Memfiksikan Kitab Suci

Ilustrasi: Faqih

Menukil cuitan @ivanlanin, “Kata itu netral, tafsir manusia membuatnya memihak.” Begitulah nasib kata ‘Fiksi’ hari ini. Alih-alih menyelamatkan kata ‘Fiksi’ dari peyoratif atau keruntuhan wibawa, argumen Rocky Gerung perihal “Kitab Suci adalah fiksi,” di politainment Selasa lalu akhirnya berbuntut pada kecemasan atman ‘tidak dapat dimengerti’. Puthut E.A pun sampai-sampai kemarin hari turut angkat pena di laman Mojok.co. Sayang, upayanya dalam mengurai distingsi makna ‘Fiksi’ justru semakin meramaikan gulat sengit dialektika dua arah warganet.

Katakanlah premis yang sebenarnya sedang kita pergunjingkan adalah Kitab Suci dan Fiksi. Bersamaan dengan kesadaran rohani, tentu secara spekulatif mendengarnya saja sudah membuat sebagian kita geram. Tapi pertanyaanya adalah, sudahkah kita menyentuh lalu membaca kitab suci petang ini? Kenyataan inilah yang agak menggelikan. Hemat saya, semoga apa yang disebut dengan adh’aful iimaan (selemah-lemahnya iman) masih status yang layak bagi kita dalam membincangkan kefiksian kitab suci.

Di tengah melambungnya kata ‘Fiksi’, apapun citranya, betapa pun ragamnya pendapat dalam soal ini, kita tetap membutuhkan semacam resultante untuk memperoleh patokan-patokan bruto dari kata ‘Fiksi’. Sungguh saya sangat tertarik jika kita mulai dari koherensi kecenderungan nalar fiksi yang kita punyai. Pada satuan-satuan sosial sekuler maupun religius, kefiksian kita bertingkat pada level-level, umpamanya level keadatan, ideologis, teologis, serta level kultural yang beraneka rupa ornamen dan fungsinya. Seperti Weber dengan ‘tipe ideal’nya, “Di dalam tindakan tercakup semua perilaku manusia asalkan pelakunya menyandangkan sebuah makna subjektif pada tindakan itu,” (Chris Jenks, 2013:71).

Mengacu pada level-level di atas, ada ihwal yang menurut saya dapat mengukur kadar nalar fiksi kita. Pernahkah kita berpikir? hantu di taraf imaji selalu identik dengan peradaban di mana ia berasal. Drakula berpakaian jas potongan Eropa, vampir Cina dengan baju bangsawannya, dan mumi Mesir selalu dengan balutan perbannya. Mereka berdomisili pada ruang nalar masyarakatnya dan akan tidak logis jika keluar dari habitat mereka. Ada yang pernah dengar penampakan pocong di Vatikan?

Demikian pula alien. Sejauh ini dari visualisasi film-film yang umum kita lihat. Di jagat raya yang digambarkan begitu luas, adakah tubuh alien yang tidak mampu kita jabarkan? Yap, dapat dipastikan anatomi fisik alien selalu memakai organ-organ yang kita sudah ketahui; mulai dari mata, tangan, kaki, rambut, belalai, tentakel, sayap, dst. Belum lagi kita mengulik kehidupan dewa-dewa rambut pirang dalam mitologi Yunani, dewa mata sipit Asia Timur, hingga dewa kulit merah suku Maya. Bagaimana pula dengan bumi datar atau bulat? Hal-hal di atas kemudian membuat nalar dan emosi kita berdansa. Kita senang, marah, sedih mengikuti jalan ceritanya. Sampai lupa, kita tidak pernah benar-benar membuktikan. Tapi membenarkan dari apa yang kita anggap benar.

Nyatanya dunia nyata tak cukup muat untuk menampung hidup manusia. Lari lah kita pada drama, novel, komik, dan film-film. Daya khayal kita berkelana, terbangun lantas terbentuk. Selaras dengan pemahaman umum, fiksi itu mendahului dan menciptakan yang nyata (Aderson, 1991:164). Kemudian kita terinvolusi ke dalam bilik-bilik perspektif. Sejak kapan perokok itu terkesan maskulin lagi keren? Sejak kapan wanita cantik itu langsing lagi putih? Dan sejak kapan rindu itu berat? dalam perbincangan ini kita sedang dihadapkan pada sejauh apa kita hidup dengan fiksi.

Saya berusaha berjarak dengan Standar Katolog Perpustakaan Dewey (DDC) yang menempatkan Kitab Suci ada di kelas 200 (agama), dan Fiksi ada di kelas 800 (sastra). Berikut hasil diplomasi saya dari keduanya; ‘Fiksi’ tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran yang dapat mendramatisasikan hidup manusia. Fiksi bukan bicara nyata atau tidak nyata, melainkan tentang apa yg diyakini si penerima. Kematian adalah realitas. Dalam kitab suci, kebangkitan, hisab, surga atau neraka adalah janji-keyakinan yang mutlak. Karena begitulah cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Terlepas kitab suci sebagai korpus terbuka atau tertutup, adanya kitab suci agar manusia memahami tentang kehidupan akhirat dengan cara manusia sendiri yg tertabas oleh indra-indra duniawi. Namun, jika akhirnya muskil Kitab Suci dibilang fiksi. Ada narasi yang pas untuk menimang nalar kita. Selama kitab suci itu tidak diyakini kebenaranya maka dia fiksi baginya. Dan kita dengan sadar sejauh ini sudah ulung memfiksikan kitab suci.

 

Faqih Sulthan

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya

Ilustrasi: Faqih