Polemik Semen, Mahasiswa Diminta Tabayyun

Ketua KNPI Semarang, Choirul Awaludin menyampaikan cara pandang mahasiswa dalam menyikapi permasalahan pabrik semen di Rembang. (Annisa Rachmawati/Manunggal)

Ketua KNPI Semarang, Choirul Awaludin menyampaikan cara pandang mahasiswa dalam menyikapi permasalahan pabrik semen di Rembang. (Annisa Rachmawati/Manunggal)

ManunggalCybernews–Gerakan Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Rakyat Jawa Tengah menyelenggarakan diskusi terbuka yang bertema “Rekonstruksi Cara Pandang Mahasiswa dan Pemuda dalam Menyikapi Pembangunan Nasional (BUMN) Semen Indonesia” pada Selasa (21/3) di Hotel Siliwangi, Semarang.

Dalam diskusi tersebut, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Semarang, Choirul Awaludin, mengatakan bahwa mahasiswa harus memosisikan diri di tengah dalam menyikapi permasalahan yang ada di Rembang. “Bagaimana kita itu menjembatani antara masyarakat dengan pemerintah. Ketika kita sudah menempatkan diri di tengah itu, kita tidak serta merta untuk lebih condong ke pemerintah atau lebih condong ke masyarakat,” ujar Choirul.

Hal tersebut dibenarkan oleh Syarwan Ikabalmay, ketua panitia diskusi, yang menjelaskan perlunya peran mahasiswa dan pemuda dalam menyikapi permasalahan di Rembang dan informasi yang simpang siur. “Output dari kegiatan ini diharapkan dapat membuka paradigma dan ide-ide baru supaya cara penyelesaian ini bisa diselesaikan dengan win-win solution,” kata Syarwan. Meski semua elemen masyarakat telah diundang termasuk pihak yang pro dan kontra, lanjut Syarwan, tidak terlihat kehadiran pihak kontra untuk ikut berdiskusi dan memberikan informasi.

Ketika ditanya terkait berbagai kekhawatiran masyarakat Rembang, Sekretaris Semen Indonesia Agung Wiharto mengatakan pabrik semen yang ada di Rembang telah sesuai dengan aturan dan tidak merusak lingkungan. “Caranya adalah membuat embung, dua embung sudah jadi di pabrik dan di Tegaldowo. Jadi kami tidak mengambil air tanah, kami menggunakan air hujan seperti yang kami pakai di Tuban untuk kebutuhan pabrik dan terbesarnya untuk sanitasi pegawai dan sisanya untuk petani,” kata Agung.

Selain itu, Teguh Gunawarman, Camat Gunem, Rembang, mengatakan mahasiswa harus berhati-hati dalam menerima informasi. “Tabayyun saja, kalian kan mahasiswa, ketika ada informasi telusurilah, tanya ke camatnya, kadesnya, tanya ke masyarakatnya, benar apa enggak,” ujar Teguh.

(Aryo/Manungal)