Sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

This slideshow requires JavaScript.

Hari Buku Nasional diperingati setiap 17 Mei dan telah berlangsung sejak tahun 2002. Penetapan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional merupakan ide dari Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar. Pada tanggal tersebut bertepatan dengan hari peresmian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang diresmikan oleh Abdul Malik Fadjar pada tanggal 17 Mei 1980.

Didirikannya PNRI bermula dari kedatangan bangsa Barat ke Indonesia pada abad ke-16 yang membawa budaya tersendiri. Perpustakaan mulai didirikan dengan tujuan untuk menunjang program penyebaran agama mereka. Perpustakaan yang paling awal berdiri adalah perpustakaan gereja yang didirikan pada masa VOC (Vereenigde OostJurnal Indische Compaqnie) di Batavia (kini Jakarta) yang telah dibangun sejak tahun 1624. Akan tetapi karena beberapa kesulitan, perpustakaan tersebut baru diresmikan pada 27 April 1643 dengan penunjukan seorang pustakawan bernama Dominus Abraham Fierenius. Pada masa ini, perpustakaan tidak hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja, namun juga dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Bahkan perpustakaan meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit Batavia hingga akhirnya peminjaman buku diperluas sampai ke Semarang dan Juana, Jawa Tengah. Dengan demikian pada abad ke-17, Indonesia telah mengenal perluasan jasa perpustakaan yang kini layanan tersebut dikenal dengan pinjam-antar perpustakaan atau interlibrary loan).

Pada 25 April 1778 didirikan perpustakaan khusus di Batavia, yaitu perpustakaan lembaga Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) yang diprakarsai oleh ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda), Mr. J. C. M. Rademaker. Selain memprakarsai berdirinya perpustakaan lembaga BGKW, ia juga memprakarsai pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaan. Perpustakaan ini kemudian pada tahun 1846 mengeluarkan katalog buku yang pertama di Indonesia dengan judul Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Florest Catalogue Systematicus yang merupakan hasil suntingan dari P. Bleeker.

Edisi kedua katalog tersebut terbit pada tahun 1848 dalam versi bahasa Belanda. Perpustakaan lembaga BGKW aktif dalam pertukaran bahan perpustakaan. Sebagai bahan pertukaran perpustakaan ini menggunakan penerbitan Tijdschrift voor Indische Taal-, Land en Volkenkunde, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschapn van Kunsten en Wetenschappen, Jaarboek, serta Werken buiten de Serie. Karena perpustakaan tersebut memiliki prestasi yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan, kemudian namanya ditambah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Pada tahun 1950, nama tersebut berubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Selanjutnya, Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia dan namanya pun diubah menjadi Museum Pusat pada tahun 1962. Koleksi perpustakaannya menjadi bagian dari Museum Pusat sehingga dikenal dengan Perpustakaan Museum Pusat. Kemudian nama Museum Pusat berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan nama Perpustakaan Museum Nasional. Perpustakaan Museum Nasional tersebut dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan pada tahun 1980. Pada tahun 1989, terjadi perubahan kembali. Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.