NKCTHI, Film Layar Keluarga Awal Dekade

Poster promo film NKCTHI (Sumber: google)

Satu lagi karya tulis yang diangkat ke layar lebar. Kali ini datang dari buku best seller berbentuk novel flash fiction karangan Marchella FP. Kehadirannya menjadi pembuka manis kontestasi perfilman nasional di awal tahun 2020. Drama keluarga bertajuk Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), seperti sebuah magnet yang kedua kutubnya menarik banyak pecinta film lokal. Terbukti dari awal press conference, launching official poster, hingga trailer keluar, antusiasme masyarakat begitu tinggi menunggu film ini tayang. Selain karena buku NKCTHI sendiri yang telah disayang banyak pembaca, kolaborasi apik antara Jenny Jusuf sebagai penulis skenario dan Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara mampu menghasilkan tontonan yang tidak mengecewakan. Ekspektasi tinggi dari masyarakat ditangkap positif oleh tim produksi. Mereka berhasil mengembangkan buku keluaran tahun 2018 itu menjadi sebuah drama keluarga yang hangat, dekat, dan memikat.

Dalam pembuatannya, tim produksi NKCTHI mempublikasikan proses shooting yang dikemas dalam bentuk video diary sebagai salah satu strategi branding mereka. Bahkan akibat banyaknya permintaan, penayangan perdana film NKCTHI dipercepat dari 9 Januari menjadi 2 Januari. Timing ini jelas akurat mengingat awal dan akhir tahun adalah momen liburan dan berkumpul bersama keluarga. Banyaknya penonton di hari pertama penayangan menunjukkan bahwa genre film seperti ini ternyata masih punya tempat di hati para pecinta film. Stigma masyarakat tentang film keluarga yang membosankan berhasil dipatahkan oleh tangan magis Angga Dwimas Sasongko. Cakupan konflik keluarga yang dianggap sempit dibuat menjadi begitu hidup dan kompleks olehnya.

Menyajikan kehidupan sebuah keluarga modern di Kota Metropolitan, Keluarga Narendra punya versi cerita sendiri, termasuk cerita tiap-tiap anggota keluarganya. Alur maju-mundur yang ditampilkan memperjelas sejarah keluarga mereka dengan segala tetek bengek kehidupan. Seperti salah satu tagline yang film ini bawa, ‘setiap keluarga punya rahasia,’ trauma masa lalu yang pernah datang secara otomatis membentuk karakter tiap anggota keluarga. Sosok Ayah yang berubah menjadi tipe kepala keluarga diktator, Ibu yang pandai menyimpan luka batin, Angkasa yang memikul beban berat bertahun-tahun, Aurora yang tidak pernah menjadi pertama, hingga Awan, bungsu yang haus kebebasan, semuanya terangkum menjadi satu sampai akhirnya situasi berubah menjadi rumit dan melankolis.

Konflik tiap tokoh dalam film ini diangkat dengan cukup detail. Ide cerita dan dialognya terasa fresh dan begitu dekat. Itulah yang membuat penonton mudah memahami adegan demi adegan dan masuk ke dalam cerita. Dari segi sinematografi, angle yang dipilih cukup dapat mendramatisir adegan yang sedang berlangsung. Selain itu, transisi menuju scene animasi berjalan dengan halus dan terkesan modern. Namun dari keseluruhan cerita, bagian akhir dari film ini seperti agak dipaksakan. Mulai dari hubungan Ayah dan Angkasa yang tidak dijelaskan secara gamblang bagaimana proses mereka bisa bersatu kembali, hingga keputusan besar yang dipilih Aurora. Image yang dibangun dalam film ini juga seakan hanya berkutat di konflik Ayah dan Awan. Padahal NKCTHI menyuguhkan cerita yang lebih dari itu.

Film NKCTHI mungkin akan menjadi film keluarga yang sukses setelah Keluarga Cemara dan Dua Garis Biru, mengingat di hari pertama penayangannya, film ini mampu meraih lebih dari seratus delapan belas ribu penonton. Mungkin juga akan menginisiasi munculnya film-film bergenre drama keluarga lain di tahun 2020. NKCTHI menjadi tontotan yang cocok untuk mengisi waktu libur awal tahun bersama keluarga. Selain untuk mengisi waktu luang, juga bisa menjadi refleksi dalam mempererat hubungan antar anggota keluarga, karena pada akhirnya keluarga akan selalu ada, dan keluarga adalah satu-satunya rumah tempat kita pulang. (Safrin/Manunggal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *