Mahasiswa Undip Tanamkan Nilai Pancasila pada Anak melalui Mogamoram

(Dok, Istimewa)

(Dok, Istimewa)

Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling baik dalam pengembangan potensi diri. Pada masa ini, anak-anak memiliki kecenderungan untuk mencari tahu tentang berbagai hal yang ada disekitarnya. Dorongan keingintahuan untuk mengeksplorasi lingkungan dengan kemampuan akan mendorong kepekaan toleransi sosial. Pada usia tersebut mereka sangat menyukai hal-hal baru. Mereka juga cenderung meniru serta mencoba hal-hal yang mereka pelajari dari orang lain.

Kehidupan berbangsa dan bernegara juga menjadi masalah yang tak luput dari perhatian banyak orang. Moralitas bernegara dan sikap nasionalisme anak-anak usia sekolah mulai menurun. Begitu juga dengan anak-anak di Panti Asuhan Mustamil Furqon Kelurahan Rowosari yang belum banyak menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, wawasan tentang kenegaraan bagi anak-anak disana kurang diperhatikan. Hal tersebut bisa disebabkan oleh kurangnya pendidikan serta penanaman nilai-nilai Pancasila, nasionalisme, dan wawasan kebangsaan

Oleh karena itu, lima mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip menggagas Gerakan Penanaman Nilai-Nilai Pancasila, Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan Berbasis Mogamoram (Modul, Games, Movie, and Drama) pada anak-anak Panti Asuhan Mustamil Furqon. Kelima mahasiswa tersebut adalah Nawangsih Sekarwidhi, Pradita Tyas Putri, Endry Chrisnurlenawati, Wanda Sigit Setiawan, dan Rizky Rahma Putri.

Program ini memiliki 4 metode pelaksanaan, yaitu melalui modul, permainan, film, dan drama. Penanaman nilai-nilai pancasila, nasionalisme, dan wawasan kebangsaan dilakukan sebanyak 7 hingga 8 kali pertemuan. Melalui modul anak-anak diberi pembelajaran mengenai teori-teori dan konsep dari Pancasila, nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Modul merupakan pedoman untuk proses pembelajaran. Kemudian, anak-anak diberikan pembelajaran melalui permainan yang memiliki esensi dari teori atau konsep yang telah diajarkan dengan menyenangkan. Melalui diskusi dan pemutaran film yang bertemakan nasionalisme, anak-anak diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai yang telah diajarkan dan menumbuhkan rasa nasionalisme. Selain itu, anak-anak juga membuat drama dari hal-hal yang telah dipelajari.

Rizky Rahma Putri
Mahsiswa Jurusan Pertanahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik