Ngopi 1, Pahami Sensor Media dalam Fenomena Sosial

Salah satu pembicara dalam #Ngopi1 memaparkan materi diskusi di Lab. 101 Gedung Litigasi FH Undip, Kamis (24/3). (Adi/Manunggal)

Salah satu pembicara dalam Ngopi 1 memaparkan materi diskusi di Lab. 101 Gedung Litigasi FH Undip, Kamis (24/3). (Adi/Manunggal)

 

ManunggalCybernews—Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gema Keadilan Fakultas Hukum (FH) Undip mengadakan Ngopi (Ngobrol Pintar) 1 dengan mengangkat topik diskusi “Kesalahpahaman Masyarakat atas Maraknya Sensor yang Dianggap Berlebihan” di Lab. 101 Gedung Litigasi FH Undip, Kamis (24/3). Para peserta yang hadir mendiskusikan maraknya kontroversi di sosial media mengenai sensor yang dinilai masyarakat berlebihan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Perwakilan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Semarang, Arif menerangkan kebijakan dalam penyensoran tidak sepenuhnya dilakukan oleh Lembaga Sensor Media (LSM) atau KPI. Lembaga penyensoran pada masing-masing media juga memiliki wewenang untuk mengatur sensor pada penayangan informasi.

“Sensor internal itu ada dan dilakukan oleh lembaga penyiaran itu sendiri. Hal tersebut diperlukan agar sebuah program nyaman untuk ditayangkan. Program yang baik itu tidak cuma bagus saja, akan tetapi juga layak untuk dilihat,” ujar Yudha, perwakilan dari KPI Daerah Jawa Tengah.

Produser News NET TV, Noviar Jamaal Kholit mengungkapkan, pedoman-pedoman yang benar dalam menilai baik buruknya suatu konten acara yang ditonton perlu diperhatikan.

“Kami cukup banyak menerima kritik dan saran dalam masyarakat terkait siaran yang beredar di NET, dan kami berusaha semaksimal mungkin untuk menghadirkan tayangan yang tidak hanya informatif, tapi juga edukatif terhadap pembaca. Untuk landasannya sendiri bisa dilihat full terdapat di UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Selain itu, kita sendiri pastinya bisa memilah, mana tayangan yang baik untuk ditonton atau tidak. Semua juga bersumber dari hati nurani masing-masing,” kata Noviar ketika menjawab pertanyaan dari salah satu peserta diskusi. (Fajrin/Manunggal)