Pekalongan Ramah Limbah

(Foto: Tita/Manunggal)

Air adalah sumber daya alam yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Kita pun memahami betul bagaimana peran pentingnya keberadaan air. Layaknya sebuah drama, pasti akan ada tokoh untuk menumbuhkan alur sebuah cerita. Sama halnya dengan air, ia diibaratkan sebagai tokoh yang sangat penting dan harus ada dalam sebuah drama. Keberadaan air tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupan makhluk hidup di seluruh bumi ini. Manusia pun menjadi terhegemoni oleh air karena desakan kebutuhan untuk kelangsungan hidup. Tetapi, bagaimana jadinya jika air yang menjadi kebutuhan pokok itu telah tercemar keberadaannya? Seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) di Jenggot, Asem Binatur, dan Loji.

Walikota Pekalongan, Saelany Mahfudz, menengarai penyebab terjadinya pencemaran air sungai disebabkan oleh kegiatan industri di kabupaten. Menurutnya ada sekitar 4000-an kegiatan industri di sana. Salah satunya industri pencucian Wash Jeans dan perusahaan tekstil sarung palekat yang limbahnya mengalir langsung ke sungai Pekalongan. “Jadi, kita ini hanya menerima akibatnya saja. Karena pasti air dari hulu ke hilir, tidak mungkin sebaliknya,” kata Saelany saat memberi sambutan pada kegiatan Bersih Indonesia yang diadakan oleh GenBI Tegal (4/12). Mencermati pendapat Walikota Pekalongan tersebut, kami coba membuktikan di lapangan. Tepat di desa Pegaden Tengah, Wonopringgo kabupaten Pekalongan memang telah terjadi pencemaran.

Geliat industri di kabupaten maupun kota Pekalongan yang pesat—di sektor tekstil—telah mengorbankan sumber daya air. Sungai maupun sumur tidak bisa dikatakan sebagai sumber daya air lagi. Kami pun mencoba mencari tahu apa penyebab mendasar pencemaran terjadi di aliran DAS tersebut. Oleh karena itu, kami mewawancarai beberapa pengusaha batik di Pekalongan. Dan kami mendapati kenyataan pelik dimana air limbah hasil produksi dibuang begitu saja di selokan pinggir jalan.

Muhib (32 tahun), salah satu pelaku usaha yang kami wawancarai menuturkan bahwa 90% pengusaha industri tekstil membuang limbahnya ke sungai tanpa dikelola terlebih dahulu. Menurut Muhib ada beberapa alasan mengapa pengusaha industri membuang limbahnya ke sungai secara langsung. Pertama, Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan limbah yang dihasilkan bisa melebihi kapasitas IPAL. Kedua, mayoritas pengusaha industri adalah industri rumahan. Mereka hanya mengerjakan “sanggan” saja dari orang lain. Karenanya, tidak memiliki cukup uang untuk membuat IPAL sendiri.

Sementara itu, Roro (25 tahun) yang melanjutkan usaha dari orang tuanya, sampai sekarang belum tahu bagaimana cara pengelolaan limbah hasil produksi. Roro, seperti kebanyakan pengusaha skala kecil lainnya, hanya mengerjakan “sanggan” dari bosnya.

Ribetnya Urus IPAL

Pada 16 Desember 2019 Kamar Dagang dan Industri (Kadin) kota Pekalongan mengadakan kegiatan seminar dengan tema “Pencemaran Limbah Cair Industri dan Upaya Penanganannya di Kota Pekalongan” di hotel Pesonna, Pekalongan. Kegiatan tersebut dihadiri para pemodal besar di kota Pekalongan. Salah satunya keturunan Almarhum H Abbas, Imron (60 tahun) yang meneruskan usaha ayahnya. Imron menceritakan pengalamannya sewaktu disidak langsung oleh pihak Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah ditemani bareskrim terkait peninjauan IPAL bagi pelaku industri. Karena tidak punya izin, lantas ia disarankan oleh Lingkungan Hidup Provinsi dan bareskrim untuk membuat IPAL. Imron menambahkan bahwa Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota Pekalongan terkesan lamban dalam mengurus dokumen pembuatan IPAL. Sampai IPAL sudah jadi, dokumennya belum jadi.

Menilik pengalaman Imron, perlu DLH kota Pekalongan membuat dokumen tersebut mudah diakses. Hal ini menyangkut kemudahan dalam pelayanan publik terhadap pelaku industri. Sehingga mereka tidak lagi enggan mengurus IPAL karena rumit harus kesana-sini.

Dari Ulama untuk Lingkungan

Bersama budayawan Pekalongan, Ribut Achwandi, yang kami sambangi di kediamannya Landungsari, gang 19, melihat ada pergeseran budaya dalam praktek perekonomian masyarakat kota Pekalongan. Dari yang semula budaya masyarakat Pekalongan yang agraris, maritim dan pedagang menjadi masyarakat era industri. Dalam perubahannya pelestarian lingkungan alam khususnya sumber daya air di kota Pekalongan sedikit dikesampingkan.

“Kalau sudah ketangkep bahwa persoalannya adalah perubahan budaya, maka harus dijawab dengan strategi atau jalur budaya. Harus diperbaiki dulu dari hulu ke hilir baru masuk pendekatan hukum sebagai payung menaungi jalur kultural tadi,” ujar lelaki umur 40 tahun itu. Ribut Achwandi menambahkan, melihat sisi kebiasaan masyarakat Pekalongan yang religius, perlu juga peran tokoh agama untuk mendakwahkan materi khotbah yang mengarah pada mencintai lingkungan hidup.(Saiful Ibad, Nufika F., dan Tita Adi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *