• Home »
  • OPINI »
  • Representasi Semar sebagai Identitas Pendidikan dan Kerakyatan Indonesia

Representasi Semar sebagai Identitas Pendidikan dan Kerakyatan Indonesia

Semar hanya ada satu. Namun dengan seribu tafsir atau interpretasi, tokoh “Semar” akan menjadi identitas yang “samar”. Dalam kesamarannya ini tak ada kesatuan metafisik yang eksak

Secara umum, dalam kisah pewayangan di Nusantara, Semar merupakan salah satu anggota abdi kesatria bersama Gareng, Petruk dan Bagong dalam satu kelompok Punakawan. Lakon tersebut, yang menurut sejarawan Prof. Slamet Muljana, telah diceritakan sejak Zaman Majapahit, akan menjadi bukti subjektivitas akal dan kepekaan manusia terhadap semesta, dengan imaji yang kolektif dan beraneka warna.

Tanggal 3 November 2017, Universitas Diponegoro mengadakan Pagelaran wayang orang untuk memperingati Dies Natalies Undip ke-60 yang mengusung lakon cerita “Semar Mbangun Kahyangan”. Semar yang digambarkan sebagai Sang Pamomong, merupakan tokoh sentral dalam jagad pewayangan, sekaligus menjadi pengasuh para raja dan kesatria. Dalam pementasan tersebut, sejumlah tokoh besar Undip dan Nasional memerankan beberapa lakon, diantaranya adalah Semar (Ketua Senat Undip Prof. Sunarso), Bathara Guru (Rektor Undip Prof. Yos Johan Utama), Sang Hyang Wenang (Gubernur Ganjar Pranowo), Bathara Brama (Menristek M. Nasir) dan tokoh lainnya.

Dikisahkan bahwa Semar (Ketua Senat) gelisah dan tak puas dengan kepemimpinan Bathara Guru (Rektor) yang kebijakannya dipengaruhi oleh istrinya. Akibat ini Semar/Sang Hyang Ismaya ingin membangun istana tandingan. Singkat cerita, karena kepemimpinan yg tidak bijak tersebut, Bathara Guru ditegur oleh Sang Hyang Widi/Bathara Brama (Menristekdikti). Pada bagian cerita yang lain, Semar yang telah bertekad bulat membangun kerajaan baru berhasil merebut pusaka Jamus Kalimasada milik kerajaan Amarta dan mengalahkan segala sesuatu yang menghalanginya hingga mengobrak abrik kahyangan dan membuat Bathara Guru memohon ampun, hingga amarah Semar berangsur-angsur redam.

Melalui lakon wayang tersebut, kita seakan-akan dibawa pada sebuah prinsip bahwa ada sebuah konsep pembentuk budaya yang juga berikhtiar memperbaiki kehidupan manusia, sebuah pendidikan.

Pendidikan (dalam model idealisme atau pragmatisme sehari-hari) ditunjukkan oleh gerak-gerik serta watak Semar, yang sederhana namun penuh kearifan dan pengayoman, dan terkadang penuh amarah yang dahsyat. Dari sini, pendidikan dapat bertransformasi menjadi sebuah ujud, dan teriikat pada model dengan macam-macam kekurangannya. Namun segala kekurangannya justru dapat membantu manusia untuk meresapinya. Sebagai salah satu tokoh pewayangan paling utama, kita dapat lebih mudah menerima Semar sebagai contoh terbaik nilai-nilai universal di sekitar kita. Meski bukan dari dunia yang diterima oleh rasionalitas, dia bersifat terus mengupayakan kemajuan, memperbaiki tatanan kehidupan yang tak serasi, menunjukkan mana yang tidak beres dan harus dilawan, serta mengharamkan rasa takut.

Di Indonsia, pendidikan sejatinya merupakan benturan dua produk filosofi yang memiliki kutub masing-masing. Ia amat sering dibandingkan dengan kapitalisme yang dapat dengan mudah mempertukarkan barang satu sama lain, karena pendidikan merupakan salah satu penyedia tenaga kerja paling masif di Indonesia, dan memiliki hubungan erat terhadap benda-benda yang terdapat pada sistem pasar, seperti buku, seragam, dan sepatu. Namun, paham sosialis akan memberikan dasar bahwa dalam pendidikan, semua orang harus mendapatkan perlakuan yang sama rata tanpa melibatkan status sosial.

Di luar semua itu, mungkin tidak semua orang menyadari bahwa pendidikan merupakan sebuah proses yang terus ada selama manusia hidup. Ia menjelma di setiap sesi kehadiran Semar pada panggung pentas. Pendidikan ada di tengah proses tumbuh kembang manusia dan masyarakat, yang penuh nasehat, humor, senyum, dan kadang juga kesedihan.

Kemudian, lakon “Semar Mbangun Kayangan” tersebut juga dapat menggambarkan prototype dari sebuah Negara. Kita bisa membayangkan kahyangan sebagai sebuah Negara, lengkap dengan pengurus, rakyat dan segala propertinya. Rakyat, (sebuah kata yang menurut Goenawan Mohamad memiliki kekuatan magis) akan diwakili oleh tokoh Semar (yang tak kalah magis). Semar merupakan utusan dari para dewa yang ditugaskan menjadi abdi masyarakat kelas bawah namun memiliki kekuatan yang ditakuti Bathara Guru, dan melakukan perlawanan terhadap penguasa yang tak becus mengurus negara. Meskipun hanya sebatas kiasan, namun inilah replika paling sempurna dari sesuatu yang tidak sempurna.

Perawakan Semar yang terlihat tak sempurna, bertubuh pendek, berbadan bulat, wajah putih, bongkok, dan terlihat lemah, justru membuatnya lekat dengan imajinasi mengenai masyarakat sendiri, yang tak pernah jauh dari ketidaksempurnaan. Bahkan ketidaksempurnaan ini akan terus terasa di zaman dimana kondisi sosial dan ekonomi terus berubah, modernitas berkembang biak, globalisasi mendesak, serta dongeng pewayangan yang kuno hanya tersisa pada rak-rak buku lama.

Dengan begitu, Semar, sebagai penjelmaan dari nilai pendidikan dan juga kerakyatan, sebenarnya merupakan profil yang tak terikat pada protokoler dan sistem apapun. Dia membebaskan. Dia melepas rasa ketidakpuasan dan ketidaksesuaian keadaan tanpa takut terhadap posisi tokoh lain yang lebih vertikal. Dia digambarkan selalu tersenyum meski dengan wajah yang sayu. Dia hadir nyaris di setiap judul pentas cerita apapun (tanpa mempedulikan kaidah kisah aslinya), yang kadang berperan hanya sebagai selingan namun memberikan dampak dan dorongan.

Semar bukan tokoh sempurna, namun dengan pengaruh yang diberikan di banyak momentum dan karakter yang difavoritkan banyak kalangan, ia dapat mengalahkan tokoh lain yang lebih sempurna sekalipun.

Tegar Satriani

Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota 2013

Fakultas Teknik