• Home »
  • OPINI »
  • Pesan dari Pembantaian Klan Uchiha untuk Rekonsiliasi ‘65

Pesan dari Pembantaian Klan Uchiha untuk Rekonsiliasi ‘65

Ada pesan dari kisah di atas terkait topik yang santer kita dengar akhir bulan lalu. Tentang luka lama yang diungkit-ungkit untuk alasan defensif masing-masing kelompok. Fenomena ini memberi sinyal bahwa nasib rekonsiliasi untuk kekerasan politik Indonesia setengah abad lalu sedang dalam kondisi mengkhawatirkan.

Dari kisah di atas, serangan Siluman Rubah Ekor Sembilan bisa kita ibaratkan seperti G30S. Stereotip penduduk desa kepada klan Uchiha memperlihatkan kepada kita bahwa pembantaian klan Uchiha merupakan keniscayaan jika rekonsiliasi tidak terwujud sementara kecemburuan, diskriminasi yang terlanjur terbentuk justru dipupuk dengan masif di bangsa ini. Tidak ada yang berani membayangkan bila suatu hari nanti di titik akumulasi tertinggi, pembantaian klan Uchiha (perang saudara) kembali terjadi di Indonesia.

Oleh karena itu, pada hakekatnya rekosiliasi adalah proses penyembuhan. Artinya, kedua belah pihak harus bisa berdamai dengan masa lalu. Dalam kasus ini, bukan hanya setelah tahun ‘65, tetapi sepanjang sejarah sampai ke tahun ‘48. Rekonsiliasi harus dimaknai dengan prespektif sosio-kultural. Pihak-pihak yang terlibat hadir untuk mengakui dengan ikhlas bahwa pihaknya bertanggung jawab atas tragedi kekerasan politik masa silam.

Menurut Agus Widjojo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), kalau kita masih membuat kegiatan kumpul dengan orang-orang yang sepemikiran, ini hanya akan menambah candu, memperlebar jurang pemisah di masyarakat. Seperti yang terjadi di LBH kemarin. Kegiatan itu tidak mengarah ke rekonsiliasi, tapi justru membuka lebar polarisasi.

Kita yang mengklaim melakukan pengungkapan kebenaran sejarah ‘65, menurut Agus juga bukan ruh rekonsiliasi. Hal ini hanya memicu pihak lain untuk mencari alasan bahwa aktor sejarah ‘65 masih bertingkah. Begitu juga pemutaran kembali film Pengkhianatan G30S/PKI. Agus menyebut ini kontraproduktif terhadap upaya rekonsiliasi. Kita generasi muda sekarang memiliki independensi untuk menentukan apa yang baik dan bermanfaat.

Keragaman respon seperti di atas harus disertai sikap fair. Jangan menjadi arogan untuk membuat titik pemantik. Hal ini hanya menunjukan bahwa rekonsiliasi masih dipahami secara awam untuk kepentingan setiap pihak. Keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi terlaksananya rekonsiliasi.

Masyarakat bisa dikatakan belum siap untuk rekonsiliasi, apabila kita masih melihat tragedi 1965 dan tahun-tahun sebelumnya dengan idealisme masing-masing. Indonesia sekarang seolah masih ada pada tahun 1965, bukan tahun 2017. Kondisi kita yang sedang tidak bergerak kemana-mana ini akibat kita kurang mampu melihat secara reflektif.

Andai kita ikut menjadi bagian di cerita Naruto, mungkinkah kita setabah Ithachi yang menerima nasib sebagai kambing hitam melepas ego kelompoknya demi keutuhan desa? Atau justru menjadi Sasuke, pewaris dendam yang ditakdirkan membunuh saudaranya sendiri karena kebohongan desa dan ketidaktahuannya?

Apa perlu kita memiliki mata sharingan hanya untuk melihat isi hati seseorang?

dengan begiu tidak ada yang pura-pura kan.

 

Faqih Sulthan

Departemen Sastra Indonesia 2014

Ilmu Budaya

Pages 1 2