Membunuh Hantu-Hantu Patriarki, Jabaran Pengenalan pada Feminisme

“Membunuh Hantu-hantu Patriarki”, sebuah buku bertemakan feminisme karya Dea Safira. (Sumber : Doc. Pribadi)

Judul buku: Membunuh Hantu-Hantu Patriarki

Penulis: Dea Safira

Penerbit: Penerbit Jalan Baru

Jumlah halaman: 196 halaman

Tahun terbit: 2019

 

Buku “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki” merupakan salah satu dari banyaknya buku yang membahas tentang feminisme; sebuah gerakan yang menuntut persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan. Feminisme selama beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan yang hangat di banyak kalangan, terutama di media sosial.

Buku ini dibagi menjadi tiga bab dan 38 sub-bab yang memberikan penjabaran berbeda antara satu dengan lainnya. Bab pertama yaitu “Pemikiran Perempuan”, Dea Safira selaku penulis buku membawa pembaca untuk berkenalan dengan gerakan feminis, yang ternyata gerakan ini tidak hadir pada beberapa waktu terakhir tapi sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan.

Beralih pada bab kedua yang diberi judul “Membangun Cinta Setara”, Dea lebih banyak menuliskan hubungan percintaan dari sudut pandang feminis. Yaitu bagaimana seharusnya dalam suatu hubungan tidak hanya menguntungkan pihak laki-laki saja serta menjadikan perempuan memiliki peran sekadar objek seksual serta stigma tidak menyenangkan lainnya yang sudah berkembang luas di masyarakat. Tidak melulu soal memberi kritik pada hubungan berpasangan yang terlalu patriarkis, pada bab ini juga memberi bahasan berupa bagaimana kita tidak seharusnya menghakimi seseorang yang memilih untuk tidak menikah. Ada pula pembahasan mengenai bagaimana seharusnya memuji tubuh entah hanya untuk sekedar memuji atau ingin menarik perhatian, yang ketika dibaca memberikan pengetahuan bahwa ternyata memuji pun bisa menyakiti perasaan seseorang.

Menuju bab terakhir yaitu “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki”, Dea memberi banyak kritik pada paham patriarki yang sudah begitu mendarah daging dalam ruang lingkup masyarakat. Mulai dari pergerakan organisasi mahasiswa yang mayoritas masih menjadikan laki-laki sebagai pihak pengambilan keputusan, narasi media yang masih saja menyudutkan korban pelecehan maupun kekerasan seksual, hingga ‘teror dosa’ yang menyatakan bahwa perempuan merupakan ladang dosa bagi para kaum laki-laki patriarki.

Semuanya ditulis oleh Dea dalam bentuk esai. Meskipun demikian, saya rasa Dea cukup berhasil membuat pembaca memahami betapa rumitnya hidup menjadi perempuan di negara yang mengagungkan maskulinitas ini. Tulisannya mampu menggerakkan pembacanya untuk menyadari bahwa patriarki memang seharusnya tidak perlu ada lagi untuk mengurusi ruang lingkup kehidupan. Dengan cara penulisannya yang tidak begitu kaku, sehingga pesan yang disampaikan dengan mudah dapat dipahami oleh pembaca, apalagi bagi yang baru mengenal paham feminisme dan ingin mencari tahu lebih lanjut menganai gerakan tersebut.

Sedang kekurangan yang saya tangkap dari buku ini, selayaknya sebuah kumpulan esai, tidak jarang penulisannya cenderung subjektif sehingga bisa saja menimbulkan perbedaan pandangan dalam pembahasan topik di dalamnya.

Penulis: Malahayati Damayanti Firdaus (Fakultas Kedokteran – Kontributor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *