Pazaarseni 2016, Bukan Sekedar Seni Kedaerahan

Penutupan Pazaarseni 2016 oleh perwakilan Wali Kota Semarang, Rabu (31/8) di Taman Budaya Raden Saleh. (Clara/Manunggal)

Penutupan Pazaarseni 2016 oleh perwakilan Wali Kota Semarang, Rabu (31/8) di Taman Budaya Raden Saleh. (Clara/Manunggal)

ManunggalCybernews—Festival monolog, lomba gambar, pameran seni rupa, pemutaran film pendek, dan live performance di panggung musik memeriahkan “Pazaarseni 2016”. Acara yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Semarang (Dekase) pada Jumat-Rabu (26-31/8) di Taman Budaya Raden Saleh ini hadir kembali untuk ketiga kalinya di Semarang. Meskipun diadakan di Semarang, sifat seni yang dihadirkan tidak kedaerahan. Semua bentuk seni yang saat ini sedang berkembang di masyarakat disajikan semenarik mungkin.

Hal tersebut ditunjukkan dengan berbagai macam genre musik yang ditampilkan dan juga partisipasi pelukis dari Surabaya dan Bali. “Bagaimana kita bisa menunjukkan dalam satu tahun bentuk musik di kota Semarang seperti apa, maka musik yang ditampilkan terdiri dari beberapa genre seperti rock, jazz, pop, indie dan keroncong,” papar Ika Camelia, Bendahara Pazaarseni 2016.

Acara tersebut juga sudah diadakan di kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung. Tujuan Pazaarseni 2016 bukan hanya mendorong penjualan produk seni, tetapi juga memberi pemahaman nilai-nilai seni yang ditawarkan.

“Kita menyebutnya pasar ketika elemen-elemen seni bertemu, yang bukan hanya pasar jual beli tapi kita menyatu dengan menikmati musik dan kita melihat itu sebagai pasar seni,” ujar Ika.

Pazaarseni 2016 mengusung kembali konsep awal seperti pada tahun 2014, yaitu bagaimana cara menunjukkan keunggulan semua jenis seni. Akan tetapi, konsep Pazaarseni yang berbeda dari tahun sebelumnya membuat tangkai acara yang ditampilkan pun menjadi lebih sedikit. Sebagai perbandingan, Pazaarseni 2015 lebih menonjolkan pameran seni rupa dengan 60 tangkai acara sementara Pazaarseni 2016 hanya memiliki 20 tangkai acara karena harus menghadirkan berbagai bentuk seni.

Pazaarseni menjadi wadah bertemunya seni dengan masyarat. Masyarakat yang menikmati berbagai macam karya seni dapat bertanya langsung kepada para seniman seputar makna yang ingin disampaikan.  “Yang paling menarik dari acara ini sih lukisan dan instalasi patung, tempatnya gampang dicari jadi akses masuknya mudah, tapi sayang publikasi ke masyarakat kurang,” ujar Alifa Khairunnisa, mahasiswa Teknik Arsitektur Undip 2015. (Clara/Manunggal)