Mahasiswa FKM Ciptakan Pelepah Pisang Bernilai Ekonomis

Tim PKM-M dari FKM memperkenalkan Saculisang pada masyarakat. (Dok. Pribadi)

Tim PKM-M dari FKM memperkenalkan Saculisang pada masyarakat. (Dok. Pribadi)

ManunggalCybernews–Desa Gedangan merupakan desa yang identik dengan pisang. Tidak tangung-tanggung, desa yang terletak di Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara ini mendapat predikat sebagai daerah pertanian penghasil pisang terbaik se-Jawa Tengah. Sebagai tanaman yang relatif mudah ditanam, berbagai jenis pisang tersebar merata di seluruh kecamatan ini. Namun, masyarakat Desa Gedangan hanya memanfaatkan buah dan daun pisang. Mereka belum bisa memanfaatkan batang pisang, sehingga dibuang begitu saja.

Limbah batang pisang yang melimpah di Desa Gedangan ini akhirnya membuat lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip, yaitu Umi Ardiningsih, Kinanti Fajar, Hamas Musyaddad, Rozzaq A Islamudin, dan Laelatul Hikmah, menciptakan terobosan baru yang diberi nama Saculisang.

Saculisang adalah akronim dari Sabun cuci limbah pelepah pisang, yaitu produk sabun cuci piring yang inovatif dengan mengambil pelepah pisang sebagai bahan antiseptiknya. Produk ini merupakan salah satu Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) yang akan berlaga dalam Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) ke-28 pada Oktober mendatang.

Proses pembuatan Saculisang dimulai dengan memotong pelepah pisang, kemudian dibersihkan, dan diambil bagian gabusnya. Bagian gabus yang telah dipotong kecil-kecil tersebut, dihaluskan menggunakan juicer, dan diambil sari-sarinya. Getah pisang yang ada dipisahkan dengan kandungan airnya menggunakan emulsifier sehingga sampah-sampahnya terapung ke atas. Sampah-sampah tersebut kemudian disaring. Setelah disaring, langkah selanjutnya adalah sterilisasi dengan menggunakan autoclave, lalu ditambahkan sabun. Setelah semuanya siap, pengemasan produk pun dilakukan.

Ketua Tim PKM-M, Umi Ardiningsih menjelaskan beberapa kendala selama proses produksi Saculisang. “Kita belum punya alat sterilisasi (autoclave) sendiri, masih terbatas skala laboratorium, jadi proses produksi butuh waktu lama. Bahan produksi juga kita ambil dari Jepara, jadinya jauh,” ujar Umi.

Lebih lanjut, Umi mengungkapkan bahwa dana dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) sempat terlambat turun, sehingga turut menghambat jalannya produksi.

Umi berharap, produk Saculisang tidak hanya dikembangkan di Desa Gedangan saja, melainkan juga di seluruh tempat, sehingga bisa mengangkat perekonomian Indonesia.

“Semoga produk Saculisang ini dapat diterima oleh masyarakat Indonesia,” kata Umi. (Lilis, Ayu/Manunggal)