Mahasiswa FKM Bentuk Pasukan Gendis Kejora

TIim Gendis Kejora berfoto bersama siswi SMA yang telah diberi pengetahuan pentingnya kesehatan reproduksi. (Dok. Pribadi)

TIim Gendis Kejora berfoto bersama siswi SMA yang telah diberi pengetahuan pentingnya kesehatan reproduksi. (Dok. Pribadi)

ManunggalCybernews – Usia pernikahan dini di Indonesia tergolong tinggi, jika dibandingkan dengan negara lain. Alhasil, Indonesia menempati urutan ke-37 dunia. Tingginya usia pernikahan dini tentunya harus ditekan.

Remaja yang terseret dalam pernikahan dini harusnya sadar bahwa rumah tangga bukanlah suatu barang gampang. Banyak hal yang harus diperhatikan, kematangan organ reproduksi juga menjadi hal yang perlu ditilik lebih intens.

Di masa mudanya, remaja mengalami pertumbuhan fisik, termasuk di dalamnya yaitu pertumbuhan organ-organ reproduksi untuk menuju kematangan fungsi reproduksi. Apabila diabaikan, masalah kesehatan reproduksi akan berdampak buruk, yang juga berpengaruh pada kesehatan mental dan emosi.

Remaja seharusnya menggunakan masa mudanya untuk berkreativitas dan berinovasi seproduktif mungkin, sehingga tidak terlingkar dalam pernikahan dini. Oleh karena itu, tercetuslah ide dari empat mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro, yaitu Shofia Aji Hidayatillah, Devi Priantika, Devita Melinda N, dan Agung Prabowo untuk menyadarkan remaja mengenai pentingnya kesehatan reproduksi melalui Pasukan Gendis Kejora.

Gendis Kejora merupakan akronim dari Gerakan anak gadis sadar kesehatan reproduksi remaja. Gendis kejora tertuang dalam sebuah Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) dengan judul “Pasukan Gendis Kejora Pemutus Mata Rantai Pre-marital Seks Berbasis Pemberdayaan Remaja”. PKM tersebut akan berlaga dalam Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) ke-28 pada Oktober mendatang.

Dalam praktik pengabdiannya, Tim PKM-M Gendis Kejora mendidik dan membimbing 30 siswi di SMA NU Al-Ma’ruf Kudus pada bulan Maret sampai Mei 2015 dengan metode peer educator dan peer counselor yang lebih menekankan pada pendekatan persuasif serta pengajaran sesama teman sebaya. Materi yang disampaikan bertujuan agar remaja putri paham betul tentang pentingnya pengetahuan kesehatan reproduksi remaja.

Selain itu, mereka juga mendapatkan promosi kesehatan dalam bentuk modul kespro, kalender menstruasi, serta stiker yang berisi informasi seputar kesehatan.

Tiga puluh siswi bimbingan Gendis Kejora diharapkan mampu menyebarluaskan informasi yang telah didapatkan, sehingga semakin banyak remaja yang paham mengenai kesehatan reproduksi untuk memasuki usia matang pernikahan.

“Kita ingin mengikuti tujuan Millenium Development Goals (MDG) poin 4 dan 5, ingin mengurangi pernikahan dini,” tutur Shofia Aji H., selaku ketua tim.

Meski dituntut dua minggu sekali ke Kudus untuk pelaksanaan PKM-M Gendis Kejora, proses pengabdian tim yang dipimpin Shofia ini tetap berjalan dengan lancar. Niat mereka juga disambut baik oleh kepala sekolah tempat mereka melakukan pemberdayaan remaja terhadap 30 peserta didik di sana.

Tim Gendis Kejora juga bekerja sama dengan PKBI Semarang, karena kegiatan yang dilakukan PKBI tersebut memiliki kesinambungan dengan pengabdian yang sedang dilakukan, yakni seputar remaja dan kesehatan. (S.Nissa/Manunggal)