Puisi Rock, Seni Memainkan Emosi

Penampilan Nugroho Wahyu Utama dalam pagelaran puisi rock di Gedung Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) Semarang, Minggu (14/2). (dok. pribadi)

Penampilan Nugroho Wahyu Utama dalam pagelaran puisi rock di Gedung Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) Semarang, Minggu (14/2). (dok. pribadi)

Marah merupakan emosi dasar manusia yang sering dikaitkan dengan sikap agresif dan kekerasan. Berawal dari emosi tersebutlah, Nugroho Wahyu Utama atau yang akrab disapa NWU menciptakan puisi bergenre baru

Pria yang bekerja sebagai editor di Suara Merdeka Cybernews ini memiliki ketetarikan pada dunia menulis dan bermusik. Hobi menulis puisi NWU bermula ketika ia  belajar menulis puisi bersama komunitas Kumandang Sastra pada 2008. Pada saat itu NWU diajarkan menulis puisi oleh Victor Rusdiantoro.

Sosoknya yang terkesan pendiam, kerap memendam perasaan marah karena diolok-olokan oleh orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut menjadikan NWU sebagai pribadi yang mudah tersinggung dan emosional. Untuk mengatasi emosi yang berlebihan itu, pria yang menggemari salah satu band rock asal Britania Raya yakni Genesis, mencoba mengalihkan sikap emosionalnya terhadap sesuatu yang positif  yaitu puisi rock.

Puisi rock adalah puisi yang liriknya berisi tentang kemarahan. Tidak berbeda jauh dengan puisi lainnya, puisi rock berbentuk bait-bait yang memuat baris-baris kalimat. Hal yang membedakan puisi rock dengan puisi lain adalah penulisannya yang banyak menggunakan tanda seru. Tanda seru tersebut merupakan tanda penekanan yang menunjukan adanya amarah yang tertuang dalam puisi rock.

Puisi rock pertama ditulis pada tahun 2009 berjudul telapak dan  anjing. Puisi ini berisi tentang konsumerisme masyarakat saat ini yang merasa malu karena tidak memiliki kendaraan bermotor. Telapak merupakan simbol dari langkah kaki sedangkan anjing merupakan simbol dari ucapan-ucapan orang lain yang mengejek NWU karena berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum saat bekerja dan berpergian.

Pages 1 2