Pentingnya Pertolongan Psikologis Pada Korban Bencana

Pemaparan materi oleh Arus Horizon, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD Jateng, mengenai Dampak Psikologis Bencana di Aula Dekanat Fakultas Psikologi Undip pada Sabtu (27/5), (Desmonda/Manunggal)

 

ManunggalCybernews-Bencana yang setiap kali datang pastinya membuat banyak sekali kerugian, baik itu fisik maupun psikis. Melihat hal tersebut, BEM Psikologi Undip mengadakan Psychological First Aid (PFA) atau bantuan psikologi awal pada Sabtu (27/5) di Fakultas Psikologi Undip. Dalam acara tersebut, peserta dilatih untuk tidak hanya membantu para korban bencana secara fisik saja tetapi juga menangani emosional para korban.

PFA sangat diperlukan dalam penanggulangan korban bencana karena dapat mencegah timbulnya gangguan kesehatan mental yang lebih buruk oleh situasi krisis, keadaan darurat dan bencana. “PFA  itu bertujuan untuk memberikan bantuan untuk  mengurangi stres sebagai dampak dari peristiwa traumatis dan mempercepat proses pemulihan yang dibangun atas dasar konsep resiliensi manusia,” jelas Hastaning Sakti, Dekan Fakultas Psikologi Undip sekaligus pemateri.

Menurut Hastaning, fungsi utama dari adanya PFA ini selain memberikan dukungan, kenyamanan, dan juga kepedulian, juga berfungsi untuk menanamkan harapan bagi korban bencana. “Saran-saran dan juga motivasi untuk para korban bencana sangat diperlukan untuk menumbuhkan semangat untuk tetap bangkit dari keterpurukan,” ujar Hastaning.

Dalam penanggulangan bencana tidak hanya pelayanan kesehatan saja tetapi juga terdapat pelayanan psikososial. “Seseorang yang terkena dampak bencana seperti gangguan jiwa ringan (reaksi setelah bencana) akan mendapatkan pelayanan psikososial dari keluarga maupun komunitas,” ujar Arus Horizon selaku pembicara dan juga kepala bidang rehabilitasi dan rekontruksi BPBD Jateng.

Arus menambahkan, dampak psikologis  dari bencana meliputi tiga hal yaitu Extreme Peritraumatic Stress Reactions yang berlangsung dua hari, Acute Stress Disorder berlangsung selama dua hari hingga empat minggu, dan juga Post-traumatic Stress Disorder berlangsung hingga lebih dari satu bulan.

Selain itu juga terdapat simulasi bencana dan pelatihan teknik Stabilitasi Emosi yang diberikan oleh para pemateri yang bertujuan untuk mengajarkan peserta mengenai aspek psikologis dari trauma. “Harapan dengan diadakannya PFA ini, tumbuh niat dari mahasiswa untuk mengabdi pada masyarakat dan menjadi volunteer dari Psikologi. Nantinya volunteer ini akan berkoordinasi dengan saya dan BEM Undip terkait kebencanaan. Merekalah yang merencanakan langkah selanjutnya dan saya hanya sebagai penanggung jawab,” ujar Indra Dwi Wirandika selaku ketua pelaksana. (Desmonda/Manunggal)