Mahasiswa Teknik Kimia Undip Kembangkan Biokerosin dari Minyak Kotor

(Dok. Istimewa)

 

ManunggalCybernews—Dewasa ini, kebutuhan akan ketersediaan bahan bakar minyak semakin tinggi untuk masyarakat luas. Bahan bakar yang digunakan merupakan hasil dari pengololahan minyak bumi, yang mana ketersediaannya di alam lambat laun semakin habis. Pemenuhan kebutuhan bahan bakar ini diupayakan dengan pengembangan bahan bakar alternatif berbasis biomassa. Namun, upaya ini belum banyak dilakukan dan hasilnya pun belum memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat secara maksimal.

Penggunaan bahan bakar paling banyak digunakan di sektor transportasi, akan tetapi pengembangannya di sektor transportasi udara belum banyak. Hal inilah yang membuat mahasiswa dari Teknik Kimia Undip untuk mengembangkan bahan bakar penerbangan. “Biokerosin merupakan bahan bakar pengganti kerosin yang dapat digunakan sebagai bahan bakar penerbangan (avtur). Sektor transportasi udara sangat bergantung pada bahan bakar hidrogen cair dibanding sektor lainnya, sehingga produksi kerosin berbasis biomassa sangat dibutuhkan,” ujar Aditya Widiyadi.

Tim yang beranggotakan Aditya Widiyadi, Gema Adil G, Rikky Adreanto, Jefry Riady, dan Safina Dea C ini akan berkompetisi dalam ajang Pimnas ke 30 di Makassar. Tim tersebut mengembangkan bahan bakar penerbangan berbasis biomassa dengan optimasi proses hydrocracking dalam pembuatan biokerosin menggunakan katalis NiMO/ Al2O3 dengan memanfaatkan minyak kotor (MIKO).

Menuurt Aditya, minyak kotor merupakan limbah pengolahan kelapa sawit, digunakan karena selain untuk menjaga kebersihan lingkungan juga dikarenakan memiliki potensi yang besar dikembangkan. “Melalui proses hydrocracking yang biasanya dilakukan di kilang-kilang penyulingan minyak bumi untuk memurnikan minyak mentah sehingga diperoleh bahan yang lebih bernilai seperti bensin, solar, dan kerosin dan kami menfokuskan pada produk kerosin (avtur),” jelas Aditya.

Dalam penelitiannya, tim ini membuat alat hydrocracking sendiri namun membutuhkan suhu hingga 600˚C dan tekanan 50 atmosfer. Oleh karena itu penelitian ini memakan waktu yang cukup lama yaitu kurang lebih enam bulan. Aditya juga menambahkan sebenarnya produk hasil penelitiannya dan tim belum dapat digunakan oleh masyarakat luas. “Produk yang dihasilkan masih berupa campuran dari bensin, solar, dan kerosin sehingga untuk dapat digunakan dibutuhkan proses pemisahan dan pemurnian lebih lanjut,” jelas Aditya.

Meskipun begitu, tambah Aditya, penelitian lanjutan akan dilakukan. “Besar harapan agar produk hasil penelitian ini dapat digunakan oleh masyarakat umum dan dikomersialkan,” ujarnya. Walaupun produk biokerosin yang diharapkan belum didapatkan secara sempurna, tetapi penelitian PKM tersebut sudah dipublikasi dan dalam proses pengajuan di jurnal internasional, sehingga dapat menjadi suatu rujukan dan referensi penelitian. (Nanik/Manunggal)