Pengibulan

Ilustrasi: Faqih

Ngibul (ngibulin) sama artinya dengan membohongi. Publik ramai-ramai menanggapi, “Jangan mudah mengancam!”, “Mana datanya?”, “Debat terbuka saja!” kira-kira demikian kutipan pendek yang  bisa dilihat di kolom komentar beberapa postingan menyoal kritikan Pak Amin dan ancaman Pak Luhut. Sayangnya, tulisan ini tidak hendak menyambung lidah netizen. Sok menebak siapa yang sedang ngibul. Apa lagi bermaksud mengritisi kebijakan bagi-bagi sertifikat tanah beserta anggapan timpangnya kepenguasaan tanah di Indonesia. Afwan khi, itu ranah kajian tubir Sospol.

FYI, Pak Amin dengan kritik tajamnya adalah hal yang biasa. Jangankan di era ‘Kids Zaman Now’, orba saja tumbang oleh kata-katanya. Lalu apa benar Pak Luhut kali ini naik pitam karena kata ‘pengibulan’? Jika iya, apakah semua insan bakal ngamuk saat dikata-katai ngibul? Penulis ragu, buktinya diwaktu yang bersamaan ngibul-mengibul masih jalan, korupsi makin marak. Tak perlu jauh-jauh, ada pengibulan pengangkatan CPNS, pemalsuan label kadaluarsa, First Travel, Lucinta Luna, hingga kasus Angela Lee. Dari hal-hal di atas kabar baiknya, tulisan ini bukan termasuk di dalamnya.

Bohong, dusta, dan ngibul sama tuanya dengan bahasa. Mereka punya arti yang mirip: Mengatakan hal yang tak sesuai kenyataan. Begitu pun istilah yang sedang populer abad ini, hoaks. Ia diyakini berasal dari “Hocus Pocus” kata-kata atau mantra penyihir pada zaman dulu untuk memperdaya orang lain. Asyiknya, sekarang kita tidak perlu repot-repot jadi penyihir untuk bisa ngibul. Sebab kebohongan ternyata sudah bisa kita pelajari sejak kecil. Misalnya: “Ssttt… bilang ayah lagi tidur,” kata ayah pada anaknya saat malas mengangkat telepon.

Mungkin kita sering bertanya, kenapa seseorang bisa ngibul. Gagalnya Pendidikan Dosa? Bukan itu pokok bahasan kita. Kenyataannya ada dua jenis kebohongan menurut Psychology Today. Masing-masing sesuai dengan tujuannya.

Pertama, kebohongan yang melayani diri. “Dibandingkan dengan cara lain, berbohong sangat mudah untuk mendapatkan kekuasaan,” begitu kata Sissela Bok, seorang ahli etika di Harvard University kepada Majalah National Geographic. Di majalah ini pula, dalam laporannya menyebutkan orang ngibul rata-rata satu atau dua kali sehari. Sebagian besar dimaksudkan untuk menutupi kekurangan, menyelamatkan muka, membuat diri kita tampak lebih baik dari sebelumnya, atau untuk menonjolkan diri kita dengan cara tertentu.

Kedua, ”Ih kok sekarang kurusan sis,” kira-kira ini yang disebut kebohongan baik hati. Psychology Today mencatat bahwa kebohongan baik hati kemungkinan besar dilakukan dengan maksud membuat orang lain merasa lebih baik, atau untuk menyembunyikan mereka dari rasa malu, hukuman, atau kesalahan, agar mereka tidak sakit hati. Hampir semua orang telah mengatakan kebohongan yang baik hati, setidaknya sekali dalam hidup.

Pertanyaannya, sudah berapa banyak kebohongan yang kita konsumsi, produksi, dan distribusikan? Semoga bukan karena hidup di pusaran kebohongan lantas kita jadi terlalu asyik. Terkadang keterbatasan kita mengungkap tabir ngibul-mengibul bisa mengakibatkan kita kikuk, membedakan antara sandiwara dan fakta. Yang nonton sinetron-drama Korea dibuat termehek-mehek ditinggal mati tokoh idolanya. Tapi giliran ada berita genosida, dengan santai kita berujar hoaks.

Sampai sekarang penulis kagum dengan kerja para pengarang/sastrawan. Kita tahu mereka membuat kisah palsu tapi tak pernah sekali pun mereka dipanggil pengibul. Penulis khawatir, jangan-jangan politisi sedang menjalani profesi sebagai pengarang. Kira-kira sudah sejak kapan? Novel Ghost Fleet? Sembari meraba hidung, dalam hati kita berkata, “Semoga kisah Pinokio tidak nyata.”

 

Faqih Sulthan

Departemen Sastra Indonesia 2014

Fakultas Ilmu Budaya