Polemik UKT, Aliansi Suara Undip Ajak Kawan Mahasiswa untuk Bersuara

Aksi Damai kawal kebijakan kampus selama pandemi yang dilakukan oleh mahasiswa undip yang tergabung dalam Aliansi Suara Undip (ASU), Kamis (9/7). (Sumber: dok.pribadi)

Warta Utama—  Berapa hari dalam pekan ini, mahasiswa kembali menyuarakan keresahan mereka. Tidak jauh berbeda dengan tuntutan pada aksi pendahulunya, UKT menjadi sorotan utama. Melalui gerakan koletif, yaitu Aliansi Suara Undip (ASU), mereka berfokus pada keringanan dan juga perpanjangan masa pembayaran biaya kuliah tersebut.

Sampai saat ini, ASU telah melakukan propaganda yang bertujuan mengajak para mahasiswa untuk menyuarakan keresahan yang dialami selama pandemi, terutama perihal pembayaran UKT. Salah satu strategi propaganda yang dilakukan ialah menggunakan metode daring, yakni mengunggah poster dan video pada akun resmi Aliansi Suara Undip, baik di Instagram, Line maupun Twitter.

“ASU sampai hari ini berusaha untuk mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bersuara bersama. Propaganda atau ajakan dilakukan melalui media dan melalui offline. Untuk online-nya, ASU memposting poster dan video parodi pada official akun ASU di Instagram, Twitter dan Line,” ujar Adi (bukan nama sebenarnya), salah satu anggota ASU saat dihubungi oleh awak LPM Manunggal.

Selain daring, Adi menjelaskan bahwa ASU juga turut melakukan propaganda luring yang dilaksanakan pada Kamis (9/7) kemarin.  Aksi kampanye ini dilakukan dengan cara memasang poster dan membagikan selebaran di Persimpangan Jalan Sirojudin, mengingat target yang dituju oleh ASU adalah masyarakat umum.

“Kemarin kami membagikan selebaran dan memasang poster di lampu merah Sirojudin, karena di sana merupakan pusat lalu lintas Tembalang yang cukup ramai. Sehingga masyarakat umum dapat mengerti apa yang sedang terjadi di Undip sekarang ini,” imbuhnya.

Propaganda ini juga berisi ajakan kepada  mahasiswa untuk terlebih dahulu menahan pembayaran UKT. ASU akan melaksanakan serangkaian aksi hingga batas akhir pembayaran UKT. “Propaganda dilaksanakan sampai akhir pembayaran UKT dan sampai kita menang perihal UKT. Aksi ini bukan merupakan puncaknya, nantinya tanggal 15 akan ada aksi lagi,” terang Adi.

Sani (bukan nama sebenarnya) salah satu mahasiswa Undip berpendapat jika dalam perkuliahan daring, biaya yang dikeluarkan untuk fasilitas kampus, seperti listrik dan air dapat ditekan karena tidak ada mahasiswa yang menggunakannya.

“Aku sepenuhnya setuju karena memang sudah seharusnya kampus ngasih keringanan di tengah pandemi global seperti saat ini. Kemudian kuliah pada semester depan udah pasti daring tuh, anggaran yang awalnya buat kuliah luring, seperti listrik kan pasti berbeda. Menurut aku, biaya yang dikeluarkan kampus untuk perkuliahan daring akan lebih ringan. Itu dari pengamatanku yang awam,” jelasnya saat dihubungi awak LPM Manunggal.

Sani juga berharap pihak Undip akan memperpanjang masa pembayaran UKT karena tenggat waktu selama satu bulan dinilai terlalu cepat. “Kalau pun nanti nggak dapat diskon UKT, setidaknya tenggat waktu pembayaran diperpanjang lah. Ini cepet banget, cuma sebulan. Kalo misal suara kita tidak didengar, mungkin nanti aku cari pinjeman deh karena belum ada uang buat bayar, apalagi kosan tetap bayar,” imbuhnya.

Berbeda dengan Sani, Nara (bukan nama sebenarnya) yang juga mahasiswa Undip turut memberikan pandangan dari sisi yang berbeda. Menurutnya, meskipun mahasiswa tidak dapat merasakan fasilitas kampus, Undip tetap harus membayar tagihan listrik dan biaya perawatan fasilitas.

“Kita lihat perusahaan-perusahan yang bahkan tidak dipakai pun listriknya pada naik berkali-kali lipat, begitupun Undip. So, UKT gak turun kan memang buat bayar listrik dan para pekerja bersih-bersih dan staff yang masih bekerja. Kayanya kalo gak ada tukang bersih-bersih, univ kita bakal jadi hutan deh, dan barangnya juga bakal pada rusak. Tapi ya kalo UKT bisa turun, aku bersyukur. Jujur itu bakal membantu banget,” jelas Nara.

Nara pun menyampaikan bahwa ia telah mengikuti gerakan tunda bayar UKT, namun ia memutuskan akan tetap membayar UKT sebelum waktu pengisian IRS. “Aku masih nunggu kelanjutan perjuangan aliansi tentang penurunan UKT. Namun aku tetap akan bayar UKT sebelum waktu IRS-an supaya dapat jadwal kuliah yang enak dan nyaman,” tuturnya kembali.

Di akhir wawancara kepada salah satu anggota ASU, Adi mengungkapkan harapannya supaya mahasiswa maupun tenaga pendidik dapat membuka diskusi mengingat di dalam diskusi terdapat evaluasi. ”Harapan besar kepada kawan-kawan maupun tenaga pendidik untuk membuka ruang suara yang perlu dibahas mengingat bentuk kritik merupakan rasa cinta terbesar yang enggan membiarkan kesalahan,” pesannya.

Reporter: Aslamatur Rizqiyah

Penulis: Aslamatur Rizqiyah

Editor: Winda N, Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *