Sistem Pendeteksi Penyakit Jiwa

Tim berkonsultasi dengan dokter syaraf dari RSUP Dr. Kariadi terkait sistem EEG.

Tim berkonsultasi dengan dokter syaraf dari RSUP Dr. Kariadi terkait sistem EEG.

“Mindtrace, Sistem pendeteksi Penyakit Jiwa dengan Menggunakan Electroencephalography (EEG) Sensor” merupakan salah satu judul Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) karya mahasiswa Undip yang maju ke Pimnas 28, yakni Annisa Rossy Rahmatika (Teknik Sistem Komputer 2012), Budi Cahyo S.P. (Teknik Sistem Komunikasi 2010), Faizir Rahmadi Isman (Teknik Sistem Komputer 2011), Andra Busra (Teknik Sistem Komputer 2013), dan Hilmun Zahrina (Psikologi 2012).

Program ini memberikan inovasi tentang cara mendiagnosis seseorang yang terindikasi mengidap gangguan jiwa dengan cepat dan mudah. Caranya adalah dengan menggunakan hasil rekaman gelombang otak melalui EEG, kemudian diaplikasikan melalui suatu sistem yang disebut mindtrace. Nantinya, mindtrace akan digunakan sebagai penentu apakah seseorang mengidap gangguan jiwa sehingga, sistem ini dapat membantu dokter dalam mendiagnosis pasien yang mengalami gangguan jiwa (skizofrenia) dengan cara yang mudah dan cepat. Selain itu, beberapa institusi seperti institusi kepolisian dapat menggunakan sistem ini untuk menentukan apakah pelaku kriminal mengalami skizofrenia. Pasalnya, perlu waktu sekitar dua minggu bahkan lebih untuk menentukan apakah seorang pelaku kriminal mengidap gangguan jiwa atau tidak.

Keunggulan lain dari PKM-KC yang diketuai oleh Annisa Rossy Rahmatika ini adalah bahwa sistem ini tidak membutuhkan banyak data, sehingga bisa lebih praktis dan efisien.

Pembuatan PKM-KC ini bukan tanpa halangan. Tim mendapat kendala ketika mencari sampel dan konsultasi ke dokter, “Kendalanya waktu mencari sampel dan konsultasi dengan dokter. Birokrasinya susah dan memakan waktu lama, belum lagi dokter nggak mau diganggu karena banyak pasien. Memang sudah seharusnya pasien diutamakan dulu,”jelas salah satu anggota PKM-KC, Hilmun Zahrina. Namun, kendala tersebut dapat teratasi dan pembuatan proposal dapat berjalan dengan lancar.

Terkait persiapan Pimnas, tim sedang menjalani pembinaan selama dua minggu untuk diberikan pengarahan dalam pembuatan artikel ilmiah dan poster. Pasalnya, tidak sekadar presentasi yang akan dinilai di ajang Pimnas 28, tetapi juga pembuatan artikel ilmiah serta poster. Tim pun juga akan fokus pada pelatihan presentasi dalam beberapa minggu ke depan. Sementara untuk tanggal 21-23 September 2015, semua anggota dari kontingen Undip akan menjalani karantina.

Tim berharap, inovasi yang mereka hadirkan dapat membawa medali untuk Undip di ajang Pimnas 28. “Harapannya, karena sudah berhasil sejauh ini dan melewati tiga kali monitoring serta evaluasi, jadi, bismillah semoga bisa pulang bawa medali untuk Undip,” kata Hilmun.

Tim juga menuturkan beberapa harapan untuk iklim penelitian di Undip. Mereka berharap semoga mahasiswa Undip semakin gencar membuat penelitian-penelitian yang inovatif dan kreatif supaya nama Undip dapat membumbung tinggi. Oleh karena itu, semoga dukungan dari universitas dan fakultas untuk mahasiswa Undip semakin kuat supaya mahasiswa Undip dapat termotivasi untuk membuat penelitian. (Indras/Manunggal)