Mengapa Membaca?

Pertengahan minggu lalu saya kedatangan tamu yang, di luar perkiraan saya sebelumnya, saya persilakan ia masuk ke dalam kamar saya. Ia sering berkunjung ke rumah kami, bukan untuk silaturahmi, lebih-lebih karena ibu saya seorang penjahit dan ia salah satu pelanggannya. Tubuhnya putih, kecil, dengan rambut sepunggung yang selalu diikat. Ia tak pernah melepaskan kacamata. Suaranya cempreng namun terdengar lembut dan cara bicaranya ceplas-ceplos. Usianya, saya perkirakan, tidak jauh dari usia ibu saya yang lahir tahun 70an. Waktu muda ia pasti cantik, pikir saya. Kami memanggilnya Mbak Siti, terutama karena seperti itulah ibu saya memanggilnya.

            Peristiwa itu terjadi selepas magrib, ketika saya membaca buku di ruang tamu yang sepi dan seseorang mengetuk pintu. Yang datang Mbak Siti, dan ia hendak menjahitkan baju. Saya persilakan ia duduk dulu kemudian saya panggil ibu, sebelum saya memutuskan untuk masuk ke kamar di lantai atas. Entah apa yang diperbincangkan mereka kala itu (kelak ibu saya akan berkata, waktu itu mereka bercakap tentang saya, kuliah saya, hobi saya membaca, dan sebagainya), hingga tidak lama setelah itu saya dipanggil turun. Mbak Siti masih di sana dan memandang ketika saya masuk ruang tamu. Ibu meminta saya mengajak Mbak Siti melihat-lihat koleksi pustaka saya yang, kalau menurut ukuran saya sendiri, masih sangat sedikit—tidak lebih dari empat ratus judul buku.

            Saya mengajaknya, kemudian terjadi permbicaraan. Sebetulnya, ia yang banyak bercerita dan saya hanya menimpali kadang-kadang. Baru saat itu saya tahu fakta-fakta tentangnya: bahwa Mbak Siti sudah punya anak tiga dan yang tertua sudah kelas tiga SMA; bahwa setiap hari ia dan suaminya berjualan dawet di persimpangan rel kereta dekat Stasiun Tawang menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi; bahwa ia hanya lulusan SMA; dan, yang paling mengejutkan saya, kegemarannya membaca. Tidak tanggung-tanggung, ia ibu rumah tangga dan penjual dawet pertama yang saya pernah temui yang mengenal Salman Rushdie dan Orhan Pamuk. Barulah, sejak di titik itu, ia berhasil menarik perhatian saya dan mengalirlah diskusi yang tak henti-hentinya.

Saya terenyuh mengetahui hal itu mengingat tingkat budaya membaca di lingkup pergaulan saya yang lain: kampus. Saya, yang kuliah di jurusan Sastra Indonesia,  tidak hendak mengatakan—tentunya dengan nada sok pamer—bahwa hanya saya yang melek sastra di kampus saya.

                 Memang, ada beberapa kawan yang suka membaca dengan keragaman tema (biasanya sastra motivasi dan sastra islami), namun, yang mengejutkan saya, ada teman, sesama anak jurusan Sastra Indonesia, yang tidak mengenal nama Pram. Bahkan ada yang mengaku dengan bangga tidak pernah membaca satu buku pun seumur hidupnya, dan saya tahu tidak hanya satu-dua orang saja yang melakukannya.

            Menurut kalkulasi terakhir yang saya baca—saya lupa sumbernya di mana, tapi, tentunya, saya dapat di internet—bahwa masyarakat Indonesia sangat terbelakang dalam hal ini. Ketika di Amerika dan Jepang rata-rata penduduknya membaca 8 jam sehari, di negeri ini tidak lebih dari 2 jam. Di Amerika, contohnya, anak-anak sekolah lanjutan diwajibkan untuk menamatkan The Catcher In the Rye karya J.D. Salinger; sedang di beberapa sekolah di negara lain (kalau tidak salah: Rusia, Australia, dan lain-lain) mewajibkan anak didiknya untuk membaca karya  Pram. Di Indonesia? Sejauh pengetahuan saya, tidak pernah ada peraturan semacam itu. Pram lebih dianggap sebagai setan komunis oleh kebanyakan manusia Indonesia.

            Tidak sepenuhnya hal ini merupakan kesalahan masyarakat; pemerintah mesti sadar akan hal ini. Tidak adanya peraturan atau kurikulum yang menggiring anak-anak untuk senang membaca; perpustakaan-perpustakaan yang lebih mirip kuburan dengan koleksi mumi-mumi berdebu; harga buku yang kelewat mahal, yang merugikan baik pembaca maupun penulis, adalah beberapa contoh penyebab utama dalam masalah ini.

            Baiklah, jika dirunut lebih jauh, sebetulnya apa guna membaca? Pertanyaan ini sering diajukan kepada saya oleh orang-orang yang sering melihat saya membaca dan si penanya sendiri tidak pernah membaca. Tidak saya pungkiri, saya geram ketika mengetahui teman saya ada yang tidak mengenal Pram: sebab ia kuliah di kampus sastra. Sedang untuk masyarakat awam, yang bekerja sebagai buruh, petani, nelayan… adakah kegunaan membaca bagi mereka? Saya tidak terlalu mengamini pepatah lama “Buku adalah jendela dunia”. Tidak, pepatah itu tidak berlaku bagi masyarakat kelas bawah. Saya lebih percaya, lebih seperti intuisi, bahwa membaca memberi kita pandangan yang lebih luas. Dengan begitu, cara berpikir kita berubah; kita bisa melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu, karena terlebih dahulu berpikir dengan cara yang semestinya, apa sikap yang kita ambil dalam permasalahan yang muncul menjadi lebih tepat. Singkatnya, membaca membuat hidup kita lebih tentram dan bahagia.

            Mbak Siti kini sering berkunjung ke rumah saya. Kadang ia membaca di tempat atau berdiskusi dengan saya sambil menikmati dawet sisa jualannya, seringnya ia datang untuk berusaha meminjam buku saya, yang tentu saja tidak pernah saya izinkan—ada pepatah yang mengatakan,

“Sebodoh-bodohnya orang adalah yang meminjamkan buku, lebih bodoh lagi adalah orang yang mengembalikan buku,” dan saya mengamini pepatah itu.

“Aku sering dimarahi suamiku soalnya kalau punya duit selalu aku habisin di Gramedia. Tapi aku sih cuek aja,” katanya sambil tertawa. Ia sering tertawa. Saya kira hidupnya sangat tentram dan bahagia.

Irman Hidayat
Mahasiswa Sastra Indonesia, FIB