Rajut Kebersamaan di Tengah Keramaian

Tak seperti malam biasanya, Sabtu, (17/5) gemerlap cahaya menghiasi langit Kota Semarang. Cahaya yang menambah kecantikan langit malam itu rupanya berasal dari puluhan lampion yang dinyalakan secara serentak oleh pengunjung Festival Banjir Kanal Barat (BKB). Di tengah keramaian acara, pengunjung menjadikan momen tersebut sebagai ajang mempererat hubungan keluarga.

Kepadatan lalu lintas dan banyaknya pengguna jalan menuju Festival BKB tidak menjadi alasan warga Semarang untuk tidak antusias melihat pelepasan lampion dan pameran perahu hias di Sungai BKB. Mereka berbondong-bondong mendatangi tempat ini untuk melihat kemeriahan daerah BKB yang telah disulap menjadi indah dengan berbagai hal. Daerah yang semula kosong, berubah menjadi ramai oleh adanya Festival Kuliner, Festival Perahu Hias, Festival Mancing, Festival Pelepasan Lampion, dan Pergelaran Wayang Kulit yang didalangi Ki Sigit Aryanto.

Suasana malam yang cerah seakan mampu memberi kebahagiaan kepada seluruh pengunjung. Meski datang terlambat, saat seluruh lampion telah diterbangkan dan perahu hias sudah berlabuh, nyatanya tidak membuat pengunjung lekas meninggalkan lokasi. Hal itulah yang dirasakan Tri. Ibu satu orang anak ini mengajak saudara, suami, anaknya yang masih batita untuk melihat kemeriahan festival yang diadakan tidak jauh dari rumahnya.

Tri mengaku senang dapat mengajak keluarganya ke acara ini karena acara ini cukup meriah. Menurutnya, meski rumahnya tidak jauh dari Sungai BKB, ini merupakan kali pertamanya menghadiri Festival BKB yang menjadi acara tahunan sejak 2011.

“Rumah saya di Lemah Gempal, tapi baru kali ini datang ke sini,” ujarnya.

Berbeda dengan Tri, Sumi, karyawan sebuah pabrik di Kawasan Candi, Semarang, ini mengajak serta saudara dan istrinya untuk hadir di acara peringatan HUT ke-467 Kota Semarang ini. Di tepi sungai, dia dan istrinya meramal doa sebelum menghanyutkan lampion air yang dibagikan panitia dari Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Kota Semarang. Selain mengirim doa pribadi, dia mengaku juga mendoakan Kota Semarang.

“Semoga Kota Semarang dapat menjadi kota yang lebih maju dan bersih,” katanya.

Dia mengatakan, menghabiskan malam bersama saudara dan istri tercintanya di Festival BKB merupakan momen yang sangat membahagiakan. Bahkan, dia telah berencana untuk menghadiri acara ini sejak sebulan yang lalu.

“Saya tahu acara ini dari orang-orang sejak sebulan yang lalu. Terus kepikiran mau ajak istri dan saudara yang sedang ada di Semarang buat datang ke sini,” ujar pria asal Purwodadi itu.

Tak Sekadar Ikuti Festival

Pengunjung lain yang menjadikan acara ini sebagi ajang merajut kebersamaan adalah Nuristi Anatul Azizah dan Kaudsar Elvira. Dua mahasiswa Universitas Diponegoro itu mengaku tidak kecewa meski usahanya menembus kemacetan panjang dari Tembalang menuju BKB tidak terbayarkan.

Menurut mereka, kebersamaan dua sahabat itu untuk menghabiskan malam di BKB dengan bermain kartu mampu memberi kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Dengan bercanda, mereka mengingat kejadian tersasar sebelum tiba di BKB.

“Tadi kita lewat jalan-jalan tikus gara-gara ikut pengendara motor di depan kita,” kata Nuristi yang sedang asyik mengocok kartu uno ketika Tim Manunggal mewawancarinya.

Sebelum Tim Manunggal mengakhiri wawancara dengan teman satu indekos itu, Kaudsar menuturkan, dia berharap sungai BKB dapat menjadi lebih bersih agar tidak mengganggu pemandangan para pengunjung. Terakhir, dia berharap, tahu depan panitia berkenan memberi izin kepada para pengunjung untuk naik perahu hias yang melintasi Sungai BKB. (Gina, Mizan, Nina, Rifqi, Vina)