Membumikan Pancasila

Membumikan Pancasila

Kita perlu menilik kembali sejauh mana Pancasila sebagai milik kolektif seluruh komponen bangsa dirasakan keberadaanya. Menjelang 72 tahun peringatan hari kelahirannya, kita harus menjadikannya bukan hanya sebagai bintang penunjuk tetapi juga sebagai sebuah realitas yang membumi. Melalui upaya-upaya pembumian yang masif, maka Pancasila akan menemukan jalan kebesarannya. Bung Karno pernah menyatakan bahwa tidak ada satupun Weltanschauung yang dapat menjadi realita atau kenyataan dengan sendirinya tanpa melalui jalan perjuangan.

Membumikan Pancasila berarti kita harus memaknai kembali nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai tersebut harus menjadi jiwa dari setiap penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik dari dimensi hukum, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Pemaknaan kembali ini akan bermuara pada terwujudnya janji kemerdekaan yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Janji kemerdakaan yang digambarkan oleh Bung Karno berada pada ujung jembatan emas. Pembumian yang masif akan mencegah munculnya paham-paham ekstrim yang mengancam persatuan kita.

Selain itu, Pancasila jangan hanya dimaknai sebagai instrumen pemersatu bangsa saja, akan tetapi lebih daripada itu. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus dipahami substansinya dan dijadikan sebagai sumber nilai dalam kehidupan berbangsa. Oleh karena itu penghayatan akan nilai-nilai tersebut harus terus menerus dilakukan sehingga muncul kesadaran bahwa Pancasila sebenarnya hadir dari nilai-nilai keberagaman kita. Hal ini akan mempererat rasa persatuan dan kesatuan kita. Setiap anak bangsa akan merasa bahwa Pancasila merupakan jawaban atas ancaman-ancaman terhadap kebhinekaan kita.

Pada akhirnya, mengutip perkataan Presiden ke-5 Republik Indonesia yaitu “Pancasila akan dinilai, ditimbang dan menemukan jalan kebesarannya melalui jejak-jejak tapak perjuangan. Perjuangan setiap pemimpina dan rakyat Indonesia sendiri. Perjuangan agar Pancasila bukan saja menjadi bintang penunjuk, tetapi menjadi kenyataan yang membumi“.

Immanuel Simbolon
Mahasiswa Jurusan Manajemen 2013
Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Pages 1 2