#SemarangMelawan Lagi: Jumlah Bukan Masalah

Teaterikal oleh massa aksi lanjutan #SemarangMelawan di lobi kantor DPRD Jawa Tengah, Senin (30/9).(Alfiansyah/Manunggal)

Hampir seminggu sudah aksi #SemarangMelawan, Selasa (24/9) berlalu. Aksi massa pun bak api yang terus menyebar ke berbagai daerah. Mahasiswa, buruh, pelajar dan elemen lainnya bersatu dalam barisan, namun sayangnya beberapa justru harus jatuh korban. Menyikapi hal tersebut Aliansi Semarang Raya kembali mengahdirkan aksi lanjutan #SemarangMelawan di Area Kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah, Senin (30/9).

Sore itu aksi dijadwalkan akan dimulai pukul 14.00 WIB dari titik kumpul, Patung Pangeran Diponegoro Undip Pleburan. Namun, saat Tim Manunggal sudah berada di lokasi, hanya terlihat sedikit massa yang baru hadir. Rupanya mereka masih menunggu teman-teman mereka untuk bergabung bersama.

Jumlah massa menjadi hal yang paling kontras terlihat pada aksi lanjutan #SemarangMelawan ini. Berbeda dari aksi pertama yang dihadiri oleh tujuh ribu massa, aksi lanjutan ini hanya dihadiri sekitar 300 massa. “Saat konsolidasi sih estimasinya 250 (massa, red)” ujar Reza salah satu massa aksi.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Koordinator lapangan aksi mulai berbicara melalui megaphone agar massa segera membuat barisan dan bersiap berjalan ke titik aksi,  Kantor Gubernur dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah. Mobil bak terbuka kembali disulap menjadi mobil komando dengan dihiasi dua buah pengeras suara serta bendera kuning di kanan-kirinya sebagai simbol duka cita.

“Mereka dirampas haknya… tergusur dan lapar…” menggema selama iring-iringan massa dengan mobil komando di depan mereka menuju titik aksi. Sang Merah Putih pun terus dikibarkan oleh salah satu dari mereka. Poster-poster tuntutan juga menjadi atribut wajib sebagai bentuk aspirasi mereka. Dan di titik aksi, para orator —mulai dari perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, pelajar, mahasiswa dan juga  buruh— saling berbagi microphone untuk menyuarakan aspirasinya agar didengar oleh para pemangku kebijakan.

Keberanian untuk Masuk

Salah satu yel-yel yang diteriakkan oleh massa mengungkapkan keinginan massa aksi agar dapat masuk ke dalam area kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah. “Buka.. buka… buka pintunya, buka pintunya sekarang juga…” teriak mereka.

Pada akhirnya, sekitar pukul 15.40 WIB, gerbang yang membatasi massa aksi dengan aparat polisi —yang telah bersiaga di dalam area kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah— berhasil dibuka tanpa harus saling dorong dan merusaknya. Gerbang dibuka begitu saja tanpa ada perlawanan dengan aparat. Sepertinya aparat polisi memberikan toleransi selama aksi berlangsung dengan damai.

Melihat gerbang yang sudah terbuka, mobil komando langsung saja dikerahkan masuk disusul gerombolan massa dibelakangnya. Sementara itu orator diatas mobil komando masih silih berganti memberikan orasinya dan sesekali memberikan komando agar massa tetap kondusif.

Di sisi berseberangan dengan massa aksi, aparat polisi telah bersiaga, 4 mobil water cannon telah dihadirkan dengan salah satu yang sudah diarahkan ke gerbang utara, titik konsentrasi massa. Polisi dengan seragam anti huru-hara juga telah bersiaga dibelakang, berjaga-jaga kalau-kalau terjadi chaos.

Panggung Rakyat di Gedung Rakyat

Setelah berhasil masuk, tujuan massa kini satu, menduduki kantor DPRD Jawa Tengah. Perlahan tapi masti mobil komando maju terus dan berbelok ke arah lobi kantor DPRD Jawa Tengah. Massa aksi juga meminta agar area depan kantor DPRD Jawa Tengah —yang semulanya penuh dengan mobil— disterilkan untuk konsentrasi aksi massa.

Hingga menjelang maghrib massa berorasi disana, bahkan sempat dorong-dorongan karena lobi kantor masih dipenuhi oleh aparat kepolisian. Pada akhirnya massa dipersilahkan mengepung lobi kantor DPRD Jawa Tengah. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “Gedung DPRD Disegel Rakyat” tepat di depan pintu utama. Mereka juga membentangkan bendera kuning dan menabur bunga tujuh rupa sebagai simbol duka cita atas korban masa aksi dan juga demokrasi yang mati.

Pada akhirnya lobi kantor DPRD Jawa Tengah disulap menjadi pensi  dadakan. “Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat…” lirik lagu Surat Buat Wakil Rakyat karya Iwan Fals bergema. Disusul teatrikal, pembacaan puisi, dan beberapa penampilan dari perwakilan elemen massa aksi.

Sore menjelang malam itu massa aksi mengaku saling merasakan hal yang sama, sama-sama tertindas oleh pemangku kuasa. Jika dipikir-pikir rasanya sejarah seperti berulang. Dahulu Nusantara bersatu atas dasar kesamaan penderitaan oleh penjajah, lalu mereka berjuang dan menang. Sekarang buruh, petani, mahasiswa, pelajar, dan elemen masyarakat bersatu atas dasar kesamaan penderitaan oleh pemerintah, kini mereka sedang berjuang dan suatu hari nanti pasti menang. (Alfianyah/Manunggal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *