Mempertanyakan Diponegoro Muda

“Pihak Belanda mengasingkannya ke Manado dan kemudian ke Makassar, tempat dia wafat pada tahun 1855,” (Ricklefs, 2008:256)

Berangkat dari rasa ingin tahu dan kesadaran untuk melakukan verifikasi data, saya mendatangi perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya seusai kuliah. Semalam (17/03) saya terkejut dengan salah satu kiriman dari official account (OA) line BEM UNDIP Dalam kiriman tersebut, pihak BEM mengunggah foto patung Pangeran Diponegoro sedang menunggangi kuda yang kedua kaki depannya terangkat sementara Pangeran menunjuk kearah depan. Foto tersebut dibubuhi keterangan demikian:

Patung kuda yang Pangeran Diponegoro tunggangi mengangkat kedua kakinya.
Itu melambangkan bahwa Pangeran Diponegoro Gugur di medan perang.
#SeberapaCintaKamuDenganUndip ?

Sebagai orang yang ekspresif dan reaktif, saya langsung membagikan kiriman tersebut ke beranda LINE saya. Kala itu saya berkomentar,

“Apa hubungannya kaki kuda yang diangkat sama gugurnya Pangeran?Kan Pangeran meninggal di Minahasa min. Mbok cerdas dikit, baca kuasa ramalan ato apa kek”

Memang saya salah mengingat lokasi pengasingan Pangeran, kemudian saya ralat dengan mengutip buku M.C. Ricklefs pada kolom komentar, tapi saya tahu benar bahwa Pangeran meninggal di pengasingan, bukan di medan perang. Hal ini saya lemparkan kepada beberapa kawan yang memiliki tanggapan beragam. Ada yang memberikan informasi dari internet bahwa patung kuda dengan gestur kaki tertentu memiliki makna yang berbeda-beda, ada yang menduga ini adalah telaah semiotika, hingga berkelakar bahwa kiriman ini bisa menjadi bahan skripsi linguistik.

Terlepas dari masalah makna kaki kuda, menurut hemat saya, menyatakan Pangeran Diponegoro gugur di medan perang adalah sebuah kekeliruan. Kiriman yang dimaksud sebagai trivia ini telah memberikan pemahaman yang keliru kepada followers OA BEM UNDIP. Hingga artikel ini ditulis (18/3), belum ada ralat untuk kiriman yang telah menuai 98 penyuka dan dibagikan 14 kali tersebut, dan saat pengecekan kembali pada Sabtu (19/3) ternyata kiriman tersebut dihapus, dan masih tanpa ralat. Perkara penyebab atau lokasi meninggalnya sang Pangeran mungkin terlihat sepele, namun Pangeran Diponegoro adalah bagian dari sejarah panjang bangsa ini, masa lalu yang dijadikan pembelajaran supaya kelak bangsa ini menjadi lebih arif. Tanpa masa lalu, tidak ada masa depan. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya?

Menyandang nama Diponegoro sebagai universitas tempat bernaung untuk menuntut ilmu, alangkah bijak jika sivitas akademika di universitas ini mengenal dan mempelajari kehidupan Pangeran melalui literatur yang relevan seperti Kuasa Ramalan atau Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 karangan Peter Carey, yang telah melakukan studi seumur hidup tentang Pangeran Diponegoro dan awal abad kesembilan belas Jawa.

Sekali lagi, jangan sekali-sekali melupakan sejarah.
Selamat membaca!

Annas Karyadi

Sastra Indonesia 2013

Fakultas Ilmu Budaya