MAHASISWA UNDIP CIPTAKAN ALAT PENGUBAH SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK

(Dok.Istimewa)

Mengangkat permasalahn utama di Desa Getas, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal di bidang pengolahan sampah plastik, mahasiswa KKN Undip Tim I menciptakan alat pengubah limbah tersebut sebagai bahan bakar

Menurut hasil survei yang telah dilakukan melalui wawancara dan pengamatan langsung kepada masyarakat, pengolahan sampah-sampah plastik masih sebatas proses pembakaran. Sementara itu, kebiasan membakar sampah plastik ini jika dilakukan secara terus menerus akan berdampak buruk bagi kesehatan serta lingkungan.

Atas dasar permasalahan tersebut mahasiswa Undip jurusan Teknik Mesin, Muhammad Rifqy Fadhilla mencoba untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan pembuatan alat pengubah sampah plastik menjadi minyak tanah. Bahan-bahan yang di gunakan untuk membuat alat ini adalah panci, pipa besi berbentuk L, selang plastik dan kompor pemanas. Bagian dari panci ini di lubangi kemudian disambungkan dengan pipa L. Pipa ini dibuat panjang agar fraksi plastik yang menguap bisa terkondensasi dan mencair menjadi minyak tanah, kemudian bagian ujung pipa di beri penampung.

Cara kerjanya juga sangat sederhana, sampah plastik dibersihkan dari kotoran kemudian di cuci dan dikeringkan. Plastik dimasukkan kedalam panci sampai penuh dan dipadatkan kemudian ditutup rapat, setiap sisinya di lem untuk menghindari terjadinya kebocoran, jika perlu diberi seal dari karet. Satu panci dapat menampung 3 kg sampah plastik. Bagian bawah panci dipanaskan dengan api sedang yang stabil. Pemanasan tetap dilakukan hingga minyak menetes dari ujung pipa. Minyak tersebutlah yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Masyarakat dan perangkat Desa Getas sangat sangat mendukung dan terbantu dengan adanya pembuatan alat ini sebagai salah satu solusi alternatif dalam melakukan pengolahan sampah plastik yang ada di desa tersebut. Mereka berencana untuk mengembangkan alat ini sehingga hasil BBM yang di peroleh bisa lebih bagus serta memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

 

Woro Indriani Setyo Tri Astuti

Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia

Universitas Diponegoro