Menyingkap Dunia Lewat Buku

(Dok. Istimewa)

(Dok. Istimewa)

Mengapa kita perlu membaca buku? Saya akan mengawali tulisan ini dengan pertanyaan tersebut. Barangkali, sebagian dari kita bertanya-tanya, memang apa pentingnya membaca? Toh, segala informasi bisa kita saksikan melalui YouTube dan televisi, bisa kita dengarkan lewat radio, bahkan kita dengan gampang bisa menggulirkan layar gawai kita ke bawah untuk mengakses informasi terkini di sosial media.

Ini merupakan sebuah fenomena. Ada banyak pemuda yang malas membaca, tapi bersedia dan senang-senang saja untuk menatap layar ponsel selama berjam-jam ketika mengakses sosial media.

Milan Kundera, seorang penulis Perancis menyatakan, “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.” Kutipan tersebut mengindikasikan pentingnya sebuah buku. Bagi saya, membaca buku dan membaca tulisan di sosial media adalah dua hal yang berbeda. Dari buku, kita dapat memperoleh informasi mendalam mengenai suatu topik tertentu. Dari sosial media, apa yang kita dapat baru berupa permukaan saja: belum tentu benar, tapi bukan berarti selalu salah.

Saya tidak membatasi makna “buku” sebagai suatu hasil tulisan cetak, melainkan segala versinya, termasuk buku elektronik. Segala macam buku memiliki proses penulisan yang lebih rumit dan barangkali riset panjang, sehingga isinya bukan sesuatu yang remeh-temeh. Tapi tidak demikian dengan tulisan yang ada di sosial media. Memang, hal ini tidak dapat digeneralisasi begitu saja. Membaca tulisan dari media terpercaya memang bermanfaat, tapi jangan lupa pada fakta bahwa ada begitu banyak informasi hoaks tersebar di internet. Mengapa? Setiap orang bebas menulis dan membagikan apapun di internet, tetapi tidak setiap orang bisa menulis buku. Pernyataan semacam ini tampaknya berkali-kali telah diungkapkan oleh orang-orang.

Alih-alih dibodohi internet, mari gunakan internet sebagai wahana yang membuat kita lebih cerdas. Sebab, sebetulnya, adanya internet memudahkan akses kita menuju buku-buku elektronik dari seluruh dunia.

Terlebih lagi, hasil penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 (dilansir dari Kompas.com) menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara mengenai minat membaca. Di sisi lain, Indonesia menempati peringkat ke-34 dalam penilaian komponen infrastruktur. Dua fakta yang beroposisi ini sepatutnya membuat kita miris, karena infrastruktur yang memadai ternyata belum mendukung peningkatan minat membaca. Jadi, kapan kita akan mulai memanfaatkan buku-buku, perpustakaan, dan segala kemudahan yang kini melingkupi kita?

Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dari Brazil mengatakan “Reading the world always precedes reading the word, and reading the word implies continually reading the world.” Mari kita memaknai kalimat tersebut seluas-luasnya, sepemahaman kita.

Selamat Hari Buku Nasional!

Suryaningrum Ayu Irawati
Mahasiswa Sastra Inggris Angkatan 2014
Fakultas Ilmu Budaya