Menyelisik Fungsi BEM di FIB Undip

ManunggalCybernews—“Berkaca dari tahun sebelumnya jujur ya mungkin tidak perlu”

Begitulah jawaban Rizky Riawan, Mahasiswa S1 Sastra Indonesia, ketika ditanya perlu tidaknya mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) memiliki Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Rizky juga menjelaskan kepada saya bahwa pernyataannya berasumsi pada kinerja BEM FIB di tahun sebelumnya yang tidak terlihat. “Dalam artian BEM tuh sebenarnya buat apa gitu? Buat apa ada BEM kalau misalkan mahasiswa sendiri secara keseluruhan tidak mengerti (red, esensinya),” jelasnya.

Tidak hanya itu, Rizky juga memilih untuk golput saat Pemilihan Raya (Pemira) FIB. Dia menunjukan rasa kecewa mengapa hanya ada satu pasangan calon (paslon) saja, dan nantinya harus berujung aklamasi. “Tentu saja saya golput. Yang pertama dari calonnya sendiri disandingkan dengan kotak kosong,” terangnya.

Ia juga mengkritisi keputusan paslon tunggal mengundurkan diri guna mengganti calon wakil ketuanya. Menurut Rizky, hal tersebut terkesan tidak tegas dalam memilih keputusan. “Terus ada yang mengundurkan diri dan segala macamnya dan saya juga tidak paham kenapa latar belakang mereka mengundurkan diri. Tetapi, itu sama sekali tidak mencerminkan sosok BEM itu sendiri,” tambahnya.

Fungsi dan tujuan BEM FIB

Merujuk pada AD/ART BEM FIB tahun 2018 Bab IV Pasal 7 tentang Fungsi dan Tujuan, tertulis dengan jelas poin-poin mengenai fungsi dan tujuan BEM FIB. Pada bagian Fungsi terdapat empat poin yang mengangkat topik tentang pengembangan potensi, pengembangan kepemimpinan dan manajemen, penanggung jawab alur kaderisasi, dan penampung aspirasi.

Adapun Tujuan BEM FIB Undip terdapat lima poin yang mengangkat topik tentang pembentukan karakter berdasarkan Pancasila dan Tridharma Perguruan Tinggi, meningkatkan kualitas mahasiswa, membentuk SDM yang berkepemimpinan, membangkitkan jiwa kewirausahaan, dan menanamkan rasa kepedulian.

Pembina BEM FIB, Rifka Pratama, ketika saya wawancarai menuturkan bahwa BEM itu berperan sebagai wadah mahasiswa untuk mengasah skill dan juga penampung aspirasi. Dia juga menambahkan peran lain BEM yaitu mengadakan kegiatan-kegiatan yang membangun. “Dan terakhir, menyelenggarakan kegiatan yang bersifat positif dalam konteks kehidupan kampus. Tentu saja yang berorientasi pada Tridharma Perguruan Tinggi,” jelasnya.

Lantas, ada apa dengan BEM FIB

Setelah kemenangan kotak kosong, mahasiswa FIB harus menunda memiliki sosok pemimpin anyar. Hal itu dikarenakan proses Pemira dilanjutkan dengan Kongres Mahasiswa Istimewa (KMI) dengan Senat Mahasiswa (SM) FIB sebagai penanggung jawabnya.

Namun, Rifka jauh mengamati lebih dalam, bukan hanya soal kekosongan pemimpin saja, tetapi juga tingginya tingkat golput yang menurut Infografik LPM Hayam Wuruk mencapai 81%. “Mungkin perlu ada gebrakan yang kemudian bisa memunculkan antusiasme mahasiswa dalam berorganisasi,” ujarnya.

Berbeda dengan Rifka, Kasubbag Kemahasiswaan FIB, Gayatri Wardhani, mengatakan belum terbentuknya BEM FIB ini berakar dari kesiapan Panitia Pemilihan (Panlih) yang dinilai kurang. “Iya, pemilihannya memang kurang berhasil karena yang menang kotak kosong. Mungkin sosialisasinya saja yang kurang luas. Di samping itu juga pas liburan juga. Jadi, hanya itu saja kok,” tuturnya. (Alfiansyah/Manunggal)