Mahasiswa, Media Sosial dan Hutang Budi

Senang rasanya ketika melihat timeline pada sebuah akun media sosial dipakai untuk kegiatan yang bernuansa positif. Mahasiswa, dengan segala julukannya, sudah sangat cerdas dalam memanfaatkan kelebihan media sosial. Media sosial adalah platform bagi mahasiswa untuk mengubah cara berkomunikasi. Menurut Saxena, 2014, yang ditulis dalam buku Media Sosial karya Rulli Nasrullah, disebutkan bahwa media sosial adalah media yang paling populer.

Keberadaan media sosial sebagai sebuah platform memungkinkan anggotanya untuk berinteraksi satu sama lain. Interaksi yang terjadi tidak hanya dilakukan melalui pesan teks, tetapi juga melalui foto dan video yang mungkin menarik perhatian pengguna lain. Semua posting (publikasi) merupakan real time, serta memungkinkan anggota untuk berbagi informasi seperti apa yang sedang terjadi.

Kita bisa melihat bahwa popularitas media sosial berlangsung silih berganti dalam kurun waktu enam tahun belakangan. Pada tahun 2009, kita mengenal WhatsApp. Lalu, pada tahun 2010, kita mengenal Path, Instagram, dan Ask.FM. Beranjak ke tahun 2013, kita mengenal Snapchat. Pada tahun 2015, media sosial yang populer digunakan adalah LINE. Alasan mengapa LINE banyak digunakan adalah karena LINE mempunyai lebih dari satu kategori sebagai media sosial. Kategori yang terdapat pada LINE antara lain sebagai media jejaring sosial (social networking), mikroblog (microblogging), media berbagi (media sharing) dan penanda sosial (social bookmarking).

Seperti yang telah dijelaskan oleh Saxena dalam buku Rulli Nasrullah, interaksi tidak terjadi hanya pada pesan teks saja, tetapi juga foto, video, dan kemudahan dalam menggunakan media sosial tersebut. Manusia pasti mengalami titik kebosanan sehingga media sosial juga perlu memperbarui layanannya sesuai dengan kebutuhan manusia.

Salah satu kalangan yang menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi adalah mahasiswa. Hampir semua mahasiswa menggunakan media sosial, khususnya LINE. Saya melakukan percobaan pada kelas sebuah mata kuliah. Dalam satu kelas yang isinya 45 orang, ternyata semua dari mahasiswa kelas tersebut menggunakan LINE. Mengapa dalam satu kelas kesemua mahasiswanya menggunakan LINE? Ternyata, salah satu alasannya karena LINE memberikan fasilitas grup yang bisa dimanfaatkan oleh semua mahasiswa kelas tersebut. Selain itu, LINE tidak hanya digunakan untuk membuat grup kelas saja, melainkan digunakan untuk mempublikasikan opini-opini kita baik tentang politik, ekonomi, sosial-budaya sampai dengan kegiatan sehari-hari.

Jangan heran apabila banyak pengamat-pengamat politik dadakan bermunculan. Itu adalah sebuah bukti bahwa media sosial dapat meningkatkan kreativitas, kepekaan, dan jiwa kritis mahasiswa. Melalui media sosial, mahasiswa bisa mempublikasikan opininya kepada seluruh masyarakat dengan mudah. Penggunaan media sosial juga melewati dimensi ruang dan waktu sehingga kapanpun dan di manapun, sesuatu yang kita publikasikan melalui media sosial akan selalu terekam. Singkat cerita, mahasiswa akan lebih suka jika menggunakan media sosial yang mempunyai banyak kategori yang bisa dimanfaatkan.

Bagi mahasiswa, tak masalah menghabiskan berpuluh-puluh gigabytes untuk sebuah komunikasi yang efektif dan menyenangkan. Pemanfaatan media sosial yang sudah berkembang, yaitu bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga untuk kegiatan jual beli, berbagi info peristiwa terbaru, dan mempromosikan sebuah acara. Bahkan, membagikan opini dalam bentuk tulisan ternyata menimbulkan sebuah konsekuensi budaya. Nilai-nilai kehidupan akan muncul dalam media sosial, entah dalam bentuk yang sama atau berbeda.

Banyak pengaruh yang bisa dibawa ke dalam media sosial dalam mempengaruhi nilai-nilai kehidupan. Misalnya saja, pengguna media sosial sering mempublikasikan tentang kegiatan sehari-hari seperti bad mood, baper (bawa perasaan), curhat (curahan hati), sampai dengan kata-kata bijak. Hal seperti itu tentu akan berpengaruh kepada pengguna lainnya. Orang yang membaca publikasi tersebut akan menganggap bahwa pemilik publikasi tidak mempunyai semangat hidup, sedikit lebay, dan terlalu membuka privasi.

Akan tetapi, situasi berbeda akan dialami oleh orang yang menggunakan media sosial sebagai media publikasi opini-opini terhadap politik di Indonesia. Orang yang membacanya kemungkinan besar akan tertarik untuk terus membaca tulisannya, bahkan mencoba untuk menuliskan opininya masing-masing sehingga jiwa kritis dan solutif terhadap suatu permasalahan yang ada dapat ditingkatkan.

Banyak manfaat yang bisa kita ambil dengan keberadaan media sosial. Kesenjangan antara pemerintah dan rakyat pun dapat diatasi dengan media sosial, seolah-olah tak ada lagi jarak di antara keduanya. Penulis berpandangan bahwa dalam penggunaan media sosial, tidak ada lagi jarak, yang ada hanyalah ruang dan waktu.

“…dalam penggunaan media sosial, tidak ada lagi jarak, yang ada hanyalah ruang dan waktu.”

Bagaimanapun, khususnya sebagai mahasiswa, kita harus mensyukuri kehadiran media sosial. Mahasiswa berhutang budi pada media sosial karena telah memfasilitasi apa yang mereka perlukan, mulai dari hal-hal yang bersifat santai sampai hal-hal yang menjadikan mahasiswa tersebut populer di kalangannya. Tetapi, tak hanya mahasiswa saja yang berhutang budi pada media sosial. Masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah pun sangat berhutang budi. Bahkan, Presiden Joko Widodo bisa dikatakan berhutang budi pada media sosial yang berhasil menaikan popularitasnya di mata masyarakat sehingga bisa mengantarkan Joko Widodo dari Walikota Surakarta menjadi RI-1.

Cuher Santoso
Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik