Siapkan Aksi Tolak Omnibus Law, GERAM Adakan Konsolidasi

Konsolidasi dan teklap Aksi penolakan Omnibus Law di PKMU UNNES, Senin (27/01). (Rhadite/BEM KM UNNES)

ManunggalCybernews— Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) adakan seruan konsolidasi dan teklap aksi, Senin (27/01) di Pusat Kegiatan Mahasiswa UNNES (PKMU). Acara yang diagendakan pukul 19.15 WIB itu ditujukan untuk mempersiapkan aksi penolakan terhadap Omnibus Law. Aksi yang mengusung tema “Reformasi Dikorupsi, Omnibus Law Karpet Merah Oligarki” direncanakan akan berlangsung pada Rabu (29/01) mendatang.

Ignatius Rhadite, Menteri Kajian Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM UNNES 2020 yang juga selaku narahubung dalam konsolidasi tersebut, mengatakan bahwa aksi ini tidak dapat dilepaskan dari seruan #RefomasiDikorupsi, serta tagline tersebut tetap harus diserukan sebagai pengingat bahwasanya rakyat belum menang. “Pada intinya kondisi yang terjadi tidak lepas dari perampasan ruang hidup masyarakat serta penghisapan yang dilakukan oleh oligarki, di mana ada sebuah penghianatan terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan saat reformasi 22 tahun (yang, red) lalu,” ujar Rhadite kepada wartawan Manunggal saat dihubungi via WhatsApp, Selasa (28/01).

Hasil Konsolidasi

Dari hasil notulesi konsolidasi dan teklap aksi, terdapat tiga poin tuntutan yang diajukan: 1) Menuntut pemerintah membatalkan penyusunan mengenai RUU cipta lapangan kerja dan RUU lain dalam kerangka Omnibus Law. 2) Mendesak pemerintah membuka partisipasi aktif masyarakat sipil dalam setiap penyusunan dan perubahan kebijakan. 3) Mendesak pemerintah fokus terhadap pemenuhan hak-hak masyarakat miskin, marginal, dan kelompok rentan.

Untuk bentuk aksinya sendiri disepakati diisi dengan orasi di beberapa titik serta adanya konvoi dengan rute: Stasiun Tawang – Balai Kota – Tugu Muda – Pandanaran – Simpang Lima – Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Misi dan Ambisi Massa Aksi

Saat ditanya perihal tujuan utama dari rencana aksi Rabu (29/01) mendatang, Rhadite menjelaskan bahwasannya terdapat dua pokok, yaitu; pertama, pencerdasan dan penyebarluasan isu kepada masyarakat; kedua, pemberitaan media. “Saat ini tidak (bisa, red) dipungkiri lagi bahwasanya media merupakan piranti penyebarluasan informasi termudah, tercepat dan terluas jangkauannya, sehingga salah satu sasaran dari aksi besok adalah pemberitaan (oleh, red) media. Utamanya mengenai permasalahan yang terjadi, serta tuntutan yang disuarakan,” jelas Rhadite.

Kepada masyarakat, Rhadite juga berpesan bahwasannya perlu untuk kita memahami, mempelajari dan merefleksikan isu-isu yang berkembang saat ini, khusunya Omnibus Law. “Refleksikan muatan yang terkandung di dalamnya. Apakah sudah sesuai dengan jati diri bangsa, serta bertujuan untuk pemenuhan kesejahteraan masyarakat atau belum? Jika dirasa belum, maka kritisi dan suarakanlah. Sebab kita bisa (menjadi, red) korban dari aturan yang menyengsarakan tersebut,” tutup Rhadite. (Alfiansyah/Manunggal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *