Rekam Jejak Lava Panas di Kaki Merapi

Selain dijadikan wahana edukasi kebencanaan dan konservasi yang berkelanjutan, Museum ini juga didirikan sebagai wahana rekreasi dan wisata lokal yang berada di lereng Gunung Merapi.

 

Bangunan artistik yang berdiri di lereng selatan Gunung Merapi pada 2010 silam ini merupakan museum 2 lantai yang menjadi salah satu tempat wisata menarik, tepatnya di jalan Boyong, dusun Banteng, desa Hargobinangun, kabupaten Sleman, Yogyakarta. Berbentuk limas segitiga tidak beraturan, Museum Gunung Merapi dibangun sesuai filosofi bangunan Jawa yang dikombinasikan dengan teknologi dan pakem di adat kebudayaan Jawa.

Sebagai salah satu gunung api teraktif di dunia, Merapi selalu menyisakan berbagai kisah manis maupun pahit. Berbagai kisah tersebut selama ini seolah hilang tertelan waktu. Akan tetapi, sejak didirikannya Museum Gunung Merapi tahun 2005 berbagai macam hal yang berkaitan dengan Merapi lengkap bisa kita temukan di dalamnya.

 

Sejarah dan Fungsi

Museum Gunung Merapi diresmikan pada 1 Oktober 2009 dan dibuka untuk umum pada tanggal 1 Januari tahun 2010. Kali ini, tim Tabloid LPM Manunggal memiliki kesempatan untuk bertemu Kepala UPT Museum Gunung Merapi, Suharna di ruangannya (25/9). Menurutnya, Museum Gunung Merapi ditujukan untuk memberikan pengetahuan yang berkaitan dengan kebencanaan dan pengetahuan mengenai gunung berapi.

“Khususnya ya gunung api Merapi, tapi secara umum ini pembelajaran kaitannya dengan karakteristik gunung berapi,” ujar Suharna. Ia menambahkan, secara garis besar Museum Gunung Merapi memiliki fungsi sebagai sarana edukasi dan pengetahuan yang berkaitan dengan gunung berapi. Suharna menjelaskan mengenai pentingnya berbagai manfaat yang diperoleh masyarakat dari merapi, seperti contohnya sumber daya hutan, konservasi air, dan objek pariwisata,.

Memasuki pintu masuk, pengunjung akan disuguhkan dengan sebuah miniatur Merapi berukuran raksasa yang terus menerus mengeluarkan asap. Di lobby utama ini, pengunjung dapat melihat langsung fenomena aliran magma Gunung Merapi dari tahun 1969, 1994 dan 2006.  Di lantai pertama tersebut pula, Anda dapat menemukan berbagai macam benda-benda koleksi Museum Gunung Merapi yang terbagi menjadi beberapa ruangan dengan jenis yang beragam. Beberapa di antaranya yaitu Vulcano World, sejarah bencana letusan Merapi dan On the Merapi Vulcano Trail.

Beranjak ke ruangan berikutnya, terdapat zona dunia Gunung Merapi yang berisikan foto-foto dokumentasi dan alat peraga tentang fenomena kegunungapian yang ada di seluruh dunia. Foto-foto dan alat peraga tersebut disajikan lengkap dengan tampilan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Pada zona khusus Gunung Merapi, Anda dapat mengetahui informasi lengkap Gunung Merapi secara jelas, meliputi mitos hingga rekam jejak pengamatan Gunung Merapi dari era kolonialisme Belanda hingga sekarang. Uniknya, di sini pengunjung juga akan ditunjukkan tentang penanganan diri ketika terjadi bencana letusan gunung berapi. Sementara itu, di lantai dua pengunjung dapat menyaksikan alat peraga kebencanaan tsunami dan dokumentasi erupsi Gunung Merapi dari 1930 hingga 2010. Di lantai dua ini terdapat pula teater mini dengan kapasitas 100 orang yang menampilkan film dokumenter berjudul “Di Bawah Langit Merapi” yang berdurasi 20 menit.

 

Daya Tarik Wisatawan

            Mengusung semboyan “Merapi Jendela Bumi”, museum yang berlokasi sekitar 5 kilometer dari objek wisata Kaliurang ini menjadi salah satu pilihan wisata berbagai macam pengunjung, baik lokal maupun internasional setiap tahunnya. Tercatat, setiap tahun jumlah pengunjung yang memadati area wisata museum Gunung  Merapi selalu mengalami kenaikan.

 

“Tahun 2010 itu kita baru dikunjungi kurang lebih 41 ribu sekian. 2011, kita sudah dikunjungi 65 ribu sekian. 2012 sudah dikunjungi 103 ribu sekian. 2013 itu sudah 130 ribu, 2014 150 ribu, 2015 kemarin sudah 250 ribu, peningkatannya terus meningkat. Lha sekarang saja 2016 ini kita sudah 150 ribu, semoga kita bisa mencapai 200-300 ribu pada akhir tahun,” ujar Suharna.

Suharna menjelaskan, dari ribuan pengunjung yang datang mayoritas dipadati oleh murid-murid sekolah, mahasiswa, dan selanjutnya dari kalangan umum. Hal ini cukup terasa ketika menginjak liburan panjang seperti akhir tahun, lebaran, dan natal, di mana lonjakan jumlah pengunjung selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di samping itu, peningkatan jumlah pengunjung tersebut juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang mulai mengintensifkan program “Wajib Kunjung Museum” untuk murid-murid sekolah. Dalam mengintensifkan minat dan daya tarik wisatawan, pihak Museum Gunung Merapi juga melakukan berbagai macam sosialisasi ke beberapa sekolah, instansi dan promosi edukatif melalui media sosial.

Dalam perjalanan menuju kawasan Museum Gunung Merapi, tim Tabloid LPM Manunggal tidak menemukan angkutan umum yang melayani jasa akomodasi. Untuk itu, sangat disarankan untuk membawa kendaraan pribadi ketika Anda hendak berkunjung ke Museum Gunung Merapi. Beberapa rumah penginapan atau hotel dapat Anda temukan sebagai alternatif pilihan apabila Anda berminat untuk bermalam di jantung kota Yogyakarta ini.

Untuk Anda yang tertarik berkunjung, museum ini melayani kunjungan setiap hari Selasa-Minggu pukul 09.00 – 15.30 WIB. Tarif masuk yang dikenakan pun cukup terjangkau. Hanya dengan membayar Rp 3.000 per orang, Anda bisa mengunjungi Museum Guung Merapi. Sedangkan, bagi wisatawan yang ingin menyaksikan film dokumenter letusan Merapi di teater mini, Anda cukup membayar tarif tambahan sebesar Rp 5.000. (Fajrin)