Positive Vibes Only: Bukannya Semangat, Malah Nge-Drop

(Ilustrasi: hbr.org)

Opini— Banyak orang-orang di sekitar kita yang terlihat baik-baik saja atau (biasanya) selalu terlihat ceria. Namun, sebenarnya kita tidak tahu, apa yang ada di dalam dirinya. Apakah benar dia baik-baik saja? Toh sebagai manusia biasa, kita perlu mengungkapkan apa yang kita rasa agar perasaan menjadi lega. Bukannya malah mengubur dalam-dalam perasaan dan emosi kita.

Kita mungkin sering mendengar, mengucapkan, atau sekadar bergumam dalam hati, ujaran seperti ini:

Yang sabar ya”

“Yaudahlah gapapa, nanti juga dibales sama yang di Atas”

“Seharusnya kamu itu bersyukur, banyak loh yang gabisa kayak kamu sekarang”

“Makanya, ibadah yang rajin. sholat jangan ditinggal, puasa jangan dilupa”

“Udah, stay positif aja”

“Semangat ya, bisa bisa”

Positive Vibes Only. Namun, ada kalanya kata-kata penyemangat bisa menjadi bumerang bagi orang yang menghadapi situasi yang kurang mengenakkan. Bagi sebagian orang, ujaran kata-kata penyemangat seperti di atas bisa mematahkan perasaan buruk mereka. Tapi ingat, itu baru sebagian. Ada sebagian lainnya yang ketika diberi ujaran tersebut, justru menjadi semakin kecil diri atau malah merasa dirinya sedang diremehkan. Hal ini nyatanya bisa memicu munculnya gangguan psikis atau biasa dikenal dengan istilah psikosomatis.

Sudah berapa banyak dari kita yang memiliki anggapan bahwa hidup menjadi orang yang selalu berpikiran positif itu baik? Tidak jarang juga, banyak orang yang hendak demikian karena menurutnya hal itu baik untuknya.

Pernah mendengar tentang toxic positivity? Jika belum, mari kita mengulik sedikit tentangnya. Istilah toxic positivity bisa diartikan dengan sikap positif yang tidak sesuai tempatnya dan justru merusak dirimu. Bisa diartikan juga dengan self healing yang kebacut. Ibaratnya seperti makan terlalu banyak ketika kondisi perutmu sedang kosong, yang terjadi bukannya kenyang justru semakin sakit. Jelas sekali penyebabnya, yaitu sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tidak sesuai porsinya.

Perlu diketahui, denial terhadap apa yang kita rasakan itu ternyata tidak baik. Seolah merasa baik-baik saja padahal tidak sedang demikian. Biasanya, mereka yang begini beralasan untuk ingin selalu terlihat tegar dan kuat di hadapan orang lain. Takut dibilang “Ah gitu aja baper”, “Gitu aja uda sambat”, ”Gitu aja nangis”, dan kata-kata toxic yang lain. Nyatanya, emosi negatif itu seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Respon seseorang bisa mempengaruhi jalan pikiran orang yang mendengarnya.

Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang menyetujui sebuah paham yang mengatakan bahwa perasaan negatif itu buruk dan perasaan positif itu baik. Secara tidak sadar juga, hal itu sudah tertanam dalam diri kita bahwa memang benar demikian. Seharusnya, tidak begini konsepnya. Mengategorikan perasaan manusia, tidak semudah itu.

Faktanya, perasaan negatif itu tidak selalu buruk. Justru dengan meluapkan perasaan-perasaan itu, kita bisa lebih jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita. Kita dapat mengetahui bagaimana merespon dan mencari bantuan yang kita butuhkan. Selain itu, mengeluarkan emosi negatif ternyata penting untuk kesehatan kita.

Setelah ini, jika kalian merasakan kehadiran perasaan-perasaan negatif, jangan pernah ragu untuk menumpahkannya ya! Sangatlah wajar dan normal untuk meluapkan berbagai macam emosi yang ada. Marah, misalnya. Emosi negatif yang kamu keluarkan tidak akan membuatmu menjadi orang yang negatif kok!

Penulis: Dyah Satiti (Mahasiswi S1 Psikologi 2018)
Editor: Alfiansyah, Winda N

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *