybernews – Fenomena terlantarnya anak jalanan yang mudah ditemui di beberapa titik Kota Semarang jumlahnya kian bertambah seiring waktu. Keprihatinan tersebut memunculkan gagasan yang dicetuskan oleh empat mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), dua mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, satu mahasiswa Jurusan Sejarah, dan satu mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintaha, untuk membuat Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) dynamic learning.

Awalnya, Dewi dan Meriza mengamati kondisi sosial anak jalanan di Kota Semarang yang berpusat di satu pemukiman di kawasan Gunung Berintik. Mereka menemukan bahwa proses penurunan budaya anak jalanan berasal dari dorongan orang tuanya. Oleh karena itu, dalam dynamic learning ini mereka tidak hanya melatih anak jalanan, tetapi juga membekali para orang tuanya.

Melalui kegiatan ini, mereka berharap dapat mengurangi jumlah anak jalanan, sehingga orang tua yang sudah mendapatkan pelatihan dan mempunyai keahlian yang menghasilkan, mereka tidak menyuruh anaknya untuk turun ke jalan lagi.

Tidak sekadar itu, tim PKM-M yang terdiri dari Dewi, Meriza, Sibghatullah, dan Aulia Fachrudin ini berharap agar setelah keluar dari jalanan, mereka tetap bisa menjalin hubungan baik dengan masyarakat. Tim pun lantas membuat kurikulum yang dapat membekali anak serta tuanya agar dapat bermasyarakat dengan baik dan tidak kembali lagi ke jalan.

Adapun, kurikulum yang dibuat mempunyai dasar lima pilar, yakni keimanan atau agama, teknologi, kewirausahaan, motivasi, dan nasionalisme.

“Semua dasar yang kita jadikan pegangan ini merupakan hasil observasi dari apa yang sebenarnya mereka butuhkan untuk bisa produktif di masyarakat,” ujar Dewi.

Pelaksanaan program ini dibantu oleh sukarelawan yang senang dengan kegiatan sosial. Adapun, pengajar di tempat itu memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, mulai dari SMA hingga professional yang mengajar ibu-ibu membuat dan memasarkan kue.

Meski tampak menyenangkan, beberapa kesulitan pun tak jarang mereka temukan. “Tantangan terberat kita ialah mengatur dan mengajari anak-anak, karena mereka masih sangat suka main di jalan, sehingga sulit mencuri waktu unuk bersama,” kata Meriza.

Total anak jalanan yang diajar berjumlah 30 orang tersebar di beberapa titik di Kota Semarang. “Harapannya sih model pengajaran dynamic learning kita dapat diaplikasikan di banyak tempat di Indonesia. Sehingga, pengurangan jumlah anak jalanan bisa signifikan,” tutup Dewi. (Irzal/Manunggal)