Membumikan Pancasila

(Dok. Istimewa)

(Dok. Istimewa)

Tanggal 1 Juni 1945 merupakan momentum bersejarah bagi banga Indonesia dalam perjuangan menuju kemerdekaannya. Dalam sidang Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Soekarno dengan sangat komprehensif menyampaikan pidatonya tentang gagasan dasar Negara Republik Indonesia atau yang kita kenal sebagai Pancasila. Pancasila yang lahir dari perjuangan panjang serta penggalian yang sedalam-dalamnya dari realitas keberagaman bangsa itulah yang akhirnya disepakati menjadi philosofische grondslag dari Indonesia merdeka. Hingga saat ini, Pancasila sebagai proyek kebangsaan dapat dikatakan berhasil menjaga eksistensi dan peran vitalnya sebagai pemersatu bangsa. Indonesia dengan keberagaman yang luar biasa, tetap dapat bersatu dan terhindar dari perpecahan karena Pancasila dapat melakukan perannya sebagai perekat sosial.

Namun, berkembangnya paham-paham fundamentalisme ekstrim yang muncul belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari hilangnya vitalitas Pancasila akibat kegamangan kita sebagai bangsa dalam menerjemahkan Pancasila. Kita pernah mengalami masa dimana Pancasila dijadikan alat oleh penguasa yang otoriter dalam melanggengkan kekuasaanya. Hal inilah yang menyebabkan Pancasila menjadi kurang populer dan tidak membumi di awal-awal reformasi. Pancasila sebagai dasar negara menjadi suatu hal yang mistik dan tabu untuk dibahas yang menyebabkan kita lupa bahwa Pancasila merupakan jiwa dan nafas dari perjalanan bangsa kita.

Tantangan Terhadap Pancasila

Perlu disadari bahwa ideologi-ideologi yang berkembang saat ini merupakan ancaman bagi proyek besar kita, Pancasila. Ideologi kita yang sebenarnya masih sangat relevan dalam menghadapi realitas kekinian ternyata mulai dilupakan oleh sejumlah komponen bangsa. Kebebasan berpendapat sebagai ekses dari demokrasi ternyata membawa dampak negatif, yaitu berkembangnya fundamentalisme ekstrim dan liberalisme ekstrim. Muncul pihak-pihak yang coba menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi-ideologi tersebut.

Munculnya fundamentalisme ekstrim harus disadari sebagai akibat kurang membuminya Pancasila. Hal ini terjadi karena Pancasila pernah digunakan sebagai alat kekuasaan dengan tidak bertanggung jawab. Penerapan asas tunggal Pancasila pada era orde baru menyebabkan terjadinya mistifikasi Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi kurang dipahami oleh masyarakat, sehingga muncul kelompok-kelompok yang anti-kebhinekaan yang memicu munculnya tindak kekerasan atas dasar agama di tengah-tengah masyarakat.

Perkembangan fundamentalisme ekstrim ternyata secara tidak langsung juga disebabkan oleh berkembangnya liberalisme di Indonesia. Liberalisme ekstrim ini menyebabkan Indonesia seperti kembali dalam keadaan terjajah. Ekonomi nasional dikuasai oleh pihak asing yang menyebabkan anak bangsa sulit bersaing. Sumber daya alam negeri ini dikuras habis oleh bangsa lain, sementara penduduk kita hanya bisa melihat. Akibatnya, muncul ketidakpercayaan sebagaian pihak terhadap ideologi Pancasila. Mereka merasa Pancasila hanya janji-janji manis belaka, sehingga mereka mencoba mencari ideologi baru yang dirasa dapat menghadang perkembangan liberalisme. Pilihan tersebut akhirnya jatuh pada fundamentalisme ekstrim.

Pages 1 2