Rektor Tanggapi Tuntutan Aliansi Mahasiswa Undip

Salah satu mahasisww bertanya saat Dialog dengan Rektorat di Hall Quality, Rabu (13/4). (Astrid/Manunggal)

Salah satu mahasisww bertanya saat Dialog dengan Rektorat di Hall Quality, Rabu (13/4). (Astrid/Manunggal)

 

ManunggalCybernews— Pasca tuntutan Aliansi Mahasiswa Undip (AMU) yang diberikan pada Selasa (5/4) lalu, rektorat menggelar dialog dengan mahasiswa, Rabu (13/4) di Quality Hall, Widya Puraya. Tuntutan tersebut ditanggapi Rektor Undip, Prof Yos Johan Utama melalui presentasi yang memaparkan pendapatan, kebutuhan, defisit serta cara-cara menutup defisit Undip.

Berdasarkan kajian MWA Unsur Mahasiswa (MWA UM) melalui rilis yang terbit pada tahun anggaran 2016 total nominal Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) Undip adalah sebesar Rp800 M. Sedangkan pada tahun ini Undip menerima Bantuan Operasional Pendidikan Tinggi Negeri (BOPTN) sebesar Rp 80 M, sehingga BOPTN hanya menutupi 10% kebutuhan Undip. Revenue Generating Activity (RGA) yang menjadi salah satu pundi-pundi Undip, ternyata hanya menghasilkan Rp4 M.

Rusunawa Per tahun Rp1,8 M
SPBU Per Tahun Rp800 juta
Radio Nihil
Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Defisit
Sewa-sewa +/- Rp2 M
RGA Undip Maksimal Rp4 M

Sumber: Presentasi Rektor Undip, pada Dialog Tanggapi Tuntutan AMU, Rabu (13/4)

Prof Yos juga menjelaskan tujuan adanya SPI adalah untuk menyubsidi defisit kekurangan pembayaran mahasiswa yang tidak mampu. SPI diadakan juga demi persiapan akreditasi 2018 yang perlu dipersiapkan peningkatan indikatornya agar tetap bertahan dengan nilai A dan bahkan lebih.

“Jangan bayangkan kalau UKT naik, terus  mesti pendapatan Undip naik. Ya kalau yang masuk itu golongan 7, kalau yang masuk ternyata golongan 1 dan 2?” ungkap Prof Yos. Hal tersebut didasari melalui perumusan UKT berasal dari Beban Kuliah Tunggal (BKT) dikurangi BOPTN, sehingga didapati UKT tidak lebih besar dari BKT. “Itu masih trial and error.  Artinya, walau pun dinaikkan seperti apa pun, hal tersebut tidak menjamin bahwa Undip ketambahan duit, itu tergantung siapa yang masuk,” terang Prof Yos.

Mengenai transparansi UKT, kelak Prof Yos akan melibatkan mahasiswa. “Dalam penentuan UKT, nanti di fakultas-fakultas, saya ingatkan kepada dekan untuk wajib melibatkan mahasiswa. Ada presentasinya. Paling tidak tiga orang. Tugas Anda bukan hanya membela orang miskin saja, tapi juga harus membela Undip. Menjaga jangan sampai ada orang kaya mengaku miskin,” jelasnya.

Meski tuntutan ditolak, Alvi, salah satu mahasiswa yang tergabung dalam AMU merasa transparansi yang dilakukan rektorat sudah cukup jelas. “Hanya saja saya melihat janji Prof Yos, pada saat penyampaian visi misi, dia terang sekali menolak kenaikan UKT. Oke di sini cukup transparansi, tapi mari kita lihat besok, bagaimana realisasinya. Untuk ke depannya kita mengawal semua ini, namun kita juga harus memiliki kajian yang lebih kuat. Ketika pihak rektorat memiliki kekuatan dasar yang mematahkan suara mahasiswa, berarti mahasiswa perlu ada sebuah kajian yang lebih mendalam,” papar Alvi. (Astrid/Manunggal)