PTN-BH Pengaruhi Kenaikan UKT dan Penarikan SPI

Menyandang status PTN-BH, Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) menjadi salah satu bisnis yang dioptimalkan oleh Undip, Jumat (11/3) di Undip, Tembalang.

Menyandang status PTN-BH, Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) menjadi salah satu bisnis yang dioptimalkan oleh Undip, Jumat (11/3) di Undip, Tembalang.

Adanya Uang Pangkal

Tak hanya UKT yang naik, jalur UM juga akan menetapkan biaya Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) atau uang pangkal yang harus dibayarkan oleh mahasiswa. Penentuan biaya SPI akan memiliki perbedaan di setiap fakultas, tergantung kebutuhan dari masing-masing fakultas. Kenaikan ini, kata Darsono, dipertimbangkan atas kebutuhan, proyeksi kemampuan mahasiswa, dan kepantasan dengan universitas lain. “SPI itu bervariasi, kedokteran kemungkinan mencapai 200 juta, tapi ada juga jurusan lain yang 5 juta, 10 juta, sesuai dengan kebutuhan dan ini masih dalam kajian karena SK juga belum keluar,” ujar Darsono.

Mengawal Kenaikan UKT

Untuk mengawal kenaikan UKT, dibentuklah  Satuan Tugas (Satgas) yang terdiri dari Kesma BEM Undip, Bidang Harkam dan Sospol, perwakilan 11 Fakultas serta Badan Perlengkapan MWA dan Senat Undip. “Dengan adanya Satgas yang bertugas untuk mengkaji dan mengawal setiap isu yang terjadi tanpa tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, salah satunya adalah rencana kenaikan UKT,” ujarnya.

Ketua Senat Undip 2016 Sigit Tri Utomo juga menjelaskan bahwa kenaikan UKT juga berdampak pada kualitas mahasiswa baru nanti. “Pasalnya jika kuota 30% untuk jalur UM yang notabene bagi golongan ‘orang-orang mampu’ maka bagaimana dengan kualitas Undip ke depan? Bukan lagi versi orang-orang siapa yang pintar dan beruntung masuk Undip, tetapi siapa yang punya uang itulah yang masuk Undip,” ujar Sigit.

Kenaikan UKT ini, tambah Sigit, bertepatan dengan Undip yang menyandang sebagai PTN-BH seperti terlalu dipaksakan karena secara usaha, finansial belum siap dan mahasiswa yang terkena imbasnya, dibandingkan UI, Unpad, dan UGM. (Iga, Aryo/Manunggal)

Versi cetak artikel ini terbit di newsletter Joglo Pos Edisi I/TAHUN XVI/9 Maret-9 April 2016 di halaman 1 dengan judul “PTN-BH Pengaruhi Kenaikan UKT dan Penarikan SPI”.

[RALAT]

Pada berita “PTN-BH Pengaruhi Kenaikan UKT dan Penarikan SPI” yang terbit di Joglo Pos Edisi I/TAHUN XVI/9 Maret-9 April 2016, terdapat kekeliruan. Tertulis “Kenaikan UKT tersebut hanya berlaku untuk golongan tujuh dan mahasiswa yang masuk melalui jalur UM (Ujian Mandiri). Sedangkan untuk jalur SNMPTN dan SBMPTN tidak akan terkena dampak kenaikan UKT,” seharusnya “Kenaikan tersebut berlaku untuk semua golongan UKT, baik yang masuk melalui jalur SNMPTN, SBMPTN maupun Ujian Mandiri (UM).”

Mohon maaf atas kekeliruan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *