Mengenal Gambang Semarang dari Pakarnya

ManunggalCybernews – Dalam acara Forum Trademark Semarang yang digelar oleh JatengYouth pada Sabtu (14/12) di Rumah Dinas Walikota Semarang, puluhan muda-mudi Kota Semarang diajak untuk mengenal budaya lokal lebih jauh. Salah satu budaya lokal yang dimaksud adalah Gambang Semarang, sebuah pertunjukkan kolaborasi antara musik, vokal, tari, dan lawak khas Semarang.

Acara yang mengusung tema Participate and Create Your City ini dibuka dengan penampilan Gambang Semarang dari Kesenian Gambang Semarang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (KGS FIB Undip) yang membuat para peserta berdecak kagum dan bertepuk tangan riuh. Usai penampilan tersebut, Dhanang Respati Puguh, seorang pakar Gambang Semarang tampil membawakan materi berjudul Generasi Muda dan Gambang Semarang. Di awal materinya, Dhanang menjelaskan secara detail mengenai Gambang Semarang. “Gambang Semarang merupakan seni pertunjukkan tradisi kerakyatan yang terdiri dari unsur musik, vokal, tari, dan lawak,” katanya menerangkan.

Dhanang memaparkan, hasil penelitian yang ia lakukan menunjukkan bahwa Gambang Semarang miskin instrumentasi akibat tidak adanya alat musik gesek yang digunakan dalam Gambang Semarang. Menurut penuturan Dhanang, hal ini dikarenakan relatif susahnya memainkan alat musik gesek sehingga perlu keahlian khusus serta latihan yang cukup lama dan intensif untuk dapat memainkannya dengan baik.

Selain itu, Dhanang juga memaparkan eksistensi Gambang Semarang di kalangan generasi muda. Di matanya, citra Gambang Semarang di kalangan generasi muda belum populer dan tergeser dengan adanya faktor internal, yaitu citra negatif seperti kuno, ketinggalan zaman, tidak gaul, dan monoton, serta faktor eksternal, yakni globalisasi dan marjinalisasi Gambang Semarang. “Budaya asing menawarkan modernitas sehingga timbul stigma di kalangan generasi muda bahwa budaya kita kuno,” ujarnya.

Meskipun demikian, Dhanang mengaku senang dengan adanya upaya-upaya pelestarian Gambang Semarang dari beberapa komunitas pemuda di Semarang. Dhanang menuturkan bahwa pelestarian budaya itu tanpa disadari dapat meningkatkan pendapatan daerah. “Upaya-upaya pelestarian Gambang Semarang perlu diapresiasi. Saya mengajak seluruh muda-mudi Semarang untuk turut melestarikan budaya lokal kita. Kalau bukan kita yang melestarikannya, lalu siapa lagi?” tutur pakar Gambang Semarang yang juga Dosen Jurusan Sejarah FIB Undip ini sebelum mengakhiri materinya. (Nina/Manunggal)