Siber, Dunia Tanpa Batas Teritorial

Oleh: Dian Ayu Nurul Ihsani*

Teknologi informasi diciptakan untuk mempermudah manusia dalam melakukan aktivitas tanpa ada batas ruang dan waktu. Pada akhirnya, teknologi informasi juga dapat menghilangkan batas-batas sosial di masyarakat. Semakin tipisnya batas antara ruang publik dengan privat, menjadi salah satu indikatornya. Kebebasan mengakses setiap informasi dari berbagai belahan dunia tanpa batas teritorial ini merupakan tanda akan lahirnya “dunia ketiga”, yaitu dunia siber.

Istilah siber yang dikenalkan pertama kali oleh Norbert Wiener sendiri berasal dari kata sibernetika yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang komunikasi dan pengawasan yang khususnya berkenaan dengan studi bandingan atas sistem pengawasan otomatis. Kemajuan dunia siber ditandai secara nyata oleh perkembangan pesat dunia internet. Teknologi gabungan internet-komputer (world wide web) telah membentuk generasi baru yang lebih dahsyat jika dibandingkan dengan revolusi yang dipicu oleh penemuan percetakan, radio, mobil, dan televisi.

Menurut Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 16 juta orang pada akhir tahun 2005 dan telah mencapai 25 juta orang pada akhir tahun 2007. Padahal, pada tahun 1998 pengguna internet di Indonesia baru berjumlah 512.000 orang.

Dalam hal pertumbuhan domain, juga telah terjadi peningkatan yang cukup tinggi. Kalau pada tahun 1998 baru terdaftar sekitar 1.479 domain, pada akhir tahun 2004 telah terdaftar sekitar 21.762 domain. Hal itu berarti bahwa rata-rata telah terjadi penambahan sekitar 3.000 domain baru setiap tahun di Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menargetkan sekitar 50 persen penduduk Indonesia memanfaatkan dunia maya dalam berbagai aktivitas di tahun 2014. Keyakinan Kominfo dilandasi keyakinan bahwa memanfaatkan dunia maya ternyata memberikan nilai tambah masyarakat. Masyarakat bisa mengakses dan menyebarkan informasi dari dan ke seluruh dunia dengan mudah.

Pesatnya perkembangan dunia maya itulah yang menyebabkan dunia siber semakin banyak digunakan sebagai media penyebaran informasi. Lebih lagi informasi yang disebarkan melalui dunia siber terhitung lebih cepat, mudah, murah, dan hampir tidak terbatas. Seseorang bisa mendapatkan hampir segala macam informasi dari berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik, tanpa harus beranjak dari tempatnya berada.

Kemudahan yang ditawarkan oleh keberadaan dunia siber bagi penyebaran informasi ini nantinya akan menciptakan apa yang oleh McLuhan disebut sebagai desa global. Desa global menjadi gambaran dunia yang tidak lebih besar dari layar kaca dengan sebuah disket yang memiliki kemampuan untuk mengkalkulasi, mereproduksi, dan mengolah segala bentuk informasi. Hidup di desa global bisa menurunkan mobilitas seseorang di dunia nyata. Hal ini bisa menyebabkan kemalasan, kecanduan, dan berkurangnya kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya.

Dunia siber juga menimbulkan kekhawatiran dalam tatanan bahasa. Dewasa ini penggunaan berbagai macam istilah yang tidak sesuai dengan tatanan bahasa baku semakin populer di dunia siber. Bahkan Komunikasi Berperantarakan Komputer-Internet (KBKI) dinilai sebagai genre baru dalam berkomunikasi. Pemakaian bahasa di dalam KBKI yang tidak mengikuti tatanan bahasa baku tidak saja terjadi dalam bahasa Indonesia, tetapi juga terjadi pada bahasa lain di dunia. Hal itu dipandang oleh beberapa ahli dapat merusak bahasa yang bersangkutan apabila nantinya pemakai terbiasa menggunakan bahasa tersebut dan menerapkannya di dalam bahasa lisan atau tulisan formal. Namun, beberapa pengamat bahasa menganggap bahwa hal itu merupakan suatu evolusi atau bahkan revolusi bahasa yang terjadi di dalam media baru yang berbeda dari bahasa ucapan dan bahasa tulisan.

Kebebasan yang hampir tanpa batas di dunia siber juga menyebakan sulitnya mengendalikan informasi yang tersebar. Tidak seperti teknologi analog, duplikasi dan manipulasi di dunia siber yang menggunakan teknologi digital bisa dilakukan dengan sangat mudah. Setiap orang bisa menduplikat dan memanipulasi dokumen digital dengan hasil yang sama persis dengan dokumen aslinya. Hal ini menyebabkan informasi yang tersebar di dunia siber kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Akses informasi yang terlalu mudah menyebabkan kesulitan dalam menjamin penyebaran informasi tepat sasaran.

Selain itu, kerahasiaan data merupakan salah satu masalah terberat yang dihadapi oleh perkembangan dunia siber. Tidak semua informasi yang diunggah di dunia siber ditujukan untuk semua kalangan. Beberapa pihak memerlukan internet untuk mengunggah dokumen rahasia yang hanya boleh diketahui oleh kalangan tertentu. Maraknya kejahatan di dunia siber yang dikenal sebagai cyber crime menyebabkan hampir tidak ada yang bisa menjamin keamanan data di dunia siber.

Keberadaan Undang-Undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) nyatanya belum cukup untuk mengatasi berbagai masalah yang ada di dunia siber. Mengingat arti dari sibernetika yang meiliki fungsi pengawasan, akan menjadi sedikit aneh jika pada kenyataannya dunia siber sulit untuk diawasi. UU ITE tidak bisa hanya dibuat begitu saja, namun harus didukung perangkat teknologi yang bisa membantu menguatkannya. Terkait pengamanan data, Kominfo memilih dengan cara pendekatan regulasi, pendekatan institusional, dan sosialiasi.

Pendekatan regulasi dapat menjadi landasan dasar bagi hukum siber di Indonesia. UU ITE harus dilengkapi aturan khusus yang mengatur perlindungan data. Selain mengatur bagaimana data tersebut tidak di bajak, UU ITE juga mengatur data apa saja yang harus dirahasiakan. Sedangkan pendekatan institusional, Kominfo sudah membentuk beberapa perangkat untuk mengecek serangan-serangan pencurian data. Tugas itu dibebankan pada Direktorat Keamanan Informasi yang dibentuk 2010. Kendati demikian, untuk pengamanan data tetap diperlukan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Masyarakat menurutnya harus menyadari keamanan datanya sendiri. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan “satpam siber” untuk melindungi datanya ini merupakan wujud dari pendekatan sosialisasi.

<p style=”text-align: justify;”>Terobosan dunia siber menunjukkan signifikansi penyebaran informasi di masyarakat. Pemberlakukan regulasi itulah yang dapat mengawal “dunia ketiga” ini. Dunia siber memaksa pihak yang berwenang menemukan inovasi pengawasan yang efektif. Kebebasan yang hampir tanpa batas di dunia siber juga mengharuskan penggunanya untuk lebih cerdas bersikap, memilah informasi, dan mengamankan dokumennya sendiri.***

Referensi:

                badanbahasa.kemendikbud.go.id

                hukumonline.com

                joglosemar.co

*Redaktur Pelaksana Artistik LPM Manunggal

(Pemenang Kompetisi Esai Pengelola LPM Manunggal)