Quarter Life Crisis: Haruskah Khawatir dengan Masa Depan?

Sumber: Pinterest

Pagi ini, saya tertegun setelah membaca artikel dari Kumparan —yang muncul di lini masa twitter. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa berdasarkan survei yang dilakukan oleh LinkedId, Quarter Life Crisis (QLC) rata-rata dirasakan oleh manusia pada umur 27 tahun. QLC hadir karena rasa khawatir dan cemas dengan kehidupan di masa depan. Kecemasan tersebut meliputi berbagai hal, mulai dari karir, percintaan, maupun finansial. Artikel itu juga menyebutkan bahwa kaum millenial —seperti kita, lebih rentan merasakan QLC dibanding generasi sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan akses di era sekarang yang serba digital dan sangat dekat dengan sosial media sebagai ajang eksistensi diri. Hal itu berdampak pada psikologis yang menjadikan apa yang nampak dalam sosial media sebagai sebuah standar pencapaian.

          Saya yang kini mulai menginjak usia ±20 tahun, justru telah merasakan apa yang orang sebut sebagai QLC, bahkan sejak tiga tahun lalu saat menjadi mahasiswa baru. Hal-hal yang dirasakan dan terkadang menjadi beban dalam pikiran, terlebih terkait masa depan yang rasanya semua orang juga ikut mencemaskannya. Pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah jalur pendidikan yang ditempuh sudah benar dan sesuai passion? Bagaimana nanti setelah lulus dan mendapat pekerjaaan? Lalu bagaimana dan dengan siapa saya menghabiskan sisa-sisa kehidupan? Bagi saya sendiri, hal substansial dari semua pertanyaan  itu, adalah: Siapa dan untuk apa saya hidup dan menjalaninya?

          Jawaban dari pertanyaan soal eksistensi manusia, untuk apa dia hidup adalah cara Iain mencari jati diri. Pencarian jati diri yang tiada henti untuk menemukan dirinya yang sebenar-benarnya. Padahal, manusia sepanjang hidupnya selalu berproses, berkembang, dan cara pandang melihat hidup pun berubah-ubah. Pencarian jati diri adalah cara untuk mengenal dengan baik bagaimana dirinya yang sebenarnya. Tanpa disadari, manusia adalah mahluk yang sangat dinamis, bukan statis. Ia bisa menjadi sangat bijak, dan sepersekian detik bisa juga meledak-ledak. Memang benar kata Sabrang atau Noe Letto, jika jati diri itu bukan untuk dicari, melainkan untuk disadari.

          Kita bisa menilik hikmah Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna di Alam Semesta. Manusia dibekali akal dan nafsu yang mana jika ia mampu dengan baik menggunakannya, label makhluk terbaik Tuhan menjadi layak untuk dimiliki. Kita tidak seperti malaikat yang selalu taat dan tidak pernah melakukan dosa serta kesalahan. Kita pun bukan hewan, yang hanya dibekali nafsu tanpa adanya akal untuk berfikir. Kita hanya dituntut untuk sadar menjadi manusia sepenuhnya. Makhluk yang berakal, mampu membedakan hal baik atau buruk, hal yang kekal atau hanya fana. Namun, sebagai manusia sepenuhnya, apakah kita sudah sadar jika sebaik-baiknya kita juga memiliki celah salah dan noktah?

          Kecemasan dan ketakutan adalah sifat yang wajar bagi manusia. Tidak mengapa, itulah fase kehidupan yang nantinya juga akan terlalui, dan akan baik-baik saja. Janganlah terlalu memikirkan dan mencemaskan masa nanti dan yang terpenting, jalani hari ini dengan pasti.  Lakukanlah hal-hal yang baik untuk dirimu. Jika kata Bung Wira Nagara “Berbiasalah, Berbahagialah”. Usahakan secara maksimal, hingga tiada sesal kemudian. Jika menemui gagal, tidak mengapa namanya juga manusia. Manusia, makhluk yang hebat meskipun banyak catat. Sekeras apapun mencari jati diri, menjadi manusia adalah hal yang harus disadari. (Nanik/Manunggal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *