Otak Katrina

(Ilustrasi: pinterest.com)

Aku memandangnya dari kejauhan dengan penuh rasa iba. Sebenarnya pun aku tidak tega menempatkannya di bangsal berukuran 2×3 meter itu. Namun aku juga takut kebebasannya di alam terbuka dapat membahayakan warga di desa ini, juga membahayakan dirinya sendiri.

Dia adalah Katrina, wanita yang kreatif, imajinatif dan penuh ambisi. Sayangnya di usia ke 30, Katrina tidak kunjung didatangi laki-laki yang berhasrat untuk mempersuntingnya. Kata tetangga begini, “Makanya jadi wanita tidak usah terlalu perfeksionis. Nanti laki-laki pada ogah dengan segala peraturanmu”.

Frustasi dengan hal itu, Katrina akhirnya googling “trik ampuh memikat hati lelaki”. Nahasnya, dari sekian hasil pencarian yang muncul, Katrina lebih tertarik kepada artikel yang berjudul “Trik memikat hati pria melalui jalan agama”. Lalu entah apa yang terjadi kepada Katrina di hari ke tujuh setelah ia melakukan ritual-ritual berdasarkan anjuran mbah google itu. Omongannya tiba-tiba melantur kesana kemari seperti orang yang sedang sakau. Bukan seperti omongan Katrina biasanya yang imajinatif dan penuh ambisi. Ketika ku bawa ke dokter, dokter mengatakan bahwa ia tidak menemukan keganjilan apapun di saraf Katrina. Aneh.

Tiba-tiba saja salah satu tokoh agama di desa datang ke rumah. Katanya ia mendengar desas-desis dari tetangga bahwa Katrina sedang kesurupan. Lalu ku ceritakan semua kejadian yang dialami Katrina. Si tokoh agama itu mengatakan, “Dik, kakakmu itu salah dalam belajar agama. Harusnya dalam belajar agama itu ada guru yang membimbingnya. Nah dia mempelajari ilmu agama tanpa sosok guru. Oleh karena itu, kakakmu digurui oleh setan dengan ajaran-ajarannya yang menyesatkan. Sehingga sekarang ia menjadi majnun”. Ah, terserah kau sajalah. Bukankan lebih gampang jika menyebutkan bahwa Katrina gila karena frustasi tidak menemukan suami.

**

Setiap hari aku selalu masuk ke bangsal Katrina untuk menyuapi dan juga membersihkan badannya. Aku harus selalu memasak ikan setiap harinya karena aku juga bertanggung jawab atas isi perut kucing kesayangan Katrina yang ikut tinggal di dalam bangsal.

“Hai, Mbak. Selamat pagi. Bagaimana keadaanmu?’ ucapku ketika hendak menyuapinya.

“Jangan panggil aku ‘mbak’! Kamu dan kalian semua harus memanggilku dengan sebutan Cat!” Aku mendadak ngeri melihatnya mendelik seperti itu. Aku tahu alasan Katrina menyuruhku memanggil dengan sebutan itu. Karena dia sangat menyayangi kucingnya. Sehingga suku kata pertamanya, yakni Kat harus diucapkan dengan pengucapan Cat.

“I iya, Cat.” Ah aku merasa kurang ajar memanggil nama kakakku dengan panggilan nama. Ketika akhirnya aku menemukan ide untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Kak’ yang baru ku sadari ternyata sebutan tersebut menyerupai kata ‘Cat’.

Tiba-tiba Katrina memegang tanganku “Dik, kamu tahu tidak? Di pojokan sana, Izrail telah memberitahuku bahwa ia ditugaskan untuk menyabut nyawaku,” tunjuknya ke arah pojokan. Aku yang merasa bergidik ngeripun terpaksa mengarahkan mata mengikuti arah telunjuknya. Ah, paling Katrina sedang berimajinasi.

“Tapi, Dik. Sebelum nyawaku dicabut. Aku telah memberi syarat kepada Izrail. Kau ingin tau?” Katrina mengambil minuman yang ku bawakan lalu meneguknya dalam sekali tegukan. “Syaratnya adalah Izrail boleh menyabut nyawaku ketika aku sudah merasakan masakan otak yang paling enak. Jika nyawaku dicabut ketika syaratku belum terpenuhi, maka arwahku akan gentayangan. Maukah kau mencarikan atau memasak otak yang paling enak untukku?”

Tuhan, ingin rasanya aku menangis. Tapi tidak, aku tidak boleh menangis di hadapan Katrina. Baiklah Tuhan. Jika memang kepergian Katrina merupakan keputusan yang terbaik untuknya menurut-Mu, aku akan mengiklaskannya. “Iya, Kak. Aku akan memasak otak yang paling enak untukmu.” Ku tahan tangisanku dalam senyuman yang ku paksakan.

**

Sudah hari ke lima ini aku memasak otak dengan berbagai jenis olahan masakan. Tapi Katrina masih juga mengatakan otaknya terlalu kecil, otaknya terlalu besar, otaknya terlalu kenyal, dan komentar dengan kata terlalu lainnya. Asal kalian tahu, tapi tolong jangan kasih tahu kepada Katrina bahwa aku telah menyajikan otak dari berbagai jenis hewan, mulai dari ayam, kambing bahkan anjing. Tapi ku kira semuanya juga sia-sia. Bukannya aku membenci, namun aku berpikir bahwa sebaiknya Katrina segera pergi supaya aku tidak melihatnya tersiksa lebih lama.

Ini merupakan hari ke enam, aku kembali menyajikan otak di depan mata Katrina. Untungnya makannya kali ini terlihat lebih lahap dari yang kemarin. Aku ingin menangis, apakah aku salah dalam hal ini? Segera ku seka air mataku ketika Katrina selesai makan.

“Dik, otak yang ini rasanya cukup enak. Tidak seperti otak yang kemarin. Ini otak apa?’ Aku kaget dan tidak tahu harus menjawab apa. Biasanya Katrina tidak menanyakan otak apa yang ku olah. Tapi sekarang mengapa ia tiba-tiba menanyakan? Apakah ia memiliki firasat?

“Duh, otaknya habis. Bagaimana dengan kucingku? Akan ku beri makan apa? Kemarin waktu otak yang harusnya ku makan, bisa ku berikan kepada kucingku. Kucingku selalu menerima otak yang diolah bagaimanapun itu. Bisakah kau memberikan lauk apapun untuk kucingku? Oh ya, di mana kucingku? Kemana dia?” lanjut Katrina.

“Kak, kucing kakak sedang ku ajak keluar sebentar. Dia penat jika selalu berdiam diri di bangsal. Tadi pagi ketika aku ke sini, kucingmu mengeow di pintu bangsal seolah-olah memohon untuk dibebaskan keluar.”

“Oh kucing yang malang. Maafkan aku yang selalu mengurungmu di bangsal ini. Oh ya satu lagi, Dik. Besok adalah hari ke tujuh. Kamu harus memasak otak yang paling enak untukku. Kasihan Izrail lama menungguku yang tidak kunjung siap untuk diajak bertemu dengan Tuhan.” Aku mendesah dengan kuat. Aku bingung otak apa yang harus ku masak besok.

**

Ini adalah hari ke tujuh aku memasak otak. Aku pun sebenarnya merasa jenuh terus memasak otak tiap hari dalam satu minggu. Semoga saja ini usaha ku yang terakhir, karena semakin ke sini aku pun merasa kesal dengan Katrina.

“Selamat pagi, Kak. Bagaimana istirahat malammu? Apakah kamu merasakan pusing?” tanyaku dengan rasa bersalah yang amat mendalam.

“Ah baik, Dik. Cuma sedikit pusing. Bagaimana? Sudah membawakan otak yang aku harapkan?” Suara Katrina terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.

“Sudah. Ini, silakan dimakan. Ini spesial karena ku masak dengan sepenuh hati.” Kemudian Katrina langsung merebut piring berisi otak dari tanganku dan langsung memakannya dengan sangat rakus.

“Ini sangat enak, Dik. Ini yang aku harapkan selama ini.” Ucapnya menggebu-gebu.

“Akhirnya …,” aku bernafas lega.

“Ngomong-ngomong, ini otak apa?”. Deg. Aduh bagaimana ini. Apakah harus aku katakan dengan jujur?

“Cepatlah, Dik. katakan, Izrail sudah terlalu lama menunggu. Aku kasihan. Nanti akan ku ceritakan kepada Tuhan bahwa ada ciptaanya yang sangat enak untuk dimakan. Aku akan memuji kehebatannya, langsung di depannya,” tambahnya.

“Baiklah akan ku beri tahu. Semalam ketika kamu terlelap, kamu berteriak-teriak, Kak. Katamu, masak saja otakku, masak saja otakku. Maka dengan pertimbangan selama tiga jam, akhirnya aku berani membelah kepalamu dan mengambil otakmu untuk ku masak. Lalu bagaimana kepalamu bisa terbentuk lagi? Aku menggunakan lem alteko untuk kembali merekatkan belahannya,” kataku dalam isakan tangis. “Maafkan aku, Kak.”

“Otakku .., otakku ya? Ternyata otakku enak untuk dimakan. Aaah otakku. Baiklah. Kamu tak usah minta maaf. Aku justru ingin berterima kasih karena berkatmu akhirnya aku bisa merasakan masakan yang paling enak. Sekarang waktunya aku untuk pergi. Izrail telah menungguku. Tapi di mana kucingku? Aku ingin berpamitan dengannya.”

Tangisanku semakin deras. Aku merasa sangat durhaka kepada kakakku sendiri. “Kucingmu? Maafkan aku, Kak. Otak yang kemarin yang kau bilang lumayan enak, itu adalah otak kucingmu. Maaf, aku terlalu frustasi dan tidak tahu harus memasak otak apa.”

“Kucingku? Kamu bunuh? Otaknya kau masak? Dan ku makan? Ah, kucingku sudah mati? Aaahhh.. kamu cerdas sekali, Dik. Dengan begitu, aku memiliki teman jika sudah mati. Terima kasih, Dik. Aku bahkan tidak kepikiran dengan ide tersebut.” Ia mengguncang tubuhku kemudian memelukku dengan sangat erat. Aku bahkan merasa kesulitan untuk bernapas.

Lalu ia melepaskan pelukannya dan berkata, “Terima kasih, Dik. Kamu sudah mau merawatku selama aku hidup. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi. Izrail sudah memberiku kode. Katanya ia masih ada tugas lain.”

Penulis: Aslamatur Rizqiah (Mahasiswi S1 Sastra Indonesia 2019)
Editor: Winda Ghaida, Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *