SpongeBob’s Last Stand: Alternatif Sadari Konflik Lingkungan Hidup Sejak Dini

Ilustrasi kartun Spongebob’s Last Stand. (Sumber : spongebob.fandom.com)

SpongeBob Squarepants, siapa coba yang ngga tahu serial kartun satu ini? Saya yakin hampir dari semua pembaca tahu serial yang berplot pada kehidupan Si Spons Bercelana Kotak dan masyarakat Kota Bikini Bottom itu. Meskipun begitu, saya juga tidak mengamini bahwa serial ini disukai setiap orang, namun paling tidak hampir semua kalangan mengetahuinya.
Ya, kalian tidak salah. Kali ini saya akan mengulas salah satu episode dari kartun tersebut, yang memiliki judul ‘SpongeBob’s Last Stand’. Judul yang rilis pada 22 Maret 2010 itu, termasuk ke dalam season ketujuh dan episode ke-134 serial SpongeBob Squarepants.

Sinopsis

Cerita bermula di suatu hari, saat SpongeBob dan Patrick sedang berburu ubur-ubur. Mereka berdua dikejutkan oleh baliho besar berisi pengumuman tentang rencana pembangunan Jalan Raya Super Shally. Pembangunan yang direncanakan akan melewati ladang ubur-ubur tersebut tentu membuat SpongeBob gusar. Pasalnya itu dapat mengganggu habitat alami dari ubur-ubur.

Dari situ SpongeBob dan Patrick meminta bantuan Tuan Krab dan bahkan berunjuk rasa di kota agar mendapatkan dukungan untuk mencegah pembangunan jalan raya tersebut. Namun cukup menyedihkan, warga Kota Bikini Bottom lebih memilih pembangunan tersebut tetap dilangsungkan. Bahkan SpongeBob dan Patrick yang berunjuk rasa justru ditangkap oleh polisi dengan tuduhan yang dibuat-buat.

Singkat cerita Jalan Raya Super Shally berhasil dibangun. Tuan Krab kehilangan pelanggan Krusty Krab karena jalan raya tersebut tidak menyediakan akses ke restorannya. Ladang ubur-ubur pun tandus dan berganti menjadi aspal.

Kemudian hal yang tidak terduga terjadi, ubur-ubur yang kehilangan habitatnya datang ke Kota Bikini Bottom. Mereka menyerang pemilik proyek jalan raya, yang tidak lain adalah Plankton. Ubur-ubur juga membuat kekacauan di kota sebagai balasan dari hilangnya habitat mereka karena pembangunan jalan raya.

Review Singkat

Bagi saya, sebagai salah satu penggemar SpongeBob, sudah tidak kaget dengan plot dan lelucon yang seringkali mengangkat isu terkini; baik sosial, psikologi, ekologi bahkan gender. Tak terkecuali episode ‘SpongeBob’s Last Stand’ ini. Episode yang ditulis oleh Aaron Spinger, Steven Banks, dan Derek Iversen ini memang menjadi bagian dari perayaan Hari Bumi 2010 oleh Nickelodeon. Salut sih!

Bagaimana tidak? Di tengah maraknya penggundulan hutan, pembukaan tambang-tambang baru, dan berbagai eksploitasi lingkungan lainnya, Nickelodeon justru mengampanyekan Hari Bumi dengan episode bertemakan lingkungan hidup. Dan melalui tayangan kartun, siapa sih yang merasa berat nonton kartun?, membuat pesan ini menjadi lebih mudah diterima oleh segala kalangan, bahkan dapat menjadi pembelajaran tersirat bagi anak-anak.

Plotnya yang menarik dan sederhana, membuat menontonnya tidak bosan bahkan jika diulang kembali. Selain itu, konflik antar Tuan Krab dan Plankton pun kini tidak hanya berkutat pada perebutan resep rahasia Krabby Patty saja. Pada beberapa bagian kita juga disajikan dialog yang seakan mengandung pesan moral, meskipun bagi sebagian orang pesan yang eksplisit dirasa mengganggu.

Nuansa Kritik yang Masih Relevan Hingga Kini

Ini kebetulan atau bagaimana ya? Sebenarnya beberapa minggu yang lalu saya hanya iseng melihat episode ‘SpongeBob’s Last Stand’ ini secara daring. Baru sejenak menonton saya justru tertegun, kok konflik certanya terasa familiar ya? Kok ada demo-demonya ya? Apakah SpongeBob kini disusupi anarko? Wakakaka.

Kebakaran hutan, perburuan satwa langka, limbah plastik, polusi udara, konflik agraria dan permasalahan ekologi lainnya ini ada di Indonesia dan ditampar habis-habisan pada episode ‘SpongeBob’s Last Stand’ ini. Khususnya lagi usaha-usaha negara lewat kerja samanya dengan perusahaan swasta dalam melancarkan pembangunan yang sering kali tidak memperhatikan AMDAL dan kajian dari Walhi.

Terlebih lagi respon aparat kepada aktivis yang berusaha memperjuangkan pelestarian lingkungan hidup jusru dibalas dengan represifitas, bahkan bui. Lucunya, ini juga ada di salah satu bagian pada episode ‘SpongeBob’s Last Stand’ ini, dimana SpongeBob dan Patrick menggalang dukungan bagi ladang ubur-ubur dengan bernyanyi menggunakan gitar dan tamborin. Mereka justru di datangi polisi dan ditangkap dengan tuduhan menggunakan gitar tanpa izin. Hahahaha. Serasa familiar dengan tuduhan-tuduhan yang kadang muncul bagi aktivis yang melawan pemerintah di negeri ini.

Pada ‘SpongeBob’s Last Stand’ klimaks konflik ditandai dengan serangan dari ubur-ubur yang merupakan representasi alam yang murka (menurut saya). Dan di Indonesia mungkin dapat direlasikan dengan bencana yang belakangan kerap kali muncul. Hanya saja yang membedakan kita dengan masyarakat Bikini Bottom adalah kesadaran. Sampai kapan masyarakat dan pemerintah kita akan peduli dengan isu lingkungan?

Pada akhirnya penulis naskah ‘SpongeBob’s Last Stand’ ini, Steven Banks, sebenarnya tidak ingin berceramah tentang lingkungan, ini hanya intepretasi saya saja hehe. “Bila kau menghibur dan membuat hal yang lucu, kadang ada pesan yang muncul. Bukannya kami di sini mengirim pesan ke segala tempat,” ujar Banks dikutip dari Wikipedia.

Penulis: Alfiansyah (S1 Sastra Indonesia – Manunggal)
Editor: Erlin Lutvia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *