Menambah Wawasan Pers dari Monumen Pers Nasional

Suasana Monumen Pers Nasional menjelang HUT RI ke-70 di Surakarta, Jawa Tengah. (Nina/Manunggal)

Suasana Monumen Pers Nasional menjelang HUT RI ke-70 di Surakarta, Jawa Tengah. (Nina/Manunggal)

ManunggalCybernews—Menjelang peringatan tujuh puluh tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kemegahan Monumen Pers Nasional di Jalan Gajah Mada dan Jalan Yosodipuro, Surakarta, Jawa Tengah, semakin terasa dengan berkibarnya beberapa bendera merah putih di depan gedung museum.

Museum yang terdaftar sebagai Cagar Budaya Indonesia Pers Nasional ini, berdiri setelah 20 tahun diusulkan dan dioperasikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia, yaitu pada 1978. Kompleks monumen terdiri dari gedung societeit lama yang dibangun pada 1918 untuk pertemuan pertama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan beberapa gedung tambahan yang didirikan pada 1970an.

Museum ini menyimpan lebih dari satu juta surat kabar dan majalah yang diterbitkan sebelum dan sesudah Revolusi Nasional Indonesia dari berbagai daerah. Terdapat pula koleksi lain yang meliputi teknologi komunikasi dan teknologi reportase, antara lain mesin penerbangan, mesin ketik, mesin pemancar, telepon, dan kentongan besar. Pengunjung juga dapat menemukan pahatan kepala tokoh-tokoh penting dalam sejarah pers Indonesia, seperti Tirto Adhi Soerjo, Djamaluddin Adinegoro, Sam Ratulangi, dan Ernest Douwes Dekker, di serambi utama monumen.

Pahatan kepala tokoh-tokoh penting dalam sejarah pers yang dipajang di serambi utama Monumen Pers Nasional. (Nina/Manunggal)

Pahatan kepala tokoh-tokoh penting dalam sejarah pers yang dipajang di serambi utama Monumen Pers Nasional. (Nina/Manunggal)

Para pengunjung tidak dipungut biaya untuk dapat masuk ke Monumen Pers Nasional. Keadaan di dalam gedung pun sangat terjaga kebersihannya, sehingga membuat pengunjung merasa nyaman untuk menambah wawasan seputar dunia pers. (Nina/Manunggal, dari berbagai sumber)